Selasa, 25 Juni 2013

Migikata (Bahu Kanan)




Tak seperti biasanya, Takamina hari ini cenderung kurang bersemangat. Konsentrasinya sering pecah disaat latihan kali ini. Dirinya yang menjadi kapten dan pemimpin bagi member lainnya merasa bersalah. Beberapa perintahnya kini sering diabaikan oleh member lain.
“Takamina, bagaimana kalau pada bagian ini tangan kita seperti ini?” usul Yuko sambil mengangkat tangannya dan menunjukkan jari telunjuknya ke atas.
Takamina hanya diam. Dia melamunkan sesuatu.
“Hey, Takamina.. Bagaimana?”
“Apa? Oh, iya. Kurasa itu bagus..” jawabnya tersendat-sendat.
Latihan kembali dimulai. Takamina yang biasanya bersemangat, hari ini tampak lemas. Tak terasa latihan selesai. Walau begitu, Takamina masih belum bisa mendapatkan dirinya kembali. Ia yang biasanya meminta waktu tambahan untuk latihan, kali ini pun pulang awal. Tak seperti biasanya, ia selalu meminta member lain untuk berlatih lagi walaupun waktu latihan telah usai. Hal itu sering ia lakukan agar performa mereka lebih bagus. Namun, hari ini ia justru pulang cepat. Member lain pun memiliki perasaan yang kurang enak karena itu. Mereka mulai berpikiran bahwa Takamina sedang ada masalah.
“Kenapa Takamina?” Tanya Mariko.
“Aku tidak tahu. Dia tidak seperti biasanya..” jawab Kojima.
“Sudah. Kita biarkan saja dia sendirian. Biarkan dia selesaikan masalahnya dulu. Kita lanjut latihan lagi!” ajak Yuko.
“Baiklah, ayo!” tambah Sayaka.
“Maaf, tapi aku mau pulang awal saja..” kata Acchan tiba-tiba.
“Apa? Kenapa? Apa kau puas dengan latihan tadi?” Tanya Yuko.
“Sebenarnya aku kurang puas. Tapi aku pikir Takamina lebih membutuhkanku..” jawabnya tersenyum lalu meninggalkan ruang latihan itu.
“Acchan..” batin Tomochin.
Acchan keluar dari ruang latihan dan pergi untuk menyusul Takamina.
“Kalau begitu, Acchan pergi. Dia lebih mengenal Takamina dari pada kita. Ayo kita lanjutkan latihan ini..” ucap Mariko. Tomochin, Miichan dan Kojima tersenyum mendengar itu. Mereka member generasi pertama memiliki ikatan batin yang kuat.
Mereka lantas kembali berlatih. Lagu demi lagu mereka latih. Baik blocking, koreo, dan lainnya. Tak hanya itu, seperti biasa, mereka juga saling membenarkan satu sama lain jika ada yang melakukan kesalahan. Sementara itu..
“Kau selalu ada saat aku membutuhkan seseorang. Aku mengerti bagaimana perasaanmu sekarang. Kau pasti sedang dalam masalah..” pikir Acchan sambil berjalan menuju stasiun.
Di stasiun, ia melihat Takamina sedang duduk sendirian di sebuah kursi panjang. Wajahnya menunduk kebawah dan terlihat sedih. Acchan lantas pergi membeli dua botol minuman segar di dekat sana.
“Ini, minumlah..” kata Acchan sambil memberikan sebotol minuman segar.
“Acchan..” ucap Takamina lirih lalu menerima minuman itu.
Mereka meminum minuman itu bersama. Acchan melihat sorot mata Takamina yang sedang dalam kesedihan. Ia tahu, cahaya semangat yang biasanya ada di mata Takamina, kali ini tidak terlihat. Mimik muka Takamina pun berbeda dari biasanya. Acchan sangat mengenalnya, lebih dari yang lain.
“Kau sedang dalam masalah?” Acchan membuka pembicaraan.
“Tidak..” kata Takamina singkat.
“Jangan berbohong. Aku sudah bersamamu lebih dari 6 tahun. Aku sangat mengenalmu..”
“Sepertinya aku memang tidak bisa berbohong kepadamu..”
“Iya.. Begitu juga aku..”
Takamina lalu menatap Acchan setelah ia mengatakan hal itu. Ya, Takamina memang orang yang paling memahami Acchan. Begitu juga sebaliknya. Saling berbohong satu sama lain rasanya tidak mungkin.
“Sebenarnya, ibuku sedang sakit. Dan dirumah tidak ada yang merawatnya. Karena itulah pikiranku kacau. Aku bingung antara mengutamakan kesehatan ibuku atau fokus pada rutinitasku di AKB48..” jelas Takamina pelan.
“Kenapa kau tidak meminta dokter atau perawat untuk menjaganya?”
“Sudah beberapa kali aku usul seperti itu, namun ibuku menolak. Simpan saja uang itu untuk masa depanku nanti, katanya..”
“Hmm..” Acchan ikut merasakan kesedihan itu.
“Aku berpikiran, apa aku lebih baik lulus dari AKB48 dan menjaga ibuku.. Tapi di AKB48 aku memiliki mimpiku. Dan disana aku bisa menjadi diriku. Namun, tidak kali ini..”
“Sama denganmu, aku sudah puluhan kali berpikiran untuk lulus dari AKB48..”
“Apa? Mengapa?”
“Sebenarnya, aku tidak pernah berpikiran menjadi idola dari kecil..” kata Acchan tersenyum.
“Acchan..” lirih Takamina.
“Kadang mendapatkan posisi center justru memberikan tekanan kepadaku. Banyak mata tertuju padaku, sedangkan aku merasa bahwa diriku kurang pantas mendapat posisi itu..”
“Tapi kau memang center kami. Dan dibelakangmu, kami percaya kepadamu..”
“Hehe.. Takamina, itulah bebanku sebagai seorang center. Orang-orang dibelakangku percaya padaku, tapi aku sendiri kadang tidak percaya diri. Apa aku bisa? Apa aku mampu berada di depan yang lainnya? Pertanyaan seperti itu sering aku pikirkan setiap sebelum tampil..” jelas Acchan.
“Kau mengingatkanku kepada kata-kata Akimoto sensei saat itu.. Saat kita tampil buruk di hari pertama di Seibu Dome. Ketika itu Akimoto sensei berkata padaku, pertama-tama setiap member harus menyelesaikan masalah pribadinya terlebih dahulu. Karena itu, aku mencoba menyelesaikannya.. Dan aku berhasil..” kata Takamina.
“Kalau begitu, mengapa sekarang kau tidak melakukan hal yang sama?”
“Maksudmu?”
“Ya, seperti kata Akimoto sensei.. Kau harus menyelesaikan masalah pribadimu terlebih dahulu..”
“Benar juga.. Aku harus menyelesaikan masalah ini. Aku tidak ingin membuat yang lainnya khawatir karena aku.. Kalau begitu, aku akan pulang ke rumah dan merawat ibuku..”
“Ini baru Takamina yang aku kenal selama ini. Aku akan ikut denganmu..”
“Apa?”
“Ya, aku akan menginap dirumahmu dan ikut merawat ibumu. Boleh kan?”
“Terima kasih, Acchan..”
Lalu mereka naik kereta dan pulang ke rumah Takamina. Sesampainya disana, Takamina langsung menjaga dan merawat ibunya. Begitu pula Acchan. Mereka membuatkan makanan, minuman, dan menyiapkan obat untuk ibu Takamina. Meski bukan ibu kandung Acchan, tapi ia sudah cukup dekat dengan ibu Takamina karena ia juga sering bermain ke rumah Takamina sepulang latihan.
•●•
Tak terasa hari baru tiba. Takamina bangun dan kaget karena ibunya sudah tidak ada di kasur kamarnya. Semalaman ia menjaganya, namun pagi sekali seperti ini, ibunya sudah tidak ada. Ia keluar membangunkan Acchan dan mencari ibunya. Ternyata ibunya sudah berada di halaman rumahnya. Ibunya sudah menyirami bunga-bunga di halaman. Takamina senang melihat hal itu. Setelah beberapa hari taman bunga itu tidak terawat, kini ibunya sudah bisa kembali merawat bunga-bunga indah itu.
“Ibu.. Apa ibu sudah sehat?” Teriak Takamina dari depan pintu.
“Iya, ibu sekarang sudah sehat. Terima kasih..” jawab ibunya.
Takamina menitikkan sedikit air mata. Ia sangat senang ibunya bisa kembali sehat. Acchan yang melihat itu lalu memberikan bahu kanannya untuk tempat bersandar Takamina. Ia tahu, Takamina kini telah kembali. Raut sedih sudah hilang dari mukanya, cahaya semangat di matanya telah kembali.
“Takamina, ayo kita bersiap-siap dan berlatih!” ajak Acchan.
“Baiklah!” ucap Takamina semangat.
Setelah mandi dan selesai semua persiapannya, mereka berangkat ke Akihabara untuk kembali berlatih. Hari ini mereka memiliki jadwal pertunjukkan theater, karena itu mereka tidak boleh terlambat.
Dan sampailah mereka di tempat latihan. Member lain sudah menunggu mereka berdua.
“Aku, Takahashi Minami minta maaf kepada kalian semua karena kejadian kemarin. Aku memiliki sedikit masalah pribadi, karena itu kemarin aku tidak bisa konsentrasi saat latihan. Maaf telah membuat kalian semua khawatir. Tapi hari ini, aku telah kembali seperti biasanya. Masalahku sudah terselesaikan. Karena itu, mohon bimbingannya!” jelas Takamina. Acchan yang berdiri di sampingnya bahagia mendengarkan hal itu.
“Takamina..” batin Mariko. Tomochin, Miichan, Kojima dan semua yang berada di ruangan itu pun senang. Mereka mendapatkan pemimpin mereka kembali.
“Kalau begitu, ayo kita kembali berlatih. Jangan buang waktu, kapten!” kata Yuko.
“Ya!” ucap Takamina semangat.
Mereka berlatih. Kali ini Takamina berlatih dengan penuh semangat. Semangat yang dipancarkan Takamina dirasakan oleh member lain dan memberikan pengaruh baik kepada lainnya.
•●•

“Mari kita berikan penampilan terbaik kita. Meski ini hanya theater biasa, dan penontonnya tidak banyak seperti saat kita tampil dalam konser, tapi kita harus memberi mereka kepuasan. Buat mereka bahagia karena melihat kita. Di tempat inilah AKB48 lahir. Maka dari itu, di tempat suci ini jangan buat mereka kecewa..” jelas Takamina.
“AKB…. 48!” teriak mereka bersamaan.
Theater dimulai. Overture sudah berbunyi. Suara chant dari fans yang memenuhi ruang theater itu pun terdengar keras sampai di backstage. Tak lama kemudian mereka tampil. Lagu demi lagu mereka bawakan, sampai lagu terakhir. Dan tak terasa, theater telah usai. Kini saatnya sesi hi-touch.
“Takamina, walau kau dalam masalah, jalan keluar pasti ada..” kata salah seorang fans kepada Takamina disela hi-touch. Acchan yang berada disamping Takamina juga mendengar itu, dan ia hanya tersenyum.
“Terima kasih!” kata Takamina kepada fans itu sambil tersenyum bahagia.
Tak lama setelah itu, mereka semua pulang. Hari ini seperti kemarin, Acchan pulang bersama Takamina. Di dalam kereta, Acchan terlihat mengantuk. Acchan lalu menyandarkan kepalanya di bahu kanan Takamina. Takamina mengetahui hal itu dan membiarkannya. Bagi Takamina, hal itu sudahlah biasa. Acchan selalu melakukannya setiap ia merasa tidak nyaman. Begitupun Takamina. Bagi keduanya, saling bersandar di bahu mereka satu sama lain merupakan kenyamanan tersendiri. Kehangatan itu terasa indah.
“Acchan.. Kau pasti lelah karena kemarin telah merawat ibuku dan hari ini kau tampil sangat bagus di theater.. Kau hebat.. Terima kasih..” batin Takamina sambil tersenyum kecil.


Aku mengistirahatkan bahuku, di bahu kananmu..
Sedikit menyandarkannya dengan lembut..
Rasanya semua kecemasanku menghilang..
Dan aku penuh dengan kebahagiaan..
Terkadang aku mengistirahatkan hatiku, di bahu kananmu..
Walaupun aku merasa cemas..
Aku selalu bisa nyaman setiap saat dengan kehangatanmu..
Hingga kini kita berdua tampak masih berjalan bersama..
Begitu indah..
~ END ~


Tidak ada komentar:

Posting Komentar