Selasa, 26 Februari 2013

Arti Sebuah Keluarga - part 2


Arti Sebuah Keluarga - part 2




Pagi yang cerah mengawali kehidupan baru Aureliana bersaudara. Mereka sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah dan memulai aktivitasnya. Stella yang sudah tahu bahwa ia bukan anak kandung dikeluarga ini mencoba melupakan hal itu. Hanya satu bulan waktu yang ia miliki bersama keluarga ini, dan ia akan gunakan sebaik-baiknya..

“Kami berangkat dulu ya Yah, Bun..” ucap Stella.
“Iyaa. Semuanya hati-hati dijalan yaa.” Kata Bunda.

Semua pun berangkat ke sekolah seperti biasa. Stella sangat menikmati sisa waktu yang ia miliki bersama keluarga yang sudah membesarkannya itu. Walaupun hanya sebentar, ia tak mau terlalu memikirkan itu. Kemarin adalah masa lalu, hari ini adalah hidupku, esok adalah masa depanku. Itu yang ada dalam pikiran Stella.

“Eh, ada yang tahu nggak? Kemarin katanya ada yang nagis lohh..” ejek Ochi.
“Emang iya yaa? Siapa Chi?” Tanya Shania.

“Itu tuh, yang pakai sepeda warna pink..” sambil menengok ke Stella.
“Apa? Emang iya yaa kak? Kak Stella nangis kenapa?” Tanya Nabilah.
“Nggak papa kok Bil, aku cuman terharu aja lihat album fotoku waktu masih kecil. Jadinya pengin nangis..” Jawab Stella.

“Emang iyaa sih. Mataku kadang berkaca-kaca kalau lihat foto masa kecil kita.” Tambah Sonya.
“Kalau berkaca-kaca sih nggak papa Nya, lah ini sampai nangis loh. Haha.” Ejek Ochi lagi pada Stella.

“Memang kamu nggak pernah nangis ya Chi? Bukannya dulu waktu kecil kamu mainan sendok plastic dan kena matamu sendiri aja nangis yaa?” ejek Ve.

“Apa? Emang pernah? Aku nggak inget..” ucap Ochi cemberut.
“Jelas pernahlah, orang waktu itu kamu mainnya sama kak Imel kok. Haha. Iya kan Mel?” terang Ve.
Melody hanya terdiam. Ia masih berpikir ada masalah apa sebenarnya pada Stella. Ia masih memikirkan kata-kata yang kemarin diucapkan Stella. Kata-kata itu menjurus ke sebuah perpisahan. Tapi Melody tidak mau berpikiran negative.

“Tuh kan, kak Imel aja diem. Berarti kak Ve bohong..” ucap Ochi.
“Ehh, apa? Enggak kok, kata Ve tadi tuh bener. Kamu pernah nangis karena main sendok.” Ucap Melody gugup.

“Hahahaha. Kak Ochi memalukan. Mainan sendiri, nangis sendiri.” Ejek Nabilah.
“Nabilah juga punya kenangan seperti itu loh. Jangan dikira enggak.” Kata Sonya.

“Iya. Aku inget. Waktu itu Nabilah lagi main sama aku, Shania dan Sonya.” Tambah Cleo.
Ditengah semua pembicaraan yang hangat itu, Stella hanya tersenyum-senyum saja. Ia tidak mau memusingkan hal yang telah terjadi. Yang ia tatap kini adalah apa yang ada sekarang, dan apa yang akan terjadi esok..



Tak terasa perjalanan ke sekolah sudah dekat. Mereka mulai berpisah satu per satu seperti biasanya. Mengikuti pelajaran disekolah seperti biasa, mengawali hari itu dengan doa, dan menjalani hari itu dengan senyuman.

Stella yang terpilih sebagai peserta kontes model antar sekolah pun mulai berlomba. Ia dihantar oleh guru pembimbingnya mengikuti lomba itu. Satu jam waktu diberikan oleh panitia lomba untuk melatih para peserta agar bisa berakting baik di depan kamera. 

Kontes model yang berlangsung di Bandung itu diikuti oleh lebih dari dua puluh SMA dari Bandung. Semua peserta yang ada disana cantik-cantik, parasnya manis, dan menarik. Stella sempat tidak percaya diri setelah melihat para peserta yang ada. Ia sempat gugup. Disana, ia merasa bahwa ia memliki paras paling jelek dari pada peserta lain.

“Kamu gugup ya Stell?” Tanya guru pembimbingnya.

“Iyaa Bu. Semua peserta disini cantik. Saya jadi kurang percaya diri Bu..” jawab Stella.
“Kalau semua pesertanya cantik, kamu termasuk cantik atau nggak?” Tanya gurunya lagi.

“Ehh. Iyaa juga ya Bu. Berarti disini saya termasuk yang cantik juga. Hehe.” Kata Stella.
“Kalu begitu kenapa kamu harus gugup? Modeling itu tidak mengutamakan kecantikan atau paras, semua itu nomer dua. Kamu tahu apa yang nomer satu?” Tanya gurunya.

“Enggak Bu. Emang apa Bu?”

“Yang nomer satu itu adalah kepercayaan diri dan cara memikat orang lain. Kalau kamu bisa percaya diri, itulah dasarnya. Setelah itu, kamu harus bisa memikat orang yang melihat kamu. Pikat mereka dengan senyuman dan pesonamu. Itulah yang dimaksud kecantikan paras didunia modeling ini. Tahu kan?” terang guru Stella diakhiri dengan senyuman.

“Tahu Bu. Terima kasih Bu.” Ucap Stella.

Rasa percaya diri Stella telah bangkit lagi berkat nasehat gurunya. Kini ia siap mengikuti lomba itu dengan penuh semangat dan kerja keras. Stella lalu berlatih pose oleh gurunya.

Satu jam berlalu. Para peserta bersiap satu per satu untuk berpose dan diambil gambarnya. Stella mendapatkan nomer urut terakhir. Ia bisa lebih mempersiapkan dirinya selagi peserta lain berlomba.

Sementara itu, Shania, Sonya dan Ochi sedang berolahraga. Mereka bermain voli. Mereka sangat pandai memainkan olah raga yang satu ini. Tidak heran kalau mereka terpilih menjadi tim inti voli untuk wanita. Guru olahraga mereka sangat bangga akan hal itu. Shania, Sonya, dan Ochi sudah berkali-kali membawa sekolahnya menjadi juara di kejuaraan voli. Entah antar daerah, atau antar kota.


Dicerita yang lain, Nabilah sedang asik-asiknya beristirahat sambil memakan bekal yang dibawakan oleh Ibundanya. Seperti biasa, ia senang bila Ibundanya membawakan bekal yang lauknya telur dadar ataupun telur mata sapi. Karena itu makanan favorit Nabilah sejak kecil. Ia memakan semua itu dibawah pohon rindang dibelakang halaman sekolahnya. Angin yang berhembus membuat suasananya sejuk untuk Nabilah.


Melody, Ve, dan Cleo juga sedang beristirahat. Tapi mereka tidak beristirahat karena harus menyelesaikan tugas praktikum yang diberikan guru mereka. Mereka bertiga sangat semangat di mata pelajaran IPA. Mereka adalah jagonya untuk masalah itu. Melody sangat pandai Biologi, Ve sangat berbakat di Fisika, sementara Cleo adalah jagonya Kimia. Murid-murid yang lain juga mengakui kepandaian mereka. Mereka bertiga adalah juara dikelasnya masing-masing.

Dan di kontes model yang sedang berlangsung, tibalah giliran Stella. Ia memasuki ruang penjurian dan pengambilan gambar dengan rasa percaya diri yang tinggi. Pose demi pose ia tampilkan. Peserta lain melihat dari layar LCD yang ada diluar ruangan itu. Peserta lain kagum melihat apa yang dilakukan oleh Stella. Apalagi guru pembimbingnya. Suatu saat, kamu akan menjadi seorang model. Ucap guru pembimbing Stella dalam hati.


Akhirnya lomba pun selesai. Tiba saatnya pembacaan nilai oleh juri. Para peserta rata-rata mendapat nilai total tinggi, tujuh ratus sampai delapan ratus dari ketiga juri. Tibalah pembacaan nilai terakhir yang tidak lain untuk Stella. Stella dan gurunya sudah sangat berdebar-debar menanti itu.


“Baiklah, sekarang nilai untuk peserta terakhir bernama Stella Cornelia Winarto. Nilai untuk peserta nomor urut empat puluh delapan ini adalah..” ucap salah seorang panitia yang terhenti.
Para peserta termasuk Stella sangat penasaran akan hal itu.


“Maaf untuk peserta nomer urut empat puluh delapan, ananda harus pulang dengan tambahan beban karena ananda akan membawa pulang piala nomor satu kejuaraan kontes model antar kota ini.” Ucap panitia dengan kerasnya.

“Yeee! Yeeee! Bu guru, saya menang. Saya menang Bu!” teriak Stella dengan senangnya.
“Iyaa Stell, selamat ya. Ibu tahu kamu pasti bisa.” Ucap gurunya.


Semua peserta memberikan tepuk tangan untuk Stella yang telah menjadi juara satu lomba itu. Para peserta yang dekat dengannya juga bersalaman dan memberi selamat kepada Stella.

“Untuk para peserta, harap diketahui bahwa nilai Stella adalah yang tertinggi. Ananda menang dengan raihan nilai sembilan ratus tujuh puluh enam. Selamat untuk ananda. Piala akan diberikan oleh juri kepada peserta juara satu, dua, dan tiga.” Lanjut panitia.


Stella dan peserta juara lainnya naik keatas panggung untuk menerima piala. Piala yang diterima Stella cukup besar. Dan dipiala tersebut terlulis namanya sebagai juara satu lomba kontes model SMA antar kota. Guru pembimbingnya yang sangat bangga akan hal itu langsung menelpon kepala sekolah untuk memberi tahukan kabar gembira ini.

“Halo Pak?”
“Iyaa Bu. Ada apa?”
“Stella murid kita menang sebagai juara satu lomba model SMA antar kota pak.” Ucapnya dengan gembira.


“Yang benar Bu? Selamat kalau begitu. Saya akan beritahukan pada guru dan saudaranya disini Bu, mereka pasti gembira.”

“Iya pak. Terima kasih. Kita akan segera kembali ke sekolah setelah ini.”
“Iya Bu. Kami tunggu..”

Pembicaraan ditelpon mereka pun berakhir. Stella dan gurunya segera kembali ke sekolah dengan membawa sebuah piala. Piala itu diletakkan di tempat duduk belakang mobil. Stella dan gurunya mengobrol dalam perjalanan kembali ke sekolah.

Sesampai disekolah, Melody, Ve dan Cleo sudah menyambut Stella. Begitu juga beberapa guru yang bangga dengan prestasi muridnya itu.

“Selamat ya Stell, kamu jadi juara satu. Kita semua bangga sama kamu.” Sambutan Melody.
“Terima kasih Mel..” ucap Stella terharu melihat semua orang didekatnya saat ini sangat perhatian kepadanya.

Para guru juga memberi semangat dan tambahan motivasi untuk Stella dan murid lainnya. Kepala sekolah secara langsung mengucapkan bahwa beliau bangga dengan semua prestasi yang dicapai oleh murid-murid disekolah itu. Raihlah mimpimu selagi bisa. Usaha keras, semangat, percaya diri, pantang menyerah, latihan, dan doa adalah kuncinya. Itulah kalimat terakhir yang dikatakan oleh kepala sekolah. Semua murid tergugah karena itu. Murid-murid yang mendengar semua itu menjadi bangga dan semakin bersemangat untuk meraih prestasi lainnya.

Semuanya berlalu, tapi tidak untuk kebahagiaan Aureliana besaudara ini. Mereka bersepeda

pulang ke rumah dengan penuh semangat dan bahagia untuk mengabarkan berita yang baru saja terjadi. Ayah dan Bunda menyambut hal itu dengan sangat senang. Mereka bangga pada anak-anaknya. Semua yang terjadi hari ini dilalui oleh Melody, Stella, Cleo, Ve, Sonya, Shania, Ochi, dan Nabilah dengan baik seperti hari yang lalu. Prestasi yang mereka raih seakan tidak terbendung.

Hari demi hari terus mereka lalui bersama. Tawa, canda, dan keharmonisan selalu ada di keluarga itu. Waktu Stella bersama dengan mereka semakin sedikit. Sudah dua minggu berlalu, dan dua minggu tersisa. Tapi ia tetap menikmati hari itu seperti sebelumnya.

“Hari ini aku menjuarai lomba kontes model. Aku sangat bahagia. Aku lebih bahagia karena aku bisa menjadi bagian dikeluarga yang tidak lama lagi akan aku tinggalkan ini. Tapi semua keakraban ini belum waktunya untuk berakhir. Aku masih memiliki empat belas hari tesisa dengan keluarga ini, tak akan aku sia-siakan. Terima kasih Tuhan atas semua ini. Semoga hari-hari berlalu semakin lama agar aku bisa disini lebih lama lagi. Semoga waktu yang aku lalui tidak cepat berlangsung, agar aku masih bisa bersama keluarga ini. Aku sayang semua yang ada disini. Inilah arti keluarga untukku..” 

Stella Cornelia

Itulah yang dituliskan Stella di buku diary miliknya. Ia pun langsung tidur untuk bermimpi indah malam itu. Mimpi panjang selalu ia harapkan agar hari esok datang terlambat. Melihat Stella yang sudah tidur pulas, Ayah dan Bunda masuk ke kamar lalu membuka dan membaca buku diary yang ada diatas meja milik Stella. Ayah dan Bunda terharu setelah membaca itu..


“Selamat tidur Stella. Ayah dan Bunda sayang kamu..” ucap pelan Ayah.
Ibunda pun mengecup kening Stella untuk menghantarkannya menuju mimpi indah..


Arti Sebuah Keluarga - part 1


Arti Sebuah Keluarga - part 1



Arti Sebuah Keluarga

Bersama kita kan berdiri hadapi cobaan dan lalui semua..
Tak akan pernah ditinggalkan dirimu sendiri..
Bersama semua kesedihan yang ada..

Itulah cuplikan lagu yang sering dinyanyikan oleh Melody, Stella, Cleo, Shania, Ve, Ochi, Sonya, dan Nabilah. Setiap dari mereka memiliki bakat dan keunikan sendiri. Sebagai sesama saudara, mereka saling menghormati dan menghargai satu sama lain.

Mereka pun jarang mempertengkarkan sesuatu. Keakraban mereka sudah lama terjalin sejak masih kecil. Karena sudah lebih dari sepuluh tahun mereka bersama, mereka dapat memahami perasaan satu sama lain.

Disaat salah satu dari mereka mendapatkan masalah, yang lainnya senantiasa menolong. Begitu, dan sebagainya. Saat senang, sedih, haru, canda, dan tawa sudah menjadi keseharian mereka.

 Suasana harmonis selalu terjalin di keluarga yang anak-anaknya sering dipanggil “Aureliana” bersaudara itu. Entah dari mana julukan itu berasal, mereka sudah terbiasa dipanggil dengan panggilan itu.

“Anak-anak, ayo bangun. Terus mandi, makan, dan sekolah. Nanti telat lho.” Perintah bunda aureliana bersaudara itu.

Satu per satu dari mereka lalu terbangun. Mereka tidur di dalam satu kamar yang sangat luas. Dimana ada empat ranjang bertingkat untuk masing-masing dua orang. Dikamar mereka juga tersedia delapan almari pakaian, delapan kaca rias, dan delapan jendela kamar. Kebanyakan barang yang ada di dalam kamar itu serba delapan.

“Ayo, cepat mandi sana. Terus makan.”
“Iyaa, Bunda.” Bersamaan mereka menjawab.
Ada empat kamar mandi di pojok kiri ruang dapur. 

Setiap dari mereka bergantian menggunakannya dengan akur, tanpa berebutan. Selesai mandi, mereka masuk ke kamar untuk mengenakan seragam sekolah, sedikit berias, dan menuju meja makan yang terletak tepat dibawah lantai kamar mereka.

“Bunda, Ayah kemana sih? Kok nggak kelihatan?” Tanya Melody yang akrab di panggil Imel.
“Iyaa nih. Biasanya Ayah makan pagi bareng sama kita.

 Kenapa sekarang enggak?” tambah Shania.
“Ayah kalian pergi ke luar kota pagi tadi. Ayah sedang ada urusan pekerjaan disana. Doakan saja Ayah kalian baik-baik saja disana, dan perkerjaannya lancar. Jadi bisa cepat pulang..” terang Ibunda.
“Hmm. Emang urusan apa Bun?” Tanya Stella.

“Urusan masalah proyek industry kopi di Jogja. Ayah kalian sebagai direktur disana.”
“Wahh, asik dong. Nanti Ayah pulang bisa bawa uang banyak. Dan aku bisa minta dibeliin telur ayam banyaaak banget. Hhehehe..” celetus Nabilah.
“Hih, kamu ini Bil. Pikirannya telur mulu.” Ucap Ochi.

“Iya nih. Kalau enggak telur dadar, pasti telur mata sapi. Hati-hati loh kamu.” Kata Ve menakuti Nabilah.

“Tapi aku kan suka. Mau gimana lagi. Apa kalian nggak suka? Nggak mungkin..” ucap Nabilah sambil mengejek Ve dan Ochi.
Sonya hanya diam dan tersenyum melihat kelakuan saudaranya yang lucu itu.

“Sudah, sudah. Makan dulu, jangan banyak omong..” lerai Cleo.
 “Iyaa. Sudah ayo cepat selesaikan makannya, terus berangkat sekolah. Nanti telat.” Perintah Bunda mereka.
 “Iyaa, Bunda..” serentak semua menjawab.


*


Melody, Stella, Cleo, Shania, Ve, Ochi, Sonya, dan Nabilah berpamitan pada Bundanya. Mereka bersama mengambil sepeda mereka masing-masing di garasi didepan taman bunga. Mereka sudah dengan sepedanya masing-masing dan bersama-sama berangkat ke sekolah.

Diperjalanan mereka mengobrol, kadang bernyanyi dan bercanda. Suasana pagi yang masih agak hening itu berubah menjadi hangat karena keakraban mereka.

 Sekolah mereka juga berderetan. SD, SMP, dan SMA berderet dari kanan ke kiri. Satu per satu dari mereka memasuki sekolahnya masing-masing. Nabilah masuk ke SD nya, Shania, Ochi, dan Sonya masuk ke SMP, sementara Melody, Stella, Cleo dan Ve masuk ke SMA mereka.

Diantara mereka, Nabilah lah yang paling merasa kesepian karena tidak ada kakak-kakaknya yang satu sekolah dengannya. Maka dari itu, saat istirahat sekolah, Nabilah sering keluar dari sekolah dan menghampiri kakak-kakaknya di SMP maupun SMA. 

Tapi setelah istirahat selesai, ia pun kembali lagi ke sekolahnya. Kakak-kakaknya memaklumi hal itu. Karena Nabilah juga adik yang paling kecil, maka mereka sangat sayang padanya.

Bel pulang sekolah pun berbunyi. Nabilah yang sudah dulu keluar, menanti kakak-kakaknya di depan gerbang SMP.

“Ehh, dek Nabilah udah nungguin. Lama yah?” ejek Shania sambil mencubit pipi Nabilah.
Ochi dan Sonya tertawa melihat itu. Sementara Nabilah cemberut karena dikerjain kakak-kakaknya itu.

“Yaudah deh, ayo kita nungguin kak Imel dan lainnya.” Ajak Sonya.
“Iyaa, yuk.” Ucap Ochi sambil mengajak Nabilah dan Shania.
Hanya beberapa kayunan sepeda, mereka sudah sampai di depan gerbang SMA tempat kakak mereka sekolah. Ternyata Melody, Stella, Cleo dan Ve sudah menunggu.
“Kak, kok udah keluar sih? Tumben pulang cepet.” Tanya Shania.

“Iyaa Shan, soalnya guru-guru ada rapat. Jadi murid-murid dipulangkan lebih awal..” terang Imel kepada semua adiknya.

“Ehh, kita jalan-jalan yuk? Pada mau nggak?” ajak Stella.
“Kemana?” Tanya Ochi.

“Yaa, kemanalah gitu. Lagian sekarang kan hari sabtu, dan besok minggu. Jadi agak santai buat besok. Gimana, pada mau nggak?” ajak Stella lagi.
“Yaudah, ayo kita bersepeda ke bukit aja. Gimana?” saran Imel.
“Iyaa, aku setuju. Anginnya sejuk, enak suasananya.” Ucap Stella.
“Tapi nanti kalau dicari Bunda gimana kak?” Tanya Sonya.
“Iyaa, gimana tuh?” tambah Ve.

“Yaa kita nggak perlu lama-lama disana. Sebentar aja. Biasanya juga kan kita pulang jam dua siang, lah ini masih jam dua belasan..” kata Stella.

“Udah yuk berangkat aja. Jangan buang waktu disini..” ajak Imel.
Mereka semua akhirnya bersepeda menuju bukit. Mereka mengayun sepeda lebih kuat karena jalan menuju bukit yang menanjak. 

Tidak lebih dari lima belas menit mereka sampai di bukit.
Suasana di bukit saat itu sangat sejuk. Walaupun matahari sedang bersinar cerah dan cuaca sedang panas, tapi pepohonan yang lebat menghalau semua itu.

Mereka memakan bekal sekolah disana. Sambil bersenda gurau mereka menikmati hari itu. Sungguh terlihat keakraban yang sangat sempurna diantara mereka. Seperti sebuah keluarga yang tidak akan pernah bertengkar sampai kapanpun.

Akhirnya mereka semua pulang kerumah. Dirumah, Ibunda mereka sudah menyambut. Mereka lantas mencuci kaki, tangan dan tidur siang.

Ayah mereka pulang dari jogja. Ayah pulang dengan membawa kabar buruk.
“Ehh, Ayah  sudah pulang. Gimana kerjaannya di Jogja?” sambut Bunda.
“Kerjaannya lancar kok Bun. Cuman kemarin Pak Winarto menelpon Ayah.” Jawab Ayah.
“Pak Winarto? Dia bilang apa Yah?

“Pak Winarto ingin mengambil Stella Bun. Beliau bilang kalau beliau mau merawat Stella mulai dari sekarang dan beliau sudah tidak bekerja di Australia lagi. Beliau sekarang bekerja sebagai direktur perusahaan di Jakarta.” Terang Ayah.

“Terus kita harus gimana Yah? Apa kita harus kasih tahu Stella?” Tanya Bunda khawatir.
“Cepat atau lambat, Stella akan tahu siapa orang tua kandungnya.

 Kita juga sudah tidak bisa merahasiakannya lagi. Kita dulu berjanji, apabila orang tua kandung Stella ingin meminta Stella kembali, kita harus menyerahkannya. 

Kita harus tepati itu. Ayah tahu Bunda sangat sayang pada Stella, Bunda sudah merawat Stella seperti anak kandung, Ayah juga merasakan hal yang sama. Tapi bagaimanapun kita bukan orang tua kandung Stella. Kita harus menyadari hal itu.”

“Baik Yah, Bunda nanti akan bicara pada Stella. Semoga dia mau mengerti..” kata Bunda sedih.
Dibalik semua pembicaraan itu, ternyata Stella mendengarnya.

 Stella pun langsung menuju ke kamar setelah mendengar semua itu. Stella yang tadinya ingin memberitahukan pada Bundanya bahwa dia dipilih oleh gurunya menjadi peserta kontes model antar kota pun sirna. Kini justru kesedihan yang menyelimuti hatinya.

Stella menangis. Dia berpikir apa semua itu benar bahwa dia bukan anak kandung dikeluarganya saat ini? Apakah adik-adiknya disini itu hanyalah adik tiri? Dan kenapa orang tua kandungnya tidak mau merawatnya sejak kecil, dan justru meminta orang lain untuk merawatnya? Kini Stella terlanjur sayang pada Ayah dan Bundanya disini. 

Begitu juga pada semua saudaranya disini yang ternyata adalah saudara tiri. Semua pikiran kesedihan dan kegelisahan kini sedang menimpa Stella..

Stella turun dari tempat tidur. Ia membuka almarinya dan mengambil album fotonya. Ia memandangi semua gambar dirinya bersama Ayah dan Bundanya disini. Kenangan dirinya bersama keluarga itu sulit untuk dilupakan. Ia kembali menangis. Ia melihat foto disaat Ayah menggendongnya, saat Bunda menyuapi dan mengganti pakaiannya. 

Saat Stella menangis karena terjatuh ketika dilatih berjalan, dan saat Ia tidur nyenyak dipelukan Bunda. Tangisnya tidak terbendung. Semakin lama semakin keras dan membuat Melody terbangun karena hal itu.

“Kamu kenapa Stell?” Tanya Imel cemas.
“Ehh, nggak papa kok Mel. Terharu aja lihat foto-foto aku waktu kecil. Hehehe.” Jawab Stella menutupi kebenaran yang ada.

“Ohh, hehe. Kirain kenapa. Yaudah, jangan nangis lagi yaa..” ucap Imel.
“Iyaa Mel. Makasih yaa atas semuanya.” Ucap Stella sambil tersenyum.
Melody agak bingung dengan kata-kata Stella yang terakhir. Ada apa sebenarnya? Melody menjadi penasaran. Apa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Stella? Melody ingin tahu..


*


Melody keluar kamar bersama Stella. Mereka menyambut kedatangan Ayah. Melody sangat senang. Tapi Stella justru sedih. Ia hanya termenung dalam kesedihan menemui Ayah.

“Stella, apa kamu nggak senang Ayah pulang?” Tanya Ayah.
“Ehh, iyaa. Stella senang kok Yah. Stella mandi dulu ya, gerah soalnya.”
Stella pergi ke kamar mandi. Ibunda bingung apa yang sedang terjadi pada Stella.
“Bunda, Stella tadi di kamar nangis waktu lihat fotonya masa kecil. Terus Stella juga bilang terima

 kasih atas semua. Imel bingung Bun, ada apa sama Stella..” terang Imel.
Bunda hanya menatap Ayah dan keduanya berpikiran apa Stella sudah tahu hal sebenarnya.

“Nggak papa kok Mel, sudah lupakan saja. Sana kamu juga mandi, ajak saudaramu yang lain.” Perintah Ayah.

Melody pun kunjung pergi dan melaksanakan perintah itu. Stella yang sudah selesai mandi diajak bicara oleh Ayah dan Bundanya.

“Stella, ada apa denganmu nak? Ada masalah?” Tanya Bunda.
“Nggak papa kok Bun, Stella baik-baik aja. Makasih ya Bun, Yah, sudah merawat Stella selama ini. Stella seneng banget bisa berada disini bersama Ayah, Bunda dan saudara lainnya.

 Kalian sudah seperti keluarga sebenarnya untuk Stella. Kalian nggak akan Stella lupakan. Stella sayang sama Ayah dan Bunda, begitu juga semua saudara Stella disini..” terang Stella sambil tersenyum sedih.
“Apa kamu sudah tahu yang sebenarnya?” Tanya Ayah.

“Iya Yah, Stella bukan anak kandung Ayah dan Bunda kan? Stella tahu kok. Tadi Stella denger pembicaraan Ayah dan Bunda. Maaf yaa Yah, Bun, Stella tadi nguping. Stella sudah kurang ajar, maafin Stella..”
“Sudah, nggak papa Stella. Jangan nangis lagi, jangan biarkan saudara kamu ikut sedih karena hal ini. Kami semua disini sudah menganggap Stella sebagai bagian nyata dari keluarga ini. 

Walau Stella bukan anak Ayah dan Bunda, tapi Ayah dan Bunda sayang. Saat nanti Stella kembali ke orang tua kandung Stella, jangan lupakan Ayah dan Bunda yaa. Jangan lupakan saudara kamu disini.

 Bagaimanapun, mereka tetap menjadi saudara kamu. Ayah dan Bunda tetap menjadi Ayah dan Bunda Stella. Kami sangat berharap untuk terus membesarkan Stella sampai Stella memiliki keluarga sendiri.

 Tapi sepertinya semua itu tidak mungkin karena orang tua kandung Stella meminta Stella kembali..” ucap Bunda sambil matanya berkaca-kaca.

“Saat Stella masih bayi, saat pertama kalinya Ayah menggendong kamu, Ayah berharap kalau Stella benar-benar menjadi anak Ayah. Agar Ayah bisa terus bersama Stella, Ayah meminta Pak Winarto untuk menunda Stella untuk dikembalikan.

 Padahal sudah sejak di Australia Pak Winarto meminta Stella kembali karena takut hal ini akan terjadi. 

Tapi Ayah selalu menundanya hanya karena ingin merawat, membesarkan dan bersama Stella. Stella masih punya waktu sebulan bersama keluarga disini. 

Ayah ingin kita semua melalui itu tanpa ada masalah, hanya ada kebahagiaan dan keharmonisan layaknya sebuah keluarga..” jelas Ayah.

“Stella mau kan disini selama sebulan lagi? Beri waktu Ayah dan Bunda untuk menikmati hari itu bersama kamu dan saudara kamu..” Tanya Bunda.

“Stella mau banget Bun, Yah. Terima kasih..” ucap Stella terharu.
Stella memeluk erat Ayah dan Bunda tirinya itu. Ia sempat berpikir bahwa disinilah sebenarnya 
keluarganya. Yang menyayanginnya sejak kecil, merawat, membesarkan dengan penuh kasih sayang. Bagaimanapun, itulah arti sebuah keluarga bagi Stella..


Read more: http://www.jkt48fans.com/2012/10/arti-sebuah-keluarga.html#ixzz2M11mzoxl

Selasa, 12 Februari 2013

Cosplay Girl


The Cosplay Girl



Hari minggu siang matahari di atas kota Depok itu begitu terik menyengat. Dimas baru saja turun dari sebuah bus penghubung antar kota. Ia berdiri di hadapan gerbang sebuah perguruan tinggi ternama di kota Depok.
“Fuh.. sampai juga” ujarnya sembari membasuh keringat di pelipisnya.

            Dimas berjalan memasuki areal kampus tersebut menuju sebuah tempat dimana di dalamnya banyak terdapat stand-stand dan banner bertuliskan “Japan Matsuri 2012”. Hari itu memang sedang diselenggaraka festival kebudayaan Jepang di kampus itu, dan hari minggu itu merupakan hari terakhir. Dimas berjalan di antara kerumunan orang-orang yang memadati festival itu menuju suatu tempat. Dari kejauhan terdengar musik Jepang yang dimainkan dari arah ia menuju yaitu panggung utama, tempat live music untuk melihat penampilan mereka.

            Tiba di depan panggung itu Dimas mengeluarkan sebuah kamera DSLR dari tasnya. Ia mulai beraksi mengabadikan suasana di sekitar sana. Tidak hanya aksi band yang tampil dengan mengcover lagu-lagu Jepang ia juga megnabadikan suasana sekitarnya, penonton dan beberapa orang cosplayer yang mengenakan kostum ala Shinigami berdiri di depan panggung.

            Hari sudah semakin sore, ketika tiba giliran cover band favoritnya yang tampil ia mengambil tempat sedikit ke samping panggung agar lebih leluasa memotret.

“Volcanoes Vs.. ini dia cover band yang keren banget” ujarnya bergumam sendiri dalam hati sambil terus menjepret aksi band yang membawakan lagu-lagu keras dari MUCC tersebut. Ia kemudian memutar arah kameranya ke penonton yang juga sedang asik menikmati musiknya. Mendadak ia terpaku pada sosok seorang cosplayer perempuan yang berdiri lumayan jauh dari kerumunan penonton. Ia mengenakan kostum seifuku berwarna putih dengan tambahan dasi biru muda, rok sekolah berwarna merah bermotif kotak rambutnya yang dikepang dua dirias dengan bando biru, ia juga mengenakan kacamata. Mideru, itulah kesan yang didapat saat pertama melihatnya.

            Secara tidak sengaja Dimas menekan shutter kameranya, ia sempat terpaku cukup lama memandang gadis cosplayer yang wajahnya sedikit murung itu sebelum sang gadis menyadarinya, ia menatap ke arah Dimas. Wajahnya tampak kesal, ia kemudian berbalik arah dan pergi meninggalkan tempat itu. Dimas tertegun, tidak ada maksud untuk mengambil gambar gadis itu secara diam-diam, ia hanya tidak sengaja menekan shutter kamera ketika sedang memotret suasana penonton. Ia merasa tidak enak hati telah membuat gadis cosplayer itu tidak nyaman. Ia berniat mengejarnya untuk minta maaf tapi sudah keburu menghilang di tengah kerumunan orang yang begitu padat.

***

            Sebulan sudah berlalu sejak peristiwa itu, Dimas kini berada di festival lainnya yang lebih besar dan lebih meriah. Festival itu berada tepat di jantung ibukota Jakarta, yaitu di kawasan monumen nasional. Seperti biasanya dia baru datang di hari terakhir ketika penampilan band yang membawakan lagu-lagu Jepang lebih banyak tampil. Ia memang gandrung terutama dengan lagu-lagu rock dari negeri sakura itu. Saat itu masih sekitar jam dua siang, ia memutuskan untuk berputar-putar melihat stand-stand yang menjual aneka barang yang berbau Jepang.

            Ketika melewati sebuah stand yang menjual poster salah satu anime kesukaannya ia terkagum-kagum menatap poster itu sambil terus berjalan tanpa menyadari di depannya ada seorang cosplayer berjalan berhadapan, yang juga tidak melihat ke arah depan. Kontan saja keduanya bertubrukan dengan keras. Gadis itu terjatuh ke tanah.

“Ah.. maaf.. maaf” Dimas gelagapan ia segera membantu gadis itu berdiri.
“Iya.. tidak apa-apa, maaf aku juga tidak melihat” kata gadis cosplayer itu. Ia tampak mengenakan yukata berwarna biru dengan motif bunga-bunga dan rambut yang dikepang dua dengan pita berbentuk bunga. 



Dimas tersentak kaget, segera saja ia menyadari bahwa gadis di hadapannya adalah orang yang tidak sengaja dipotretnya sewaktu matsuri bulan lalu.

“Aduuh...sobek!” gadis itu memeriksa yukatanya dan mendapati bagian lengan kiri sobek karena tertahan sewaktu jatuh tadi. Sobekannya cukup lebar.

“Gimana nih.. aku harus tampil ke atas panggung sebentar lagi” katanya panik
“Kamu ikut kompetisi cosplay?” tanya Dimas. Gadis itu mengangguk pelan saja.
            Dimas merasa bersalah, ia berpikir keras bagaimana sebaiknya mengatasinya. Ia lalu berkata padanya

“Kamu tunggu di sini ya” Dimas melesat berbalik ke arah sebuah stand yang dilewatinya tadi, yang menjual pakaian tradisional Jepang atau yukata untuk perempuan. Ia mencari yukata dengan motif yang menurutnya sesuai dengan yang gadis itu.

“Dapat! Ini mungkin paling mirip” serunya sambil mengambil sebuah yukata berwarna dasar putih dengan motif bunga-bunga sakura. Ia kemudian membayar dan membawanya kepada gadis itu.
“Ini.. coba yang ini”

“Ah” gadis itu tampak terkejut ketika Dimas membawakannya sebuah yukata baru.
“Kak, tidak usah repot-repot”
“Tidak.. tidak ada yang repot.. itu tadi salahku. Cepat nanti kamu keburu dipanggil ke atas panggung”

            Gadis itu kemudian menerimanya dan bergegas pergi ke ruang ganti peserta cosplay. Dimas menunggunya, tak berapa lama dia keluar sudah mengenakannya. Bertepatan dengan itu nomor urut peserta kompetisi cosplay mulai dipanggil satu per satu.
“Ayo cepat” seru Dimas yang kemudian direspon oleh anggukan kepala gadis itu. Mereka berjalan cepat menuju stage. Mereka tiba tepat pada waktunya
“Untung keburu”

            Gadis itu naik ke atas panggung, ia memperkenalkan karakter yang diperankannya dan berpose seperti halnya peserta cosplay lain. Dari bawah panggung Dimas mengambil foto. Dia begitu anggun pikir Dimas, ia pasti sangat menjiwai karakter yang diperankannya itu.

            Juri kompetisi memberi komentar atas penampilannya, secara keseluruhan tangapan yang diberikan semuanya bagus. Sambil menunggu pengumuman pemenang Dimas dan gadis itu pergi ke sebuah kedai takoyaki.

“Terima kasih banyak kak.. aku gak tau gimana jadinya kalau kostum tadi gak cepat diganti” ujar gadis manis itu.

“Sama-sama.. memang aku yang salah tadi udah bikin kostum kamu robek”
Gadis itu terdiam sebentar menatapnya, kemudian ia mengulurkan tangannya
“Namaku Viviyona” ia memperkenalkan diri
Dimas tidak langsung merespon, ia masih bengong menatapinya.
“Kak?”

“Ah iya..“ Dimas tersadar dari lamunannya “Viviyona ya? Nama yang bagus” respon Dimas secara spontanitas.
“Panggil saja Yona. Nama kakak siapa?”
“D” jawab Dimas pendek. “Panggil saja begitu. Itu inisialku”
“Nama apaan itu?” Yona bertanya sambil tertawa
Dimas tersenyum “Biar kesannya misterius begitu, seperti karakter KIRA atau Ogami Rei”
Yona tertawa  “Hihi... Kakak aneh deh. Ternyata suka anime juga, tapi kok sukanya dengan karakter jahat seperti itu?

“Menurutku karakter mereka tidak jahat, mereka hanya idealis”
Keduanya kemudian diam. Dimas bukan orang yang pandai memulai pembicaraan dengan orang lain, Yona juga sepertinya begitu. Tapi kemudian Dimas mulai memberanikan diri mengajaknya bicara
“Jadi, kamu suka ikut cosplay ya?” tanya Dimas

“Iya.. aku suka banget.. rasanya seperti menjadi karakter yang kita perankan itu”
“Begitu ya? Aku selalu kagum melihat cosplayer, karena mereka bisa mengekspresikan apa yang mereka perankan tanpa merasa minder di depan umum”

Yona memandangi Dimas, tatapan matanya sangat dalam persis seperti heroine (tokoh anak perempuan) dalam animasi. Sadar diperhatikan, Dimas kemudian langsung mengungkit kejadian bulan lalu.
“Itu... tentang apa yang terjadi bulan lalu. Aku betul-betul tidak sengaja”
“Eh?”

“Waktu itu aku cuma mau memotret penonton, tapi entah kenapa aku tidak sengaja memotret ke arah kamu. Karena itu aku minta maaf”
“Ooh.. soal itu ya. Gak apa-apa kak, aku juga terlalu sensitif. Aku memang benci dengan stalker, tapi aku tau kakak bukan orang seperti itu”

“Kenapa kamu bisa beranggapan begitu?”
Yona tersipu menjawabnya “Karena.. aku juga sempat memperhatikan waktu itu, kakak hanya fokus memotret band yang tampil di atas panggung. Jadi aku tau waktu itu pasti tidak sengaja. Aku memang sedang kesal saja waktu itu jadi langsung pergi”
“Kalau boleh tau kenapa?”

Yona diam sebentar kemudian menjawabnya “Soalnya aku gagal total di kompetisi waktu itu. Padahal kostumnya sudah kubuat susah payah, tapi ternyata gak menang. Ya  aku kecewa berat”
“Begitu ya..” Dimas menjawabnya sambil melahap takoyaki miliknya. “Tapi menurutku, kompetisi itu bukan soal menang atau kalah”
“Maksud kakak?”

“Iya.. tentu ada hal yang lebih berharga untuk diambil ketika kita mengikuti sebuah kompetisi atau semacamnya.”
Dimas mengambil gelas minumannya kemudian melanjutkan
“Ini tentang sikap, berusaha dengan kemampuan terbaik kita, bagaimana kita belajar dari orang lain, menghargai kemampuan orang lain, saling menghormati dan sebagainya. Jika cuma menang dan kalah itu tidak ada artinya”

Yona tersenyum manis mendengarkan kata-kata filsuf dari Dimas itu. Kata-kata itu seperti memberikan arti baru baginya.

“Yah.. itu hanya pendapatku saja”
“Tidak sepertinya memang kakak benar. Kita memang jangan terbebani dengan hal-hal semacam itu kan? Ngomong-ngomong kakak suka fotografi ya?” tanya Yona sambil menunjuk kamera di samping Dimas.
“Yah.. tidak bisa dibilang suka juga sih. Tapi ini untuk mendukung pekerjaanku”

“Memang pekerjaan kakak apa?”

“Oh.. itu rahasia” jawab Dimas sambil tertawa lagi
“Nama pake inisial, kerjaan juga dirahasiain segala. Kakak ini sebetulnya siapa sih?”
“Hehe.. biar saja begitu. Orang yang misterius seperti Raito Yagami, Kan lebih seru”
“Huu.. sok misterius”

            Hari semakin sore ketika tiba saatnya pengumuman lomba cosplay keluar. Tanpa diduga Yona keluar sebagai juara ketiga. Gadis itu meloncat kegirangan ketika mengetahuinya, sampai secara tidak sadar merangkul tangan Dimas.

Omedetou, Selamat ya Yona”

“Iya terima kasih banyak kak, ini berkat kakak juga mungkin. Kalau waktu itu kakak tidak belikan yukata baru mungkin aku tidak akan menang apa-apa”
“Tapi mungkin saja kamu bisa juara satu kalau yang itu tidak sobek”
“Udah gak apa-apa.. yang penting aku senang banget” lanjutnya masih dengan ekspresi kegirangan. Dimas hanya tersenyum saja melihatnya.

“Habis ini mau kemana kak?”
“Tidak kemana-mana. Mungkin aku mau tunggu sampai hanabi, baru pulang”
“Ayo kita ke depan stage, seru lho” ajak Yona. “JKT48 sebentar lagi tampil”
“JKT48? Apa itu?” tanya Dimas tidak mengerti. Yona kaget bukan main. Di luar dugaan  Dimas ternyata tidak tahu soal itu.

“Haa? Kak tidak tahu JKT48? Mereka itu sister groupnya AKB48 di Indonesia. Kakak penggemar musik Jepang kan, Kupikir tau”

“Oh iya. Aku pernah dengar tapi belum tau sama sekali kayak apa. Yah maaf deh, pengetahuanku memang masih kurang soal J-pop, karena aku lebih suka Japanese Rock

“Hehe.. makanya yuk ikut” Yona tanpa basa-basi menarik tangan Dimas dan membawanya ke depan panggung, dimana para fans JKT 48 sudah berkerumun. Melafalkan chant-chant nya atau yang biasa disebut wotagei. Tak lama kemudian member dari idol group itu muncul satu per satu dan mereka mulai membawakan lagu-lagunya disertai gerakan dance yang energik.

“Bagaimana kak?” tanya Yona. Ia tampak sangat bersemangat menonton penampilan dari JKT48 itu.
“Yah.. musiknya bukan seleraku. Tapi bagus juga” tanggap Dimas dengan santai

            Mereka berdua menonton penampilan JKT48 sampai selesai dan tanpa terasa hari sudah malam. Setelah event hanabi (kembang api) yang menandakan penutupan  acara itu mereka berdua pun pulang.

“Kakak pulang kemana?” tanya Yona
“Emm.. Bogor”
Yona terkejut “Hah? Kok samaan? Aku juga tinggal di Bogor”
“Begitu? Kebetulan sekali ya”
“Iya.. pulang bareng ya kak”
“Oke”

            Sebetulnya hari itu Dimas berniat menginap di tempat temannya yang tinggal dekat sana, tapi mengetahui Yona pulang sendirian ditambah hari sudah malam dia tidak mau terjadi apa-apa. Dia akhirnya ikut pulang ke rumahnya di Bogor Mereka berdua pun mengambil jalan pulang menggunakan kereta dari stasiun Gambir menuju kota Bogor.

***

            Beberapa minggu setelah event itu, pertemanan mereka berdua semakin akrab. Mereka jadi sering bertemu di waktu senggang untuk bertukar cerita maupun pengetahuan mengenai hal-hal yang berbau Jepang entah itu tentang anime, musik, budaya maupun tentang cosplay. Kebanyakan justru Dimas yang belajar darinya. Yona bahkan beberapa kali mengajak Dimas ikut dalam acara rutin komunitas Cosplay nya. Yona adalah anak yang periang dan berteman baik, setidaknya hal itu dirasakan oleh Dimas ketika bersamanya.

            Sebaliknya, Yona pun tidak segan membicarakan banyak hal-hal yang disukainya. Ia senang menggambar manga Jepang dan menyanyi, ia juga sering bercerita soal hal lain seperti tidak suka makan ikan dan kesukaannya akan hewan kucing. Ya, ia membicarakan semuanya dengan Dimas tanpa ragu sedikitpun. 

Dimas pun adalah seorang pendengar yang baik. Ia tidak banyak bicara tapi selalu memberikan tanggapan positif yang menyenangkan. Hubungan yang akrab itu kemudian membuat Dimas sudah dianggapnya seperti kakak sendiri begitupun sebaliknya, dan hal tersebut sudah berlangsung selama berbulan-bulan lamanya sejak pertemuan pertama mereka. Walaupun persahabatan mereka semakin erat, keduanya juga sama-sama masih segan untuk saling mengenal lebih jauh. Termasuk saling mengetahui tempat tinggal masing-masing, padahal keduanya sama-sama berdomisili di Bogor.

            Suatu ketika mereka pergi bersama-sama lagi ke sebuah matsuri di kawasan Rawa Mangun, Jakarta Timur. Seperti biasanya Yona datang sebagai Cosplayer sedangkan Dimas datang dengan penampilan cuek seperti biasanya dan membawa kamera. Mereka menikmati suasana di matsuri tersebut, seperti biasa ada lomba cosplay dan juga band yang mengcover lagu Jepang, bagian yang menjadi kesukaan Dimas.

            Lelah berkeliling mereka pun membeli makanan dan bersantai di sebuah kursi yang berjarak beberapa meter dari samping panggung. Yona tidak seperti biasanya, hari ini dia tampak pendiam sekali.
“Kak..” panggil Yona mengagetkan Dimas yang sedang melihat dari jauh penampilan band di panggung.

“Um.. kenapa?”
“Ada yang mau aku tanyain ke kakak, tapi jangan ketawain ya. Soalnya ini penting banget”
“Apa memangnya?”

Yona diam sebentar baru kemudian bicara “Gini kak.. menurut kakak apa aku bisa  disukai semua orang?”
“Kenapa tiba-tiba nanya begitu?” Dimas sedikit terkejut mendengarnya.
“Enggak, cuma pingin tau aja, gimana menurut kakak?”
“Umm.. bagaimana ya.. aku rasa semua orang punya hak untuk disukai orang lain”
“Lalu apa aku juga bisa seperti itu?”
“Tentu saja..”

“Menurut kakak aku ini orang yang bagaimana?”
“Kamu anak yang periang, mudah bergaul, berpengetahuan luas dan yang lebih penting lagi kamu itu orang yang baik. Aku rasa itu pribadi yang disukai semua orang.”

            Dimas berhenti sejenak untuk mengambil tas plastik berisi belanjaannya, mengeluarkan sebuah kopi dalam kemasan kaleng dari dalamnya, membuka penutupnya dan meminumnya. Kemudian ia melanjutkan
“Di samping itu kamu juga punya keberanian. 
Kamu orang yang berani tampil beda dari orang lain, sebagai cosplayer dimana tidak setiap orang bisa melakukannya. Hal itu adalah bukti kalau kamu mampu melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan hati. Selama itu hal yang baik kurasa itu tidak ada masalah”

Yona diam mendengarkan tanggapan Dimas. Ia bertanya lagi
“Aku.. punya mimpi yang terkait dengan hal itu, agar bisa diterima orang lain menurut kakak harus bagaimana?”

“Jadilah diri sendiri dan kejar mimpi itu apapun resikonya”
Yona tersenyum manis. “Terima kasih kak. Sekarang aku semakin bersemangat. Aku beruntung bisa mengenal orang baik seperti kakak”
Dimas membalas senyumannya dan mengacungkan ibu jarinya. Yona kemudian tampak memikirkan sesuatu lalu ia berseru

“Oh iya.. Kakak.. belum pernah berfoto dengan cosplayer kan?”
“Belum.. kenapa memangnya?”
Tiba-tiba Yona berdiri sambil menarik tangan Dimas beberapa langkah ke depan.
“Eh... ada apa?”
“Sini... kesini kak...” Ia menarik Dimas hingga ke depan sebuah taman yang cukup indah.
“Nah, di sini bagus. Ayo foto dong di sini kak”
Dimas masih merasa tidak enak
“Tidak apa-apa kak.. Ayoo”

            Didesak terus seperti itu akhirnya ia mengalah juga. Dimas memasang mode otomatis pada kameranya kemudian mereka berdiri bersebelahan. Mereka berfoto bersama beberapa kali dengan latar belakang taman itu. Dimas tampak kaku awalnya tapi Yona kemudian menyemangatinya agar tidak canggung, sehingga kemudian mereka berdua bisa berfoto dengan bagus. Setelah puas berfoto bersama mereka kembali lagi ke tempat festival itu dan mengikuti acara-acara selanjutnya yang ada. Udara langit sore itu semakin hangat menemani langkah mereka.

***

            Beberapa minggu setelah itu event itu, Dimas mendapati kenyataan ia harus dikirim untuk beberapa bulan bertugas melakukan liputan ke luar negeri. Tidak tanggung-tanggung tempat yang ia tuju merupakan pedalaman hutan Bello Horizonte di negara Brazil, Amerika Selatan. Liputan. ya, Dimas merupakan seorang reporter sekaligus penulis artikel pada sebuah jurnal ilmiah. Ia sering ditugaskan untuk menjelajahi dan menulis artikel ilmiah di segala tempat yang berhubungan dengan kehidupan alam liar. Karena penugasannya datang mendadak semua persiapan dia lakukan dengan buru-buru, ia bahkan tidak sempat memberitahu teman-temannya termasuk Yona.

“Mungkin tidak apa-apa menghilang sebentar. Setibanya di sana aku akan menelponnya” pikir Dimas saat hari keberangkatannya. Di hari itu dia juga belum memberitahu Yona tentang penugasannya.


            Namun sial baginya, tepat di hari pertama ketika akan melakukan obervasi panjang menjelajahi belantara itu ponselnya mengalami kerusakan. Semua data-data penting dalam berbagai format hilang. Termasuk diantaranya adalah nomor ponsel Yona, ia tidak bisa menghubunginya untuk memberitahukan kabar. Terpaksa Dimas harus menunggu selama itu sebelum dia bisa kembali lagi ke tanah air. Rasanya betul-betul seperti kehilangan seuatu yang berharga. Apa daya Sekarang dia hanya bisa terfokus untuk pekerjannya saja.

            Tidak terasa kemudian beberapa bulan telah berlalu, penantian yang panjang itu berakhir juga. Dimas kembali ke Indonesia dengan perasaan senang. Ia tidak sabar menceritakan semua pengalamannya kepada Yona. 

            Namun dia tidak segera bisa menghubunginya. Ada yang aneh karena nomor ponselnya tidak lagi aktif. Ia kemudian mencoba mengirimkan pesan melalui facebook maupun twitter, anehnya lagi dia menemukan kedua akun jejaring sosial milik Yona itu juga sudah dihapus. Ada apa dengannya? Pikir Dimas. Tidak berhenti sampai di situ saja.

Pada beberapa event matsuri berikutnya yang lumayan besar, Dimas datang sendiri. Dia berharap bisa bertemu dengan Yona. Namun pada akhirnya dia tidak juga bertemu dengan gadis itu. Padahal pasti dia berada di sisi lain dari kota Bogor, tempat yang sama ia pijak. Hanya saja dimana tidak mengetahuinya.
“Apa terjadi sesuatu? Mudah-mudahan tidak” pikirnya cemas.

***

            Hari sabtu sore pada minggu berikutnya, Dimas mengunjungi rumah teman baiknya Faisal yang juga tinggal di Bogor. Ia bermaksud membackup data-data dan dokumentasinya selama pergi ke Brazil itu.

“Oi cuy.. tumben kemari”
“Iya sal.. gw mau numpang back up data dong”
“Oke. Pake aja.. Hasil observasi yang kemaren ya? Oleh-olehnya mana nih?”
“Ada tuh ikan piranha.. ambil deh yang banyak” jawab Dimas berkelakar
“Haha.. sial”

            Dimas kemudian mengutak-atik laptopnya dan memindahkan data-data pentingnya ke komputer temannya itu. Cukup banyak sehingga memakan waktu. Sementara Faisal sedang asik menyaksikan sebuah acara di TV.

“Nonton apaan lu Sal?” Dimas bertanya karena penasaran
“Itu.. audisi tahap finalnya  JKT48 2nd Generation”
“Dasar”

            Faisal temannya ini memang dikenal sebagai wota. Dia mengikuti perkembangan idol group itu sejak awal dan hampir tau semua hal tentang JKT48. Dimas masih sibuk mengutak-atik laptopnya ketika kemudian pandangannya teralihkan ke layar televisi. Dia terhenyak.

            Dimas mendapati sosok gadis berambut pendek dengan warna rambut merah kecoklatan, dan raut wajah mideru nya yang sudah amat sangat tidak asing baginya. Gadis itu terlihat senang dan sedang diwawancara karena telah berhasil terpilih sebagai member JKT48 generasi kedua.

Choutomate!... Sal, sal... Besarin Volume TV-nya!!” Dimas melompat karena terkejut setengah mati.
“Apaan sih? Lu emang demen juga beginian” kata Faisal sambil menaikkan volume televisinya.
Dimas memperhatikannya dengan cermat baru kemudian dia sadar.
“YONA!” Ia terkejut bukan main.
“Haa? Siapa?” tanya Faisal bingung
“Itu Yona! Gak salah lagi”
“Yona..? Oh.. itu peserta no 31 tadi? Iya namanya Viviyona Apriani. Dia udah lolos audisi. Lu tau dia? ”

            Dimas tidak menjawab pertanyaan temannya itu, pandangannya masih terpaku pada layar kaca. Tidak salah lagi dia memang Yona. Cosplayer girl yang selama ini selalu bersamanya di acara matsuri itu kini sudah menjadi seorang member idol group JKT48. Rupanya ini yang dimaksud perkataannya waktu itu. Dimas menepuk dahinya kemudian tertawa.
“Yona... memang hebat dia”  ia berkata sendiri.

***

            Terhitung sudah hampir setengah tahun sejak saat terakhir itu Dimas dan Yona tidak pernah bertemu lagi. Keduanya kini menjalani kehidupannya masing-masing. Yona kini sudah menjadi idol yang disukai semua orang seperti keinginannya, sedangkan Dimas juga hanya fokus pada pekerjaannya. Hampir mustahil bagi mereka untuk bersua satu sama lain seperti dulu.

            Hari minggu itu jadwalnya theater pajama drive yang dibawakan oleh generasi kedua. Semua member yang tampil berusaha maksimal memberikan yang terbaik. Saat selesai theater malam itu Yona mendapati sebuah fan letter yang ditujukan untuknya. Pelan-pelan ia membukanya dan membaca isi surat tersebut.

Hei. Mideru, apa kabar? Rasanya sudah lama sekali tidak bertemu. Sekarang sudah lain ya.. kamu sudah melesat jauh   he.. he..

 Sebelumnya aku mau minta maaf karena dulu sempat pergi tanpa berpamitan. Aku kira kita bakal bisa sering bertemu lagi setelah itu tapi ternyata aku salah. 
Aku betul-betul minta maaf. Waktu itu aku harus pergi ke pedalaman di Brazil karena tugas. Waktunya  sangat sempit saat itu dan ponselku juga tiba-tiba rusak. Aku tidak bisa menghubungi siapa-siapa dari sana.

Banyak yang mau kuceritakan sebetulnya, tapi sekarang ini sepertinya tidak mungkin bisa seperti dulu lagi ya. Aku kaget saat mengetahui kamu ikut audisi sebagai member JKT48, ternyata itu yang kamu maksud waktu itu ya. Ha ha.. sama sekali tidak menyangka tapi biarpun begitu sebagai sahabatmu, aku juga akan tetap mendukungmu, walaupun berat berjuanglah, aku yakin kamu pasti bisa mengejar impianmu.

Oh iya, aku juga mau mengakui.. selama ini akupun punya impian lain yang ingin kuraih dan kamu tau apa? Justru aku yang banyak belajar darimu soal itu. Ketika bersamamu seorang cosplayer, aku belajar tentang rasa percaya diri.. 
waktu yang kita lalui telah memberikan inspirasi berharga buatku, dan sekarang aku juga akan mulai berjuang mengejarnya. 

Kamu adalah orang yang memberikan inspirasi itu. Terima kasih.
Aku berharap juga suatu saat bisa datang langsung menonton tapi sepertinya belum dalam waktu dekat ini. Walaupun begitu jika memang ada kesempatan aku percaya kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti. Bersemangatlah selalu..
Ganbayo, Ganbatte Yona ! ^_^
                                                                                                            “D”

            Yona tersenyum senang sekaligus terharu setelah selesai membacanya. Mendapat surat sekaligus kabar itu rasanya seperti menemukan lagi barang berharga yang hilang. Ia kemudian melipat surat itu dan menggabungkannya dengan fan letter lainnya. Hari itu dia mendapat tambahan semangat baru lagi.
“Terima kasih, kak. Aku pasti akan berusaha keras!” ucapnya dalam hati sambil menggenggam surat itu dengan erat.