Jumat, 29 Maret 2013

Dukungan Dari Hati







 Aku mempunyai seorang teman, nama nya Reza, dia hidup bersama neneknya karena kedua orangtua nya broken home sudah 3 tahun yang lalu. Aku dan Reza hidup di sebuah desa kecil. Reza sudah putus sekolah semenjak di tinggal orang tua nya, karena keterbatasan dana yang tak cukup untuk membiayai sekolahnya. Kini Reza berumur 17 tahun, sepantaran dengan aku. Ya, bersyukur aku masih memiliki kedua orang tua dan juga perekonomian keluarga yang pas.
Suatu saat ketika Reza bermain ke rumah ku, aku mengajaknya menuju kamarku..
"Itu siapa dit?"
"Oh itu, itu Jessica Vania JKT48.." jawabku.
"Itu siapa kamu? Pacar kamu? Wah, cantik ya?" tanya Reza kepadaku
Karena memang Reza itu tidak mempunyai TV di rumah dan keterbatasan berita, dia memang tidak tau tentang JKT48.
"Ih.. Bukan Za, itu tuh member dari JKT48.." sangkalku
"Oh JKT48, ngomong-ngomong JKT48 itu apa ya?" tanya Reza lagi
Memang, Reza itu sangat polos. Seperti tidak punya dosa sama sekali. Tapi aku sebagai teman dan sebagai fans dari JKT48 memberitahunya.
"Itu tuh Za, idol grup di Indonesia. Sister grup nya AKB48 yang ada di Jepang. Nah JKT48 itu sister grup pertama yang ada di luar Jepang. Member nya cantik-cantik lo Za, pasti kamu suka deh.." jelasku.
"Oh.. Iya memang cantik Dit, terus ceritain lagi dong.." pinta Reza penasaran.
Akhirnya setelah aku bercerita panjang lebar kepada Reza, dan pada akhirnya Reza berkata..
“Aku suka sih JKT48, tapi apa daya.. Aku TV aja gak punya, gimana mau nonton? Apalagi ada theater JKT48 ya? Duit dari mana coba? Mungkin aku cuman bisa mendam rasa support ku di hati saja.." keluh Reza.
Aku merenung sejenak dan berfikir, benar juga apa yang dikatakan Reza. Namun aku juga setiap hari tetap memberikan informasi tentang JKT48 kepadanya. Tak jarang juga Reza aku ajak kerumahku menonton TV pada saat JKT48 perform di TV.

(***)

         Sudah beberapa bulan berlalu, Reza tetap seperti yang dulu, tetap minder karena kurang nya sarana dan pengetahuan tentang JKT48. Namun suatu hari aku tanya kepada Reza..
"Za, kamu tahu oshi kan? Oshi mu siapa di JKT48?" Tanyaku.
"Dit.. Dit.. Aku aja makan susah kenapa harus milih oshi? Gimana juga aku harus support oshi ku nanti?" Jawab Reza.
Aku hanya bisa merenung sendiri. Sebenarnya aku juga tidak percaya kalau Reza tidak memiliki oshi di JKT48. Meskipun kondisinya memang sulit, tapi member yang paling dia sukai pasti tetap ada.
Suatu hari aku sempat mengintip Reza sedang merenung sendiri di sebuah bukit di belakang desa nya. Aku sempat menguping pada saat Reza sedang berbicara sendiri. Pikir ku mungkin Reza sedang ada masalah.
"Aku memang bukan orang kaya, bukan orang yang bisa melakukan apa saja yang kuinginkan. Tapi mempelajari kata-kata dan cerita dari Adit, aku berfikir bahwa mendukung idola itu bukan dari seberapa banyak uang yang kita miliki untuk menonton idol, namun cukup dari hati yang paling dalam untuk support idol. Toh lewat surat juga bisa. Satu hal yang tidak kuduga, ternyata aku juga sama seperti Adit. Aku suka Jessica Vania.. Gak tau kenapa, pada saat pertama kali di kamar Adit terpampang jelas poster Jessica Vania, ada sesuatu yang mendorongku untuk menyukai dia. Bahkan kini mendukungnya lebih dari sebelumnya.." celoteh Reza pada saat di bukit sendirian.
Aku langsung meneteskan air mata, karena ternyata begitu besar keinginan Reza untuk mendukung JKT48. Yang mayoritasnya orang kurang mampu, namun sadar akan besar nya support kepada JKT48.

(***)

Hari hari pun berlalu. Suatu saat ketika aku diajak oleh saudaraku berlibur ke Jakarta, tentulah aku sangat senang. Dan pada saat itu, dalam pikiran ku terlintas sebuah keinginan.
"Aku harus mengajak Reza, aku harus mempertemukan Reza dengan oshinya.." pikirku.
Pada hari itu juga aku kebetulan bertemu dengan Reza
"Za, aku punya kabar gembira buat kamu.."
"Apaan Dit?" tanya Reza dengan penasaran.
"Jadi gini, aku diajak saudara aku buat berlibur ke Jakarta. Nah, kebetulan juga kan disana tempatnya idola kita perform sehari-hari, dan disana juga waktu ada JKT48 main di Theater. Aku mau ngajak kamu ikut, kamu mau ya?" jelasku.
"Ah enggak ah Dit, uang dari mana juga aku. Kamu jangan meremehkan aku gitu dong.. Mentang-mentang kamu anak orang kaya terus seenaknya kamu ngerendahin aku gitu?" Jawab Reza.
"Bukan gitu Za maksud ku.. Gini deh, semuanya aku deh yang nanggung. Dari transportasi, makan, penginapan dan nonton theater, aku yang bayarin. Bukannya aku sombong Za, tapi ini kesempatan kita buat ketemu oshi kita.. Aku tahu oshi mu Jeje kan? Aku udah tahu semuanya, jadi kamu mau ya? Kita nonton bareng-bareng nanti disana.." Ajakku.
"Ini beneran Dit? Oke deh aku ikut, tapi aku jadi gak enak sama kamu.." Jawab Reza.
"Udahlah.. Anggap aja ini jadi balas budi ku ke kamu, karena kamu udah ngajarin aku bagaimana cara support yang tulus.." Jawabku.
Hari pun hampir mendekati hari H. Semua persiapan juga sudah aku dan Reza persiapkan, termasuk juga tiket theater JKT48 yang sudah mendapatkan email balasan dan tentunya tiket FAR.
           Hari H pun telah tiba. Aku dan Reza langsung pergi ke Jakarta, tak lupa Aku dan Reza berpamitan kepada keluarga masing masing. Beberapa jam kemudian, Aku dan Reza sampai di Jakarta. Hari pertama kami beristirahat di rumah saudaraku. Kami tak sabar ingin berjumpa hari esok untuk bertemu dengan idola kami.


(***)
"Apakah aku ini mimpi? Apakah semua ini nyata? Tak kuduga besok adalah hari dimana aku bertemu para member dari JKT48. Dimana dulu aku sangat merasa mustahil bisa bertemu langsung dengan mereka. Tapi semua ini berkat Adit, dia lah yang mengajari aku dan membimbingku supaya mengerti apa itu JKT48. Dia memang sahabat yang sangat baik, aku bangga punya sahabat seperti dia.." batin Reza bahagia.
Hari yang ditunggu pun telah tiba. Aku dan Reza langsung bergegas menuju ke tempat di adakannya JKT48 theater. Aku dan Reza mendapatkan yang show malam. Setengah jam lagi theater pun akan dimulai, pastinya aku dan Reza sudah menukarkan email verifikasi dengan tiket theater. Dan akhirnya aku bersama Reza langsung masuk karena tiket far didahulukan untuk masuk kedalam theater. Kami langsung mengisi bangku yang paling depan.
Di dalam theater aku memandangi para member JKT48 sedang perform. Tak lupa juga aku memandangi Reza yang begitu tampak jelas sangat senang karena bisa melihat perform JKT48, apalagi hari itu juga Jeje juga perform. Reza terus memanggil nama "Jeje, Jeje, Jeje" dan Jeje pun juga membalas panggilan dari Reza dengan melambaikan tangan kepada Reza.
Tak terasa, theater pun telah usai. Di akhir theater diumumkan bahwa sebelum keluar dari gedung theater akan ada sesi 2-shoot, dan tentunya Aku sangat senang. Tapi Reza belum mengerti apa itu 2-shoot. Ketika aku dan Reza beranjak keluar dari stage, aku langsung 2-shoot dengan Jeje. Reza pun kaget, dan dia pasti berfikir padahal tidak boleh foto berdua bersama member, kok dia boleh dan lainnya juga boleh? Akhirnya aku menjelaskan kepada Reza 2-shoot itu apa. Benar saja, Reza 2-shoot dengan Jeje.
Dia sangat senang sekali. Dan setelah keluar dari gedung theater, Reza langsung memeluk aku dan menangis di hadapanku..
"Terimakasih Dit, kamu memang sahabatku yang paling baik. Coba bayangkan juga jika gak ada kamu, aku pasti sekarang gak tau apa-apa tentang JKT48.."
Aku hanya terdiam dan juga bangga pada dirinya. Karena aku tidak akan merasa sebahagia ini bila aku tidak mengenal Reza, ya mungkin. Dia yang secara tidak sengaja mengajariku cara mensupport idola dengan ketulusan. Bukan dengan kekayaan, tapi dengan ketulusan hati.
Mendukung idola itu bukan dari kalangan orang yang kaya saja, tetapi orang yang paling tidak mampu pun juga dapat mendukung idola. Seperti Reza, dia orang yang sangat tidak mampu, namun karena kuatnya kegigihan dan ketulusan hati untuk mensupport idolanya, ada saja jalan baginya untuk menonton JKT48 secara langsung. Walaupun dengan bantuan Adit, namun itu juga tidak begitu berarti.
“Karena seperti JKT48, Reza telah mendapatkan satu hal yang sama. Ya, kemauan yang keras akan membuka jalan bagi setiap orang untuk bisa mencapai keinginannya. Bukan hanya yang kita inginkan, tapi juga apa yang kita cita-citakan..”


Profil Delima Rizky

http://id.wikipedia.org/wiki/Delima_Rizky

Minggu, 24 Maret 2013

Sepatu Milik Stella




Sepatu Milik Stella

Sore, di sebuah sekolah menengah atas yang cukup mewah, didalam sekolah itu terdapat kolam ikan dan taman kecil. Kelas yang ada di lorong terdapat loker didepan kelas itu. Papan mading terhias oleh beberapa karya dari murid. Dari ujung lorong, terlihat seorang gadis putih, tidak tinggi, berambut indah hitam, berparas cantik. Ia berjalan memperhatikan kiri dan kanan kelas sekelilingnya. Ia terpana melihat sebuah kelas. Diliriknya dari jendela kelas itu. Kemudian gadis itu berjalan lagi menuju sebuah mading. Ia menatap haru isi mading itu. Ia menatap sebuah foto dengan tulisan “Class of 48”. Di foto itu, terlihat seorang murid yang mirip sekali dengan gadis itu.
                                                        
*

“Hai Stella” Ucap seorang pria kepada seorang murid perempuan.
“Eh, Kiki, belum pulang?” Tanya murid perempuan itu.
“Belum, Stel. Kok belum pulang?” Tanya Kiki.
“Nunggu dijemput Mamah, Mamah lagi jemput adekku.” Jawab Stella.
“Hem... Gak berasa yah, udah kelas 3, Ujian Akhir, lulus deh.” Ujar Kiki.
“Iya, padahal dulu pas MOS angkatan kita, kamu tuh paling cupu.” Ledek Stella.
“Tapi suka kan?” Goda Kiki.
“Iya, suka ngetawain kamu sama temen – temen.” Lanjut Stella.
“Makan yuk.” Ajak Kiki.
“Di Ayam Goreng Kang Adam yah, hehe.”

Kiki hanya mengangguk memenuhi permintaan Stella. Mereka berdua berjalan menuju Ayam Goreng Kang Adam di sebrang sekolah.
Kiki dan Stella duduk bersebelahan.

“Kang, aku biasa pesennya...a...” Sebelum Stella selesai bicara, Kiki memotong.
“Ayam goreng, sambelnya dipisah. Minumnya Es Milo yang manis yah.” Ucap Kiki.
“Kok, kamu masih afal?”
“Dulu pas MOS nginep kan kamu sampe gamau makan, maunya ayam goreng.”

Stella tertawa pelan. Setelah menunggu beberapa lama, seorang pelayan mengantarkan pesanan milik Stella dan Kiki. Stella menghabiskan Ayam goreng pesanannya dengan lahap hingga bibirnya belepotan makanan. Kiki mengambil tissue dan mendekati bibir Stella.

“Gak usah kayak Ftv deh.” Mengambil tissue itu.
“Kamu makannya belepotan, Stel.” Ucap Kiki.
“Ya kamunya gak usah sok ngelapin gitu kayak di Ftv.” Lanjut Stella.
“Aku maunya cerita kita ini jadi Ftv, atau gak novel, cerpen juga boleh sih.”

Stella menimpuk tissue kotor itu ke muka Kiki. Kiki membalasnya. Mereka berdua bercanda bersama sehabis makan. Suasana sore depan sekolah itu menemani mereka.

*

Gadis yang sedang menatap mading itu melanjutkan langkahnya ke sebuah ruangan. Dari ruangan itu keluar sebuah pria, yang lebih tua darinya.

“Eh kamu... tumben main kesini.” Ucap pria itu.
“Pak Juni..” Ucap gadis itu.
“Udah besar yah kamu semenjak lulus. Gimana kuliahnya? Makin pinter kan kamu?”
“Yaa lumayan lah pak, hehe.”
“Udah mau lulus kan kamu kuliahnya?” Tanya Pak Juni.
“Hampir Pak, doain yah.”
“Guru – guru sini selalu doain muridnya. Kamu masih ketemu sama siapa tuh, teman cowok kamu pas dulu?”
“Siapa, Pak?”
“Duh, Bapak lupa. Yang baik banget sama kamu ituloh.”

*

Suasana sekolah siang itu ramai. Beberapa murid berpelukan di area sekolah. Sekumpulan murid histeris kegirangan menatap papan mading. Di papan mading itu, tertulis nama siswa beserta nilai kelulusan ujian akhir mereka.
Stella mencari namanya. Ia tak berkata  - kata. Dari belakang, Kiki meledek.

“Enak yah kamu, namanya udah pasti paling atas.”
“Ah, Kiki. Aku seneng banget...” Ucap Stella.
“Sini peluk Kiki.”

Stella hanya tertawa cekikikan mendengar permintaan Kiki. Beberapa teman menghampiri mereka untuk ikut mencoret – coret seragam mereka. Stella ditarik temannya. Semua murid saling mencoret dan menandatangani seragam mereka. Kiki bersama teman – temannya pun mencoret pakaian mereka dengan spidol.
Stella yang duduk dekat kolam ikan terlihat murung. Ia hanya memakai sebelah sepatunya.

“Stel, sepatunya kemana?” Tanya Kiki.
“Copot sebelah, tadi pas desek – desekan.”
“Kayak cinderella kesiangan deh kamu.”
“Ih malah ngeledek. Ntar pulang sendiri, Mamah gak jemput.” Rengek Stella.

Kiki mencopot sepatu Sneakers miliknya dan memberikannya ke Stella.

“Ha? Kenapa, Ki?”
“Kamu pake nih, daripada pulangnya repot.”
“Serius kamu?”
“Iya, aku sih seneng sepatuku dipake Cinderella kesiangan.”
“Ih... mau ngeledek apa nolongin aku sih?”
“Maunya selalu ada buat kamu.”
“Gombal.”
“Itumah yang dikolong jembatan.”

Stella dan Kiki berjalan menuju dekat lapangan sekolah. Murid lain masih asyik mencoret baju mereka. Kiki berjalan memakai kaos kaki.

“Ki, kita belum tanda tanganin seragam kita yah?”
“Iya nih, tapi seragam kamu udah penuh semua, Stel.”

Stella mengangkat kerah bajunya, ia memberikan spidol ke Kiki dan membalikkan badannya.

“Nih, selalu ada tempat buat kamu.”

Stella memberikan kerah belakangnya untuk di tanda tangani Kiki. Kiki menandatangani kerah Stella.

“Ki, bajumu udah penuh semua, aku tanda tangan dimana?”
“Nih, disini.” Kiki menyobek kantong seragam yang ada lambang OSIS.
“Tanda tangan disini, Stel.” Kiki menunjuk dada kirinya dan memberikan spidol.
“Tempat buat kamu tuh ada disini.” Ucap Kiki sambil menunjuk dada kirinya.

Stella memberi tanda tangan di dada kiri Kiki. Mereka berdua saling tersenyum.
Kiki dan Stella berjalan keluar gerbang sekolah. Kiki masih menyeker dengan kaos kakinya, Stella memakai sepatu Kiki.

“Naik taksi kan kamu, Stel?”
“Iya, temenin nyari yah.”
“Eh iya, kalo udah kuliah nanti, kita masih bisa ketemu lagi gak yah?”
“Harus bisa, aku kan mau balikin sepatumu ini.”
“Kalo kamu simpen aja mau gak? Anggep sebagai benda berharga.”
“Benda berharga tuh yang bagusan dikit kek.” Keluh Stella.
“Yang ngasih benda itu emang gak berharga buat kamu?”

Stella hanya diam. Ia masih melirik jalan raya untuk mencari taksi yang lewat.

“Nyari taksi susah amat, kayak nyari jodoh.” Keluh Stella.
“Jodoh emang di tangan Tuhan, tapi nyarinya pake tangan kita.” Balas Kiki.
“Yee... Eh, tapi makasih yah, aku pinjem dulu sepatu kamu.”

Kiki hanya mengangguk. Tidak lama taksi datang dan Kiki menyetop. Stella masuk ke taksi dan sempat melambaikan tangannya ke Kiki.

*

Pak Juni dan gadis itu berjalan mengelilingi sekolah. Saat melangkah, Pak Juni melihat sepatu yang digunakan gadis itu.

“Kamu itu mahasiswi cantik, kok sepatu kayak gitu masih dipake?” Tanya Pak Juni.
“Yah... abisnya ini berharga, Pak.”
“Berharga? Kok bisa?”
“Yang ngasih ini berharga buat saya.”

Pak Juni hanya tersenyum. Mereka melanjutkan langkahnya ke lorong sekolah. Disana terlihat sebuah kelas yang cukup besar, lengkap beserta isinya. Pak Juni membuka kelas itu.

“Kamu tuh kalo reuni gak pernah absen yah, dateng terus.”
“Iya.”
“Siapa yang kamu cari memangnya?”
“Semua teman – teman angkatan saya, Pak.”

*

Di sebuah ruangan kelas, terlihat keramaian muda – mudi memakai pakaian trendy. Stella berdiri sambil sibuk memegang telepon genggam.

“Gelisah banget, Stel.” Ucap seorang gadis.
“Ha? Enggak kok.” Balas Stella.
“Kiki yah?”

Mendengar nama Kiki, Stella hanya menghembuskan nafas dan menghelanya agak panjang.

“Dia kemana sih, ini reuni ketiga setelah angkatan kita lulus, dia gak pernah keliatan, kemana ya dia, Stel?”
“Gak ngerti deh. Tiap dua tahun sekali nungguin buat ketemu dia.” Keluh Stella.
“Capek gak nungguin dia?”
“Gak sih, malah makin semangat. Tapi, dua tahun kemudian apa masih bisa ketemu dia yah?”
“Pertemuan selanjutnya gak akan sleama itu kayaknya.”

*

Pak Juni dan gadis itu berhenti langkahnya di dekat lapangan sekolah. Daun berguguran dan berserakan di sekitarnya. Gadis itu memperhatikan sekelilingnya.

“Tempat ini kan biasanya tiap angkatan sekolah ini...” Ucap Pak Juni.
“Ngasih tanda tangan dan benda berharga mereka, Pak.”
“Kamu masih nunggu orang itu?” Tanya Pak Juni.
“Masih. Tapi apa saya harus balik ke sekolah ini dua tahun lagi?”
“Bapak rasa pertemuan selanjutnya gak akan selama itu.”

Pak Juni meninggalkan gadis itu berdiri sendiri. Gadis itu merenung, menatap sekelilingnya. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Tali sepatunya terlepas sebelah. Ia jongkok dan merapikan tali sepatunya dan mengikatnya. Ia berdiri dan bergumam.

“Mungkin bukan hari ini, lagi.” Keluhnya.

Gadis itu berjalan kearah sebaliknya sambil menunduk. Ia merunduk dengan tatapan kecewa. Langkahnya pelan. Dari arah berlawanan, ada seorang pria, cukup tampan, dengan pakaian rapih tersenyum kearah gadis itu dan berteriak.

“Makan ayam goreng yuk, sambelnya dipisah, sambil minum es milo.” Ucap pria itu.

Si gadis menoleh ke belakang. Ia diam, lalu tersenyum. Tatapannya penuh arti. Ia menghampiri pria itu. Kini si gadis dan pria berhadapan, cukup dekat. Mata mereka saling memandang.

“Aw..” Ucap si gadis.
“Eh, maaf...sepatunya..” Balas si pria.
“Masa gantian sekarang aku yang nyeker?”

Selasa, 19 Maret 2013

Pengakuan (sang haters)






Oke guys !! ini mungkin sebuah cerpen yang agak kepribadi sih. Three Two One Zero !!

Gua Bara ,, gua aslinya Bandung tapi gua sekarang tinggal di Depok  ,, iya biasa gua kan lagi kuliah semester akhir , gua lagi bikin skripsi,, malesin boss kalo udah denger kata-kata skripsi bawaannya selalu ngebosenin plus ngebetein,,
 Iya sekarang mulai ceritanya gua lupa harinya ,, mungkin hari sabtu gak tau hari minggu gua baru beres ngerjain skripsi,, gua mampir dulu ke kostan temen ,, iya sambil numpang minum gratis haha

“Assalamualaikum broo,, bikini gua teh manis iya , jangan pake lama .” Ucapku
“Walaikumsalam,, ahh elu kebiasaan Rey ! ” Jawab temanku

            Temen gua namanya Anca,, dia temen sekuliahan gua,, Sambil gua nunggu minumannya mending gua nyalain tv dulu ,, ternyata ohh ternyata , pas gua nyalain tv ada GirlBand perfromnya hampir seRT,,

“Mau performance atuh mau tawuran pelajar nih?? Udah ajah sekalian bawa se-kampung kalo engga bawa nene sama kake loe ikutan tawuran”ucapku dalem hati,
           
Tak berapa lama temen gua ngasih air the manis,,

“Nih pesenan loe ,, wah loe suka JKT48 juga broo??”,, Tanya temanku
“Kagak ,, kagak ngapain gua ngefans sama girlband ?? asa engga usahh broo ,, apalagi liat cara performancenya ,, wiiddiiiiihh ngeri maenannya keroyokan haha .”jawabku


“Ini bukannya girlband, ini idol group kaya AKB48 ,, JKT48 itu adiknya AKB48 iya diibaratkan kalo JKT48 itu cabangnya mereka dan mereka emang gitu kalo performance selalu banyakan,, girlband sama idol group beda broo,, girlband mungkin ahh biasa di Negara kita ,, tapi kan idol group beda,, mereka ngikutin audisi iya mungkin mereka orang-orang terpilih dari sekian ribu orang,”Jawab temanku

“Ohh ,, gitu iya !! udah selesai ceramahnya ?? gua pulang dulu iya cape nih abis ngerjain skripsi., assalamualaikum ”tanyaku sambil mengambil tas

“ahh terserah loe ajah deh,, walaikumsalam,,” jawab temanku
            “Gila cape bener nih ngerjain skripsi,,semoga ajah skripsinya bener,” ucapku dalam hati,, gua bosen diem dikostan sendirian hanya ada tv ,laptop dan radio kesayangan yg selalu nemenin gua,, Saat gua nyalain radio,, 

“I want you,, I need you ,, I love you ,, didalam benakku ,, keras berbunyi irama myu-u-ji-ik-ku  he-bi-iro-te-sion.” “Ini kan JKT ??,, JKT yg tadi sama temen gua diomongin,, dari situ gua makin penasaran sama girlband ini,, 

Gua langsung nyalain laptop terus gua nyoba-nyoba searching apa itu JKT48 ,, di liat dari kecantikan sih oke , terus yg gua aneh itu ada istilah-istilah family48 ,, wota , oshi , oshihen , lightstick , gaboleh pacaran ,pergi sana sini harus ada yg jagain ,dan tamagochi(nambih dikit) hehe,, ok lah fine kalo  ada kata wota , oshi ,oshihen , lightstick,, yang gua anehin “Ga Boleh Pacaran” sedangkan lagunya itu selalu berbau cinta-cinta gitu..“

            Seminggu gua kuliah seperti biasa,, tapi ada yg aneh sih,, di para kaum adam ,, gua dengerin mereka ngomongin JKT48 terus,, dan gua serasa pengen muntah ,, dan gua juga semakin penasaran sama JKT48 itu,, iya penasarannya karena seberapa hebat si JKT48 sampai bisa buat tranding topic di tempat kuliah gua . 

Mungkin seminggu dari situ gua selalu telusuri tentang JKT48 dan semakin gua telusuri semakin gua suka sama mereka,, gua jujur okeh,, detik ini gua sekarang udah ngerti apa itu wota , oshi , oshien , lighstick dan lainnya,, sebenernya gua ingin narik kata-kata gua dulu “… yang gua anehin “Ga Boleh Pacaran” sedangkan lagunya itu selalu berbau cinta-cinta..“ 

Menurut gua sih mungkin mereka gak boleh pacaran itu entar mengganggu kosentrasinya saat latihan atau performance (kalau galau pasti risau ) dan mungkin juga kalo mereka pacaran so pasti kan yg ngefans mereka cowo semua , takutnya fans mereka ngiri dan ninggalin oshinya masing-masing,, ( Oshi = member yg mereka support atau member yg mereka jadiin diri kita ngefans ke mereka )

            Oshi gua di JKT48 itu Rezky Wiranti Dhike,, kenapa gua milih Dhike dan kenapa gua jadiin oshi karena Dhike mirip mantan gua, rambutnya pendek , keliatannya jutek padahal engga , ngomongnya selalu bahasa sunda (jarang loh seumurannya mau pake bhs sunda atau bhs-bhs daerahnya,, apalagi udah masuk ke dunia infotement) . 

Suatu hari gua ketemu temen seperjuangan (SD, SMP, SMA) dijalan ternyata temen gua juga ngefans sama JKT48 tapi temen gua beda oshi, Oshi temen gua The Imel ( Melody ) ,, dan untungnya rumah temen gua gak jauh dari kostan gua,, setiap hari temen gua datang ke kostan ngomongin tentang JKT48 ,, gua selalu nanya-nanya sama teman gua (wajar gua mungkin fans newbie),, temen gua namanya Isan,

“San kapan-kapan kita pergi ke theater yuk ?? gua pengen tau gimana rasanya atmosfir di theater itu kaya gimana,, terus gua ingin liat Dhike oshi gua ,,” tanyaku

“Boleh,,boleeh Bar ,, mau kapan ke theaternya ?? minggu depan ajah yuk ??”.tanya balik Isan
“Iya hayu hayu,, DEAL iya .”ucap gua sambil bersalaman,,( kata deal bagi kita seperti kata janji )

            Hari demi hari gua selalu ngirim e-mail vertifikasi untuk bisa ke theater, soalnya theater JKT48 itu engga segampang kita mau nonton bola ke stadion dan kalo kita gak bisa dapet e-mail vertifikasi kita gak bisa masuk ke theater JKT48,, hampir 5 hari gua ngirim e-mail vertifikasi gak ada balesannya,, gua disitu pasrah gua gak tau harus gimana lagi ,,

“Assalamualaikum broo ??”. Ucap isan sambil mengetuk pintu
“Walaikumsalam San,, sini masuk San ,,” jawabku

            Gua ngomong panjang lebar kali tinggi ke isan ,,

“San gimana atuh ?? Gua gak dapet e-mail vertifikasi ??.” tanyaku
“Gua juga sama broo,, iya udah kita pergi aja ke theater lewat WL ,, tapi lewat WL fifty : fifty sih,, ada yg bisa masuk ada yang engga ,, soalnya yang lewat WL juga banyak,,” jawab isan
“WL ?? WL teh apa ?? gua baru denger broo ?? kaya On The Spot ?? bayar ditempat ??..”tanyaku penasaran

“WL itu Waiting List ,, iya semacam itu sih tapi agak beda dikit kalo On The Spot kan beli tiket langsung bisa masuk tanpa harus mengantri panjang lebar kali tinggi,, sedangkan WL harus ngantri beberapa jam ,, bukan satuan atau belasan yg lewat WL mungkin hampir puluhan bahkan ratusan bisa juga ribuan orang agak lebay dikit broo, 

terus WL itu ada orang yg dapet e-mail vertifikasi tapi gak diambil sama orang tersebut nah itu lah perebutan kita nanti di WL ,, iya berdoa ajah semoga banyak-banyak yang gak di ambil e-mail vertifikasinya .”jawabnya

“Ohh ,, udah beres ceramah nya ?? gua laper mau cari makanan dulu ?”ucapku mengalihkan pembicaraan
“Gak berubah-rubah loe,, sama ajah kaya dulu gak nerima kalo ada yg lebih tau dari loe,, iya sana pergi gua juga laper hehe” Ucap isan

            Hari H pun telah datang gua langsung pergi ke rumah temen gua,, kita pergi dari Depok pagi karena biar nanti engga nunggu WLnya terlalu paling belakang,, Gua pergi kesana naik mobil pribadi ( Bis Kota = tinggal tunjuk langsung kepinggir ) ,, hampir 1 jam lebih gua diperjalan ke theater JKT48,, “Akhirnya nyampe juga di Theater JKT48,,”Ucapku dalam hati,, 

Sesampai di sana Gua beli lightstick , PhotoPack, pin sama baju JKT48 agak mahal sih tapi demi oshi pasti apapun dilakukan meski harus berpuasa 1 minggu,  Antrian WL theater pun di buka,, wah gua telat gua ternyata baris agak belakang banget beda sama Isan mungkin 10 dari depan ,, gua tadi keasikan beli atribut JKT48 mulu ,, 

Gua berdoa semoga dan semoga bisa masuk theater JKT48,, tapii ternyata pas gua berada di  4 baris didepan ,, “Maaf WL ditutup !” kata JOT ,, Gua disitu langsung lemes broo ,, sakit hati masih kalah sakitnya saat  kita nunggu sesuatu yang udah didepan mata tapi tak tercapai ,, Gua hanya bisa diem , mungkin ini pengalaman yang paling buruk gua,,
Gua duduk di depan theater tersebut gua malah diusir sama security ,,


“Hey kamu jangan duduk disitu ,, sana nunggu temennya diluar..” Ucap security dengan suara yang meraung seperti singa kelaparan,,
“Ta,..ta..taa..pii pak gak ada salahnya kan nunggu disini,” Ucapku gugup
“Wah loe baru iya pergi ke theater HAH ?? disini peraturannya kalau tidak masuk harus nunggu diluar ,, NGERTI ??,,Ucapnya membentakku,,

            Lalu gua ditarik dan didorong dorong keluar oleh security tersebut keluar dari lingkungan theater,, “Nasib ,,Nasib emang begini nasib seorang peratau,, gua cuma bisa gigit jari doang L ,, alarm perut pun berbunyi lagi ,, duit gua tingga 20rb ,, kalau gua makan entar gua pulang gimana,, 

Arrggghh perasaan sial mulu deh nasib gua ,,”ucapku dalem hati,, gua hanya bisa diem,, liat sana liat sini ,, liat tinggi ke atas bukan kesamping ( canda dikit ),,

“Woii jangan ngelamun aja loe,, gimana kabar loe sehat ?? diem mulu kaya ayam keujanan.”Seorang yang sambil menepuk pundak ku
“Ehh,, loe Conk,, baik kabar gua,, gimana loe ?? terus lagi ngapain loe disini ?? nyasar loe dijakarta ?? haha.” Tanyaku , namanya sih Akbar dipanggil acong-aconk soalnya matanya kaya orang ahok ,, dia temen SMA gua,,

“Baik dari mana loe ?? loe kali yang nyasar di Jakarta ,, diliatin gua dari tadi hulang-huleng (ngelamun),, Lagi ngapain loe disini ?? Kasian banget loe dari Bandung kesini gak masuk theater haha ..” Ucapnya sambil nyindir

“So tau loee,, gua gak dari Bandung ,, dari depok dari tempat gua ngekost,, iya begitulah ,, loe juga sama kan gak masuk ke theater haha ,, loe kesini sama siapa ??”tanyaku
“Haha sama aja kali boys mau Bandung atau Depok  juga sama-sama jauh haha,, gua lupa gak bawa e-mail vertifikasi gua,, jadi gua ikut WL,,ehh di WL sama ajah gua gak masuk ,, gua kesini sama saudara gua Regi temen SMA kita dulu ?? masih ingetkan loe ??..”Ucapnya

“Haha iya iya loe juga sama aja kan gak masuk theater ,, ohh iya pasti inget lah,, Regi juga ngeFans sama JKT48 ??..”Tanyaku kembali
“Loe sama ajah dari dulu suka ngebalik-balikin kata,, iya dia ngeFans sama JKT48,, Oshi loe siapa di JKT48 ??..”Tanya balik gua,,

“Oshi Gua Rezky Wiranti Dhike si neng geuliss ,,”Jawabku sambil mengangkat bulu alis satu
“Ohh ,, Oshi Gua Beby dan oshi Regi Veranda..” sahutnya
“Mau oshi loe  beby ,, mau veranda ,, mau Mang Dadang satpam disekolah kita dulu ,, mau siapa ke ,, perasaan gua kan gak nanya oshi loe .” Ucapku

“Dasar loee,,.” Ucapnya sambil medorongku
            Tak berapa lama Regi pun datang ,,

“Nih Bar loe pasti laper dari tadi nungguin temen loe keluar dari theater,,”ucap Regi sambil memberikan makanan
“Ehh loe Gii,,So sweet bener loe selalu merhatiin gua ,,”Ucapku sambil memakan pemberiannya

            Kita ngobrol ngalor ngidul canda tawa sambil nunggu temen gua ,, tah berapa lama Isan pun keluar dari theater tersebut lalu menghampiri kita bertiga,,
“Aconk ,, Regii ,, lagi pada ngapain loe disini ??” Ucapnya
“Ihh loe San ,, ngagetin mulu,, iya mereka sama kaya gua gak masuk theater,,”jawabku sambil bermain tamagochi

“Haha bisa aja loe Bar,, iya gua sama acong gak masuk theater ,, soalnya e-mail vertifikasi gua sama acong gak kebawa,, biasa dia kan pelupa tingkat dewa,,”Ucap Regi sambil nyidir Acong


“Dasar loee Gii,, bukannya belain saudara ke ,, malah ngejelekin mulu,, Pelupa itu penyakitkan tau ,, bener gak San,,”Ucap Acong membela diri

“Haha iya iya terserah loe pada deh .”sahut Isan
“Iya pelupa itu penyakit ,, udah pelupa entar ,penyakit pelupa loe jadi penyakit stroke,,”Sindir gua ke Acong



“Amit,,amitt ,, Gak Asik loe mah Bar ahh,,”Ucapnya

            Setelah ngobrol panjang kali lebar kali tinggi bagi 2 ,, kita berpamitan untuk pulang ,, dan gua sama mereka berjanji bakal  nonton theater bareng,, iya gak sekarang-sekarang sih ,, awal bulan kayanya gua kesana sama mereka sambil ngumplin duit dulu,, Sesempai dikostan gua gak nyangka bisa ketemu mereka lagi,,serasa mimpi bisa ngobrol bareng mereka lagi,, disisi itu hati gua menangis karena gua gak bisa masuk theater,, tapi gua gak akan nyerah gitu ajah,, Usaha keras itu kan tak akan menghianati,,


            Awal bulan pun datang gua dan Isan pergi ke theater untuk berjanjian sama Acong dan Regi,, tapi gua yakin 100% ampuh gua bakal masuk ke  theater soalnya gua punya e-mail vertifikasi sama Isan,, Gua nyampe Theater mungkin jam 11.00 ,, gua janjian sama mereka disini ditempat ini pukul 11.00,, tapi mereka belum juga datang,, “Apa mereka lupa sama janji kita ??”ucapku dalem hati ,, tah berapa lama gua melihat dikejauhan sana datang 2 orang berlari kearah gua seperti mengejar bis yang mulai berjalan,,


“Sorry ,, Sorryy broo gua telat,, tadi dijalan si Acong lupa bawa e-mail vertifikasinya,,yg otomatis gua nganter dia lagi,, sorry banget iya Bar, San .“ Ucapnya Regi dengan nafas yang mau sekarat
“Iya iyaa gua maafin,, yuk ahh geboyy kita masuk ke theater,,.”Ucap Isan


            Saat gua Masuk ke pintu theater gua serasa gak percaya , tubuh gua mendadak lemes , keringet dingin gua keluar,, ini theater atau surga ?? ini mimpi atau nyata ??,, Gua duduk dibarisan kedua dari depan ,, kata fans-fans lain biasa kalo orang yang  baru pertama masuk theater apalagi duduk di paling depan serasa pengen nangis histeris dan banyak banyak berdoa aja,, Para member pun naik keatas panggung mereka akan membawakan lagu shonichii nampaknya  “Je-joyfull Ke-kawaii Ti-try to be the best JeKeTi FourtyEight yeee”,, 

gua liat kiri kanan gua semuanya ngechant,, gua hanya diem gak bisa apa-apa,,ngechant gua cuma euu euu euu ,, terus cuma bisa ngeliatin oshi gua dhike,, mungkin bener kata orang –orang harus banyak berdoa,, “Ini mimpi atau nyata ?? gua bisa ngeliat Dhike ,, yang dulu gua hanya bisa ngeliat Dhike dari foto doang tapi sekarang gua bisa liat Dhike dengan mata telanjang,,”Ucapku dalem hati

            Mungkin bukan badan atau kaki gua yang lemes,, hati gua lemes gak sanggup liat Dhike,, ngeliat Dhike itu bagaikan ngeliat malaikat yang turun dari mobil pribadi ,,Cantiknya matanya senyumnya membuat hati gua lemah tak berdaya,, Tak tersadar saat Dhike memandaku dikejauhan sana dan tersenyum melihat gua,,

 gua hanya mampu meneteskan airmata bahagia,, airmata yang gak bisa semua orang keluarin , dan semoga airmata yang berjalan dipipi gua menjadi airmata bahagia gua selama didunia ini,,

Theater pun sudah usai ,, biasanya keluar pintu theater selalu ada yg dinamakan handshake bersama para member,,
“Woii,, loe kenapa Bar ?? ayokita ke pintu keluar kita handshake sama para member.” Tanya Isan

“Iiii,,,yyaaa,,iii,,,yyaaaa hayuu,,.”Ucapku gugup
“Haha muka loe pucat tuh Bar,, Kaya baru ngeliat cewe yang cantik dan perfect ajah,,”Ucap Acong

“Haha mungkin cewe-cewe perfect itu hanya ada di novel-novel atau didunia khayalan yang pernah semua orang baca,, tapi saat Dhike turun dan terlahir di dunia nyata, Dia adalah pelopor cewe-cewe perfect yang ada di dunia mungkin cewe yang perfect itu Cuma Dhike seorang .”Ucapku menenangkan diri


            Saat Handshake gua ngerlirik kedepan kesamping sana sini,, gua ingin cepet-cepet handshake sama oshi gua,, Gua liat Dhike paling ujung sana ,, pas waktunya handshake sama Dhike,, WOW lah WOW bangett,, kaki gua lemes gemeteran ,, gua gak bisa bilang apa-apa,, dan yang paling WOW gua bisa face to face sama dia,, serasa ingin teriak nama dhike sekeras-kerasnya,, tapi gua gak mampu broo gak tau gua malu teriak-teriak,, jangankan teriak bilang hey pun gua gak sanggup ,,

“Makasih iya udah ke dateng theater.” Ucap Dhike
“Iiiii…yyaaaaa.. keeee..eeyyyyy iii..yaaaa.” Ucapku gugup

Setelah handshake dengan para member,, gua gak masih percaya ,, gua bisa ketemu Dhike ,, face to face,, setelah itu gua makan sama temen-temen gua ditempat tadi kita ngumpul,, gua hanya mampu duduk dan ngelamun,, Gua berharap semoga dilain hari gua bisa ketemu dia lagi,, Gua selalu berharap kepada tuhan 

“Tuhann,,Apakah Ini Mimpi Yang Sempurna Buat Hamba-Mu ini ?? Jika Memang Ini Mimpi Sempurnanya,,Aku Mohon Tuhan Jangan Bangunkan Di Mimpi Ini,, Aku Lebih Bahagia Dimimpi Ini Dari Pada Didunia Nyata,, Meski Ini Hanya Sebuah Mimpi Yang Tak Ada Artinya,,Tapi  Bagi hamba-Mu ini Mimpi Yang Penuh Makna,, Jika ini Dunia Nyata Tolong Tuhan Kembalikan Waktu-Waktu Saat Aku Bisa Saling Bertatap Muka Dengannya,,” ..


            Tah berapa Gua ngalamunin si oshi sampe makanan gua gak dimakan ,, lalu ada seseorang yang menepuk pundak ku,,

“Lagi ngapain loe di sini Bar ?? Ohh gua tau,loe abis nonton theater JKT48 iya ?? Hemm,,Perasaan gua, loe itu gak suka sama JKT48 ??”Ucap Anca,, ohh iya oshi Anca di JKT48 itu Sonya/Panda,,

“Ehh loe ,, hehe iya nih gua abis nonton theater JKT48,, seru juga iya , ohh iya loe mau pesen apa ,, entar gua bayarin ??”Ucapku sambil menundu karena malu
“Ahh loe mah suka mengalihkan pembicaraan mulu,, Iya gua pesen 1 Bar mumpung loe baik sama gua,, tapi untung iya loe gak dikeroyokin sama GirlBand itu di theater,,”Ucapnya sambil menyidirku

“Udah ahh Udahh itu kan dulu ,, beda sama sekarang ,, manusia kan butuh proses untuk bisa menerima hal yang baru ,, gak sekaligus langsung bisa nerima,, seperti Cinta yang jatuh bangun jatuh bangun, dan seperti gua dulu nya yang gak suka JKT48 sekarang jadi suka .” Ucapku untuk membela diri

“Jawaban yang sangat super sekali .” Sahutnya

            Hari demi Hari , Minggu demi Minggu  , Bulan demi Bulan Gua Bara ,Anca , Isan ,Aconk dan Regi selalu pergi ke theater untuk melihat dan mendukung Oshi kita masing-masing,, Tapi Gua ingin ngasih nasehat kepada para “FANS JKT48” lainnya,, ingat jika oshi kita suatu saat Graduate (lulus) dari JKT48 jangan pernah menjadi haters kembali .Haters yang menjadi Fans itu bisa diterima oleh para Fans lainnya karena dia telah belajar dari kesalahan demi kesalahan di masa lampaunya dan Martabat Haters yang menjadi Fans itu lebih tinggi dibandingkan Fans yang menjadi Haters . Salam Super !  



Senin, 11 Maret 2013

Arti Sebuah Keluarga (Final Part)





Hari senin tiba. Stella mulai memasuki sekolah barunya. Yang biasanya ia berangkat dengan bersepeda, kini ia harus berangkat dengan dihantar oleh Papanya. Sementara itu, Melody, Ve, Cleo, Sonya, Shania, Ochi, dan Nabilah juga berangkat ke sekolah mereka seperti biasanya. Mereka semua berpisah dan memulai hari mereka masing-masing.


Hari ini Ve mengikuti lomba design antar sekolah. Ia sangat yakin bisa melalui lomba itu dengan baik dan keluar sebagai salah satu juaranya. Semangat dan dukungan yang diberikan oleh saudara dan Ayah Bundanya melekat kuat dihatinya. Itu sudah menjadi modal yang besar bagi Ve untuk menjuarai lomba itu. Belum lagi, motif design yang telah ia kerjakan juga sudah sempurna setelah ia mendapat bantuan dari Stella waktu itu.


“Hari ini aku pasti jadi juara. Aku yakin!” kata Ve untuk menambah lagi kepercayaan dirinya.
Maka dimulailah lomba design tersebut. Semua peserta diberi waktu tiga jam untuk menyelesaikan design mereka masing-masing sebaik mungkin. Nilai yang diberikan oleh juri tidak hanya dari bagusnya motif, atau kesempurnaan gambar saja, tapi bagaimana cara peserta menyelesaikan design itu juga menjadi nilai penting. Peserta design yang baik terlihat dari bagaimana mereka mengerjakan design mereka, ekspresi mereka dalam mencoretkan setiap garis pada kertas, dan bagaimana ide yang mereka berikan terhadap design tersebut.


Dan benar saja, setelah lomba selesai dan diumumkan pemenang lomba, Ve menjadi juara satunya. Keyakinan yang besar, kerja keras, dukungan, serta doa menjadi modal utama Ve dalam menjuarai lomba itu. Bukan sebuah kebetulan, tapi itu adalah buah hasil dari usahanya. Semua teman, guru, saudara, dan keluarga sangat bangga atas hasil yang diraih oleh Ve. 

Mereka tidak pernah berpikir seorang pemalu seperti Ve ternyata memiliki pengetahuan yang tinggi di bidang design dan fashion. Mungkin itulah arti dari kalimat jangan menilai orang dari luarnya saja. Tapi dibalik semua itu, Ve ingin menyebarkan kabar bahagia ini kepada saudaranya yang jauh darinya sekarang ini. Tidak lain adalah Stella. Bagaimanapun, Stella juga ikut andil dalam design itu.

“Stella, suatu saat kamu akan tahu apa yang aku raih hari ini..” batin Ve.
Dilain cerita, Stella yang masuk ke sekolah barunya memperkenalkan diri kepada teman-teman sekelasnya.

“Hai. Namaku Stella Cornelia, panggil aja aku Stella. Semoga kita bisa berteman baik disini.” Ucap Stella.

Semua teman sekelas menyambut Stella dengan baik. Stella beruntung masuk ke sekolah yang muridnya baik-baik. Ia kemudian duduk di salah satu bangku kosong di barisan kiri dan memulai pelajaran pertamanya di sekolah itu.

“Halo Stella? Namaku Hilman, boleh dong kenalan sama kamu?” kata salah seorang murid di kelas itu.

Stella hanya diam dan tersenyum kecil. Ia tahu apa maksud dari murid itu mengajaknya berkenalan, tidak lain adalah untuk mendekatinya. Namun murid itu terus saja mengajak bicara Stella meskipun Stella hanya mendiamkan dia. Berkali-kali ia bicara pada Stella di tengah pelajaran matematika itu, dan akhirnya Pak guru mengetahui hal itu.


“Hilman!” kata Pak guru membentak.
“Iya Pak, ada apa?”
“Maju kesini cepat!”
Murid bernama Hilman itu lalu maju ke depan kelas.
“Kerjakan soal ini. Pelajaran malah ramai terus. Cepat!
“I..Iya Pak.”


Murid itu mencoba mengerjakan soal yang diberikan. Murid lain mentertawainya karena soal itu belum pernah diajarkan sebelumnya. Mereka yakin kalau ia tidak akan bisa mengerjakannya. Hilman hanya memandangi soal dipapan tulis, dan tidak tahu apa yang harus ia tulis. Pak guru juga sudah tahu kalau ia tidak akan bisa karena itu belum pernah diajarkan. Ini sebagai hukuman padanya karena tidak memperhatikan pelajaran yang termasuk dalam kategori penting itu.

Hilman lalu menuliskan sesuatu di papan tulis, tulisannya sangat kecil dan ia menutupi itu dengan tubuhnya sambil melihat ke Pak guru atau murid lain kalau ada yang melihat tulisannya.

“Nah!” ucapnya keras.

Murid dan Pak guru kaget. Ada gerangan apa ia berkata keras seperti itu.
“Kenapa kamu? Tidak bisa mengerjakan soal ini kan? Sana kamu keluar kelas dan berdiri di depan pintu kelas ini!” kata Pak guru marah.

Hilman mendiamkan pak Guru dan menuliskan sesuatu di papan tulis, kini tulisannya jelas dan dapat dibaca murid lain.

“Oke pak, saya keluar dari pelajaran ini!” ucap Hilman.

Ia lalu keluar begitu saja sambil tertawa kecil. Pak guru lalu melihat apa yang ditulikan oleh Hilman tadi. Ternyata apa yang dituliskan oleh Hilman adalah jawaban dari soal itu dan benar. Pak guru kaget, dari mana anak seperti itu bisa menjawab soal yang belum pernah diajarkan. Murid lainnya juga agak kaget, begitu juga Stella.


“Hahaha. Pak guru ternyata gampang dibodohi atau memang bodoh ya? Nyuruh aku ngerjain soal, tapi bukunya ke buka di mejanya. Ya jelas aku bisa lihat walau agak memaksa tadi. Hahaha. Wah, anak-anak dikelas pasti lagi kagum sama aku nih. Cewek baru itu pasti juga iya. Hahaha..” pikir Hilman sambil tertawa sendiri seperti orang yang agak gila.

Pelajaran pun akhirnya dilanjutkan dengan tertinggalnya rasa tidak percaya dari warga di kelas itu. Pak guru yang melihat jawaban yang dituliskan oleh Hilman itu benar, bermaksud memanggil Hilman dan kembali mengikuti pelajaran. Tapi saat Pak guru keluar kelas dan ingin memanggil anak itu, Hilman sudah tidak ada di depan kelas. Dan ternyata ia justru makan di kantin sekolah saat jam pelajaran masih berlangsung.

“Anak itu. Nakal sekali..” batin Pak guru.

Hari itu akhirnya berlalu. Sampai akhir pelajaran, Hilman tidak masuk ke kelas. Ia bolos sekolah dan pulang dengan menaiki dinding di belakang sekolah. Stella yang menunggu jemputan, justru sial karena bertemu anak nakal itu.

“Hai!” kata Hilman mengaggetkan Stella.
“Loh, kamu? Kemana tadi? Pak guru nyariin kamu. Katanya kamu bisa dapet hukuman dari BK kalau kamu nakal terus seperti itu.” Jelas Stella.

“Ah, itu nggak penting. Aku emang terkenal nakal disini, tapi nggak pernah di drop out karena aku sering berprestasi..” kata Hilman sambil membusungkan dadanya.

“Eh, ngomong-ngomong kamu nggak kangen ma aku dikelas tadi? Kangen kan pasti walau baru pertama ketemu? Ayo deh ngaku..” Tanya Hilman.

“Hahaha. Ngapain kangen ma orang yang nggak aku kenal? Ada-ada aja.”
“Sialan. Ini cewek susah banget ditaklukin. Nggak kayak cewek lain di sekolah ini.” Pikir Hilman.
“Ini cowok siapa sih? Belum kenal aja udah kayak gini. Banyak pengen tahunya.” Pikir Stella.
“Kak, ayo pulang!” ucap Sonia dari seberang jalan.

“Iyaa! Aku pulang dulu deh. Bye!” kata Stella meninggalkan anak nakal itu.
“Eh, kok?” Hilman kaget.
Ia lalu mengikuti Stella menyebrangi jalan yang agak ramai itu. Ia pura-pura membantu Stella menyebrangi jalan.

“Hahaha. Papanya pasti akan ngira kalau aku anak yang baik.” Pikir Hilman.
“Nih anak ngapain lagi ikutan nyebrangin jalan ini?” pikir Stella.
Mereka pun sampai diseberang jalan.

“Terima kasih ya nak udah bantuin Stella menyebrang jalan.” Kata Papa Stella.
“Eh, Pa. Bu..”

“Oh, iya Om. Sama-sama. Saya juga seneng kok bisa bantuin Stella.” Hilman memotong apa yang akan dibicarakan Stella.

“Ya udah, kita pulang dulu ya nak.”
“Iya Om. Hati-hati, jaga anak Om yang cantik itu.” Kata Hilman sambil menunjuk ke arah Stella.
Mereka akhirnya pulang. Anak nakal itu tertawa keras karena Papa Stella mengira bahwa ia membantu anaknya menyebrang jalan. Padahal Hilman hanya ingin menyebrang dan makan bakso di seberang jalan.

“Hari ini aku kayaknya seneng banget. Hahaha.” Batin Hilman.
Sementara itu..
“Anak laki-laki tadi namanya siapa?” Tanya Papa.
“Nggak tahu deh siapa namanya. Hilmin atau Hilman gitu kayaknya..” jawab Stella.
“Temen pertama kamu ya?”
“Bukan Pa, bukan..”
“Ohh, aku tahu kak. Itu pacar kakak ya? Haha.” Ejek Sonia.


“Idih, apalagi pacar. Cowok itu tuh nggak jelas banget dari mana. Tiba-tiba ajak ngajak kenalan aku. Dia tadi juga dihukum suruh ngerjain soal, kata murid lain belum pernah diajarin ma Pak guru. Anehnya dia bisa. Dan waktu mau dipanggil Pak guru buat masuk kelas lagi, dia malah nggak ada di depan kelas. Tahunya malah bolos..” terang Stella.

“Ohh, begitu ya..” ucap Papa.

Hari itu telah berlalu. Hari selanjutnya datang. Seperti biasa, si anak nakal selalu menganggu Stella walaupun ia tahu Stella sama sekali tidak mempedulikannya. Meskipun begitu, itu tetap terjadi. Dan di keluarga aureliana, mereka juga seperti biasanya, berada dalam keharmonisan sebuah keluarga yang sulit untuk didapatkan di keluarga manapun.

Hari-hari terus berlalu. Waktu berjalan, serasa makin cepat. Dan hari sabtu telah tiba. Hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh Stella untuk bisa bertemu saudaranya di Bandung. Dan waktu yang dinanti tiba juga. Stella dan Sonia dihantar Papanya datang ke rumah aureliana bersaudara tanpa sepengetahuan keluarga disana. Stella mengetuk pintu dan memanggil satu-satu nama saudaranya disana.


“Mel! Ve! Cleo! Shania! Sonya! Ochi! Nabilah!” teriak Stella.


Tak ada satu pun dari mereka menjawab. Termasuk Ayah dan Bundanya disana. Stella lalu kunjung sedih. Ia kecewa karena kesempatannya untuk bertemu keluarga disini serasa hilang. Setelah penantian lima hari, hanya ada dua hari saja ia bisa bersama mereka. Tapi mereka justru tidak ada.

“Kamu mau nemuin siapa nak?”

Stella merasa ia mengenali suara itu. Ia membalikan tubuhnya ke belakang, dan ternyata Bunda, Ayah, dan saudaranya ada di taman saat itu.

“Bundaa?” kata Stella lalu memeluk Bunda juga Ayah.
“Kalian? Kalian sehat kan disini? Baik-baik aja kan?” Tanya Stella kepada semua saudaranya.
“Nggak Stell, kami kurang sehat..” Jawab Melody.

“Loh kenapa Mel? Kenapa kalian bisa kurang sehat?”
“Karena kamu udah lama nggak tinggal disini..” ucap Melody.

Stella terharu. Mereka semua pun berpelukan, tertawa, bercanda dan mengobrol panjang lebar untuk melepas kerinduan. Stella juga memperkenalkan adiknya pada saudaranya, mereka menyambut dengan baik. Keakraban kembali terjalin seperti dulu. Ayah, Bunda, Papa, dan Mama mereka bahagia melihat anak-anaknya bisa sangat rukun seperti itu.

“Eh, kita nyanyi yuk? Lama kan nggak nyanyi bareng?” ajak Shania.
“Iya ayo. Lagu yang baru yaa..” kata Melody.
Stella tidak tahu lagu apa itu. Yang pasti, merindukan kebersamaan itu, dan mendengar mereka bernyanyi.


Berapa banyak memori kita yang telah berlalu?
Berapa juta kenangan kita yang ada di masa lalu?
Apa kau mengingatnya? Apa kau mengingatnya?
Kami merindukan hari dimana kau ada disini
Dimana kau mendengar tangisku
Dimana kau mendengar tawaku
Ini bukan perpisahan biasa, ini adalah kebahagiaan yang tak lengkap tanpamu


Mendengar lagu itu, Stella jadi tahu bagaimana besarnya cinta dan kasih sayang dari keluarganya itu. Bukan masalah berapa banyak jumlah mereka, tapi itu masalah berapa banyak dari mereka yang ada untuknya saat ia membutuhkan. Bukan masalah seberapa besar cinta mereka, tapi seberapa tulus mereka mencintainya. Penantian yang lama, akhrinya terlupakan setelah peristiwa itu. 

Semua kembali diselimuti kebahagiaan yang dulu pernah hilang. Kembalinya satu orang keluarga lebih berarti dari pada datangnya seratus teman. Itulah yang mereka rasakan. Itulah arti sebuah keluarga. Bukan hanya untuk Stella dan mereka, tapi untuk sebuah keluarga. Ini adalah akhir dari arti sebuah keluarga, dimana mereka kembali menemukan surga dunianya. Kebahagiaan mereka bukan karena lebihnya materi, tapi karena besarnya rasa cinta, kebersamaan, kesederhanaan dan kepercayaan satu sama lain. Itulah yang sering di salah artikan.


Akhir dari sebuah cerita bukan berarti akhir yang kosong. Akhir dari sebuah cerita akan membuka sebuah cerita baru. Dan akhir dari sebuah kehidupan akan selalu berakhir dengan kebahagiaan. Karena jika tidak diakhiri dengan kebahagiaan, itu bukanlah akhir..

~ End ~