Sabtu, 10 Agustus 2013

Langit Malam


A5Ut9k7CYAAtNYW
Namaku Erhil. Sejak kepergianku dari Makassar, aku sudah bisa beradaptasi dan mulai senang bergaul dengan teman-temanku di Bandung ini. Sewaktu di Makassar, aku orangnya jarang bergaul atau bisa dibilang pendiam dan lebih suka sendiri. Disekolah, aku bisa dikatakan siswa yang pandai sampai-sampai Saya direkomendasikan ikut PERTUKARAN PELAJAR antar pulau. Aku ikut karena memang keinginanku ingin belajar dikota-kota besar, dan aku direkomendasikan ke salah satu sekolah negeri yang ada di kota Bandung.
“Rhil, Ke Bosscha yuk..” Panggil Handy yang langsung mengagetkanku
“Eh kemana? Bosscha? aku baru dengar nama itu” Jawabku sambil menenangkan jantungku yang dari tadi dibuat berdetak cepat oleh Handy.
“Heh kamu udah sebulan disini tapi blum tau Bosscha Observatory?” Tanya temanku yang satu lagi.
“Iya iya, emang mau kesana kapan?” tanyaku yang penasaran
“Sekarang. Bosscha itu tempat peneropongan bintang tertua di Indonesia” Kata Handy yang lagi-lagi mengagetkanku.
“Oh ya? Oke oke.. ayo pergi…”
—Di Bosscha—
“Wuih ndy… knapa nggak bilang dari dulu kalau ada tempat kayak begini? Kan kamu tau klo aku suka liat bintang” kataku dengan perasaan kagum akan tempat ini. Sungguh memang aku baru kali ini melihat tempat peneropongan bintang.
Saat kami sedang asik-asiknya melihat dan berkeliling ditempat itu, aku melihat seorang cewe yang sebaya denganku, penampilannya memang agak tomboy dari cewek yang biasanya. Dengan muka jutek, dia berkeliling bersama temannya.
“Jarang-jarang ada cewek yang datang ketempat seperti ini” Kataku dalam hati.
Tapi aku menghiraukannya dan tetap santai bersama teman-teman yang lain.
“Ndy, temani aku jalan-jalan cari teleskop besok yah” panggilku ke Handy dengan muka jutek entah karena liat cewek tadi itu, moodku langsung berubah. Ya, ini gara-gara segerombolan perempuan yg lewat disampingku sambil berbicara serampangan dan menabrakku entah dengan sengaja atau tidak
“Wuidihh yang suka liat bintang. Wkwkwk okedeh besok saya temani.” jawab Handy dengan sok
—Keesokan harinya—
Aku yang udah berkeliling-keliling mencari teleskop yang cocok untukku akhirnya ketemu.
“Erhil… coba liat tuh cewek… itu cewek yang kemarin ya kayaknya, yang judes itu” Panggil handy dari arah belakang sambil membisiki telingaku
“Oh iya, itu cewek kemarin yang aku lihat, rupanya Handy juga melihat dia kemarin” Kataku dalam hati.
“Iya bener ndy, aku juga kurang suka dengan cewek itu”
Entah kenapa aku kurang suka dengan cewek itu dan tidak tau juga apakah dia juga kurang suka denganku. Aku melanjutkan mencari teleskop dan akhirnya dapat. Rencananya, malam ini aku dan teman-teman mau ke bukit untuk menikmati keindahan langit malam diatas kota bandung ini.
———-Malam harinya——–
“Cakep ndy… langit malam di kota bandung emang mantep…” Kataku sambil melihat langit…
“Pasti donk Rhil.. Ini spot yang sangat cocok untuk melihat bintang…” kata Handy
Di spot ini, memang hanya kelompok kami yang datang, tapi tidak berselang waktu lama, kemudian cewek yang aku jumpai di Bosscha itu datang lagi secara tidak sengaja bersama teman-temannya dengan bekal untuk melihat bintang-bintang juga
Aku mulai risih dengan kedatangan mereka-mereka ditempat ini. Kembali lagi moodku jadi berkurang karena cewek itu. Kemudian dengan bermodalkan wajah marah aku datangi cewek itu dan teman-temannya yang sedang asik melihat bintang-bintang juga.
“Kamu kenapa sih selalu datang dimana saya berada?” Gertakku dengan wajah marah agar mereka ketakutan. Hasilnya teman-teman dari cewek itu kemudian takut tapi berbeda dengan cewek itu, dia malah menantangku
“Aku selalu mengikuti kamu dimana kamu berada? Buktinya aku tidak ada kalau kamu dirumahmu. Trus apa urusannya kalau aku datang kesini, ketempat pembelian teleskop dan ke Bosscha? Memangnya ada larangan? Kamu nggak usah marah donk.” Jawab Dia dengan muka marah juga
Aku kehabisan kata-kata dan berjalan memutar arah ke teman-temanku yang dari tadi melihat percakapanku dengan cewek itu. Aku melanjutkan penelusuran langitku bersama teman-temanku. Aku Hiraukan cewek itu bersama dengan kelompoknya. Nampaknya mereka hanya bermain seperti anak-anak dan melempar-lempar batu ke bawah.
Tanpa sengaja, batu yang cewek lempar itu tepat mengenai Teleskop yang baru aku beli siang ini dan membuatnya agak lecet sedikit. Spontan saja aku sangat marah dengan mereka dan kembali berdebat dengan cewek itu. Cewek itu kemudian meminta maaf kepadaku tetapi aku tidak mendengarkannya dan kembali memarahi mereka yang bergaya terlalu kekakanak-kanakan.
“Sudah Rhil… Tenangkan dirimu.. Kamu kesini kan ingin Menikmati langit malam. Lagian, teleskopmu cuman lecet sedikit kok. Ayahmu pasti tidak mengetahuinya” Kata Handy yang berusaha menenangkanku.
“Oke. Kalian berdua baikan aja yah… kita nikmati langit malam bersama-sama. Gimana?” Kata handy lagi yang mengeraskan suaranya agak teman-teman yang lain mendengarnya.
“SETUJU… Sudah Baikan aja Rhil… Nggak ada untungnya juga kamu marahin dia… Iya Baikan” Sorak semua Teman-temanku yang berusaha menenangkanku.
Dengan keadaan terpaksa. Kemudian aku menjulurkan tanganku seperti orang yang ingin berbaikan kembali. Kemudian cewek itu menjabat tanganku sebagai tanda kita berbaikan…
Setelah itu aku tidak tau apa rencana dari Handy, kemudian kita disuruh untuk duduk berjajar dengan posisi aku dan cewek itu berdekatan.
“Maaf kalau selama ini kamu tidak suka dengan aku. Aku juga sebenarnya kurang suka dengan kamu, karena melihat dari penampilanmu, kamu itu sok jagoan. Oh iya kenalkan, aku Beby. Aku suka melihat bintang-bintang bersama teman-temanku disini” Kata cewek itu yang rupanya bernama Beby.
Kemudian ia curhat kenapa dia bisa suka dengan teleskop, kenapa dia suka dengan bintang dan lain lain itu karena orang tuanya hobi meneliti angkasa luar dan orang tuanya telah meninggalkan dia sendiri bersama dengan neneknya. Spontan saja dia mengeluarkan air mata sambil tertunduk agar kami semua tidak melihat muka sedihnya.
“Saya juga minta maaf yah Beb kalau selama ini aku sinis terhadapmu.. aku turut bersedih mendengar ceritamu” Jawab aku sambil mengusap air mata yang jatuh dipipinya.
“Heh tau nggak, kalau kamu sedih begini kamu jelek loh… Aku lebih suka lihat kamu tersenyum.. sudah jangan menangis lagi yah… nanti orang tuamu marah loh kalau lihat anaknya sedih begini saat melihat langit malam” Kataku yang berusaha menenangkannya…
“Trima kasih sudah mengerti perasaanku” Kata Beby kembali yang kemudian memelukku dan menangis sedih…
Akhirnya kami semua menikmati langit malam di kota bandung ini kembali.
~ END ~
Author : @chaerilriri

Ingin fanfict kalian dipost disini?
Kirim email ke : cerpen@jkt48fans.com
Subject : #JKT48Fanfict

Rabu, 07 Agustus 2013

A Smiling Sun, A Smiling Eyes, An Undying Faith (to Riskha Fairunissa)




“apa yang kulakukan disini brah?” aku bertanya pada diriku sendiri. Aku bertanya mengapa hanya aku yang salah gaul berada disini. Apa yang kulakukan? “ya kau berjanji untuk menjadi orang lain hari ini dan punya hobi, punya sesuatu yang kau senangi, punya sesuatu yang…” dan kata-kataku tidak berjalan mulus… dan kembali aku menapaki trotoar. Ketika jam menunjukkan pukul 12.00 malam dan tak ada yang bisa kulakukan sembari memandangi pintu mall yang menutup dan kerumunan yang menipis.

Tetapi apa yang bisa kau harapkan? Aku tidak punya hobi, aku tidak punya sesuatu yang aku senangi. Aku hanyalah cangkang kosong. Aku hanyalah sesuatu yang dipakai dan dibuang ketika rusak, luka dan diganti ketika nafasku berhenti. Sebuah sekrup kecil disebuah mesin berwarna hijau dibalik topi baja.

Merapatkan tubuhku dibalik mantel hujan menahan angin dingin, mengelus tengkukku dengan telapak tangan yang kasar. Satu dua lima luka terasa. Setiap luka dihargai dengan sepotong logam dan sedikit uang. Sendirian, terkadang teman yang kumiliki hanya kesepian itu sendiri, dan tak terhitung teman yang aku kuburkan, dilepas dalam salvo atau terkubur entah dimana tanpa bisa diambil kembali. Aku sendirian.

Kali ini aku tegak sendirian, bermandikan hujan, lebih baik pulang. Aku tidak punya apapun, buat apa aku disini? Seketika aku merasa bulu tenkuk berdiri dan aku melirik ke sebelah kiri. Seorang gadis, mungkin menunggu taksi, sama denganku. Selama ia tidak menghunus pisau atau melempar granat, dia bukan urusanku.

“nothing gonna lasts forever even cold november rain….” Senandungnya disebelahku.

“the rain may not lasts forever, but the heinous cold shall stay.” Kataku…
Dan dua mata itu memandangku, belo, besar dengan pandangan penuh ingin tahu.

“hah? Maaf kak?”

“tidak ada, aku tahu lagu itu used to heard that when I was at your age.” Aku memandangnya, dibalik kacamata. “oh maaf, lancang sekali, tetapi aku heran masih ada yang mendengarkan lagu itu.”

“ooh, saya mah denger lagu apa aja. Ga peduli kayak apa, kalau bagus ya didenger.”

“termasuk lagu yang didengarkan oleh orangtuaku juga?” jawabku
Dia tersenyum dan matanya hilang! Seketika.. aku tidak tahu yang pasti, “waah kalau itu ga masalah kak, yang penting lagunya bagus kita dengar, ya kak ya?” jawabnya dengan nada polos… yang sangat lucu, and… damai.

“terserahmu, nyanyikan aku satu lagu lagi.”

“bayar kak!” jawabnya lincah.

Tanpa berpikir aku mengeluarkan dompet, “berapa satu lagu?”

“limapuluh ribuuu!” teriaknya sementara rintik hujan semakin deras.

“murah amat. Kenapa Cuma limapuluh ribu? Ini seratus ribu mau?” jawabku sembari melambaikan duit merah.

“yah si kakak serius amat. Biasanya orang bayar limapuluh ribu dengar aku nyanyi gitu kak!” jawabnya dengan nada labil.

“anak sekecil kamu udah nampil, nyanyi lagi? Dan orang-orang Cuma bayar limapuluh ribu?” tanyaku dengan nada tak percaya.

“bukan uang kak, tetapi hal yang lebih dari itu. Terkadang ada yang lebih dari itu, seperti cinta yang mereka sempatkan buat kami, aku yang menghibur mereka…”

“kau percaya cinta dek?”

“tentu aja kak, siapa yang enggak kak..”

“aku sudah melupakan itu sejak lama…” Ia memandangku dengan penuh ingin tahu, seolah aku datang dari dimensi lain dan menunggu taksi ditempat yang sama dengan kami berdiri sekarang. “well, kita berasal dari dunia yang berbeda. Aku dan kamu itu seperti dua ekor burung, kamu merpati aku rajawali.”

“ah si kakak rempong, aku sukanya bukan burung, tapi kucing.” Dan lagi, seperti ada seseorang menuang es kedalam tubuhku ketika matanya menghilang. Sial,

“ahh bagaimana kalau begini, kamu kucing anggora.. aku macan, kita sama-sama kucing tapi kita tidak hidup ditempat yang sama. Begitulah diantara kita sekarang, kamu dirumah, aku dihutan. Tapi tetap saja aku lebih suka dengan merpati dan rajawali.”

“iya deh kak ya, terserah.” Jawabnya lucu. “kakak misterius banget, memangnya kakak kerja apaan? Penulis? Penyair?”

“pekerjaanku? Bisa dibilang, pekerjaanku adalah mastiin cewek-cewek lucu sepertimu tetap bisa menyanyi, tetap bisa tersenyum, tetap bisa menghibur orang lain.”
“mulia banget.” Jawabnya sembari tersenyum manis dan menggigil. Aku melepas surban yang melingkari leherku dan mengalungkannya disekeliling lehernya. “lho kak?”

“penyanyi ga boleh membiarkan lehernya kena angin dingin.. nanti suaramu jadi serak. Dan juga, sepertinya kita sudah terlalu lama disini. Dan sepertinya kamu sengaja membiarkan beberapa taksi lewat.”

“aku tidak tahu kak, sepertinya aku penasaran mendengar cerita kakak.” Ia memainkan air yang mengalir diantara hujan. Begitu damai dan begitu tenang.. suatu dunia yang aku tidak pernah bisa dapatkan.
Sembari meregang tubuh aku berujar, “ceritaku tidak selalu menyenangkan, adik kecil. Dan kadang aku ragu kita bisa ketemu lagi.”

“ah enggak mah kak, kita selalu bisa ketemu. Aku selalu nampil diatas mall itu, di teater. Aku gak kemana-mana kok kak.”

“kalau aku sesama merpati sepertimu mungkin aku bisa selalu bertemu denganmu. Bergabung dengan fansmu, ikut menikmati suaramu. Tetapi kita mungkin sesama burung, tetapi langit yang aku huni tidak sama dengan langit yang kamu lihat.”
Mukanya semakin bingung, “ah iya deh kak ya, aku gak mengerti sih, tapi iya aja deh.”

“siapa namamu?” tanyaku sembari melangkah ke depan.

“ika, riska Fairunisa.”

“namaku—“ aku tidak bisa mendengar suaraku sendiri akan tetapi ia tersenyum.

“nama kakak bagus,” aku melambai pada sebuah taksi dan taksi itu menepi. Pintu terbuka..

“apa ga barengan aja kak?” tanyanya.

“ga perlu.” Aku menjabat tangannya, “masih ada perlu yang lain. Makasih udah nemenin aku, kha”

“beneran, aku tunggu kakak di teater.. teater… datang ya liat aku nampil.”

“enggak janji.” Tetapi dalam hati berbisik… harus… harus datang melihatnya lagi, whatever it costs.

Pintu menutup dan senyumnya membayang diantara rintik hujan. Meninggalkanku sendiri. Dan.. sial.. surbanku dia bawa! Mana belum dicuci lagi. Sialan. Sementara aku merasa dua, empat, tujuh bayangan bertubuh besar berdiri dibelakangku. Mereka mengangguk. Sudah waktunya. Dan aku berlari mendekat..

Disuatu tempat tak bernama…rimba papua..
Aku terduduk disebuah ceruk sementara lumpur terus naik setinggi dada, menenggelamkanku perlahan. Dan hujan tunduk, hujan bercampur butiran kabut yang menyapa malu-malu. Aku menghirup udara dalam-dalam namun mulai tercekik.

Terbatuk bersama butiran cairan berwarna merah muda. Paru-paru sebelah kiri hancur. Perut berlubang… dan terduduk sendirian bersama tubuh-tubuh lain yang tak bernyawa, sebagian terluka sementara tempik sorak bercampur letupan terdengar disekujur penjuru. Teriakan, sorakan, jeritan, suara daging dihempas peluru dan bau asap mesiu diantara hujan.

Wajah teman yang terluka, kosong. Wajah teman yang tewas, kosong. Dan akhirnya akupun tidak tahu untuk apa kesia-siaan ini terus berlanjut. Mengapa kami harus meregang dan bertaruh nyawa hanya demi sebuah bukit… dan satu suara berdegup, tepat diantara tubuh teman-temanku yang terluka, tepat didepanku… bulat mungil seperti manggis berwarna coklat.

Nyawa memang murah, nyawaku, tetapi aku tidak tahu mengapa dengan sisa tenagaku tubuhku melompat, menyelubungi manggis imut dengan tubuhku. Sementara satu dorongan terasa menarikku keatas.

Hujan rintik-rintik, malu-malu menyapa, sementara pandanganku meredup. Helmku terguling.. dan kulihat sesuatu disana, kulihat wajahnya, matanya sipit menghilang tersenyum padaku..dikotori satu dua titik coklat, darah? … dan aku tahu sekarang untuk apa aku hidup..
Memperpanjang senyumnya beberapa saat, jam, hari ataupun tahun.. aku tidak tahu.. aku tersenyum sementara semuanya menjadi gelap. Hal terakhir yang kusebut adalah… I adore you ikha.. riskha … eventough you never know it..

Disatu tempat seorang gadis memandangi matahari yang terbenam dari balik jendela teater.. ia tak tahu mengapa.. mengapa mendadak airmatanya jatuh.. ia tak tahu mengapa ketika mendadak ia menyentuh surban coklat itu airmatanya jatuh. Memeluk kain lusuh, dan memandang mentari terbenam diantara latar langit. Yang menimbulkan retakan… kemana pria itu? Kemana dia? Dan Ikha tahu ia bukan pengecut, namun apabila ia tidak bisa datang, maka jadilah.. tetapi mengapa harus menjatuhkan airmata demi itu? Mengapa ia begitu.. bukan kecewa, tetapi sedih… hingga ikha mengingat beberapa hal. Terutama :

“pekerjaanku? Bisa dibilang, pekerjaanku adalah mastiin cewek-cewek lucu sepertimu tetap bisa menyanyi, tetap bisa tersenyum, tetap bisa menghibur orang lain.”
Dan meskipun absurd ikha berbisik, “Mungkin aku bisa mengerti… Rajawali.” Dan encore bergemuruh memintanya dan rekannya untuk kembali memberi warna dan senyum bagi siapapun yang berbaik hati memujanya… with undying faith

Credit to author


Jadilah Blogger Yang Beretika, dengan mencantumkan Link Sumber yaa.. ^^ Sumber Artikel Dari: http://fansjkt48indonesia.blogspot.com/2013/05/a-smiling-sun-smiling-eyes-undying.html#ixzz2bLxoWNqb