http://jkt48.com/?lang=id
http://www.jkt48fans.com/
Senin, 31 Desember 2012
Arti Sebuah Senyuman
Arti Sebuah Senyuman
Dengan nafas yang terengah-engah setelah aku di kejar-kejar anjing. Aku terhenti saat ku melihat Dia di seberang jalan, aku tak tau siapa Dia. Wajahnya cukup cantik dan manis. Di tambah senyuman bibirnya yang seksi. Aku singgah di sebuah kedai membeli segelas air minum untuk melepaskan dahaga yang melanda tenggorokanku.
Setelah beristirahat aku langsung menggayuh pedal sepeda untuk pulang ke rumah. Sesampai dirumah, kedua orang tuaku sedang pergi ke sebuah tempat yang aku tidak tau. Aku segera pergi mandi karena badanku sudah bermandi keringat. Setelah mandi aku memakai pakaian dan menuju taman yang tak jauh dari kompleks rumahku. Aku kaget si Dia juga sedang berada ditaman. Tanpa pikir panjang aku langsung menghapirinya.
" Hai.... " kataku.
Dengan senyum aku menyapanya.
Tapi Dia tidak merespon dan tetap saja membaca sebuah buku bergambarkan wajah yang jari telunjuk menutupi bibir. Sekali lagi aku mengulangi sapaanku.
" Hai... Boleh kenalan gak? "
" Iya ada apa? " katanya sambil menatap buku yang dibacanya.
" Aku boleh gak kenalan? Namaku Aditya " sambil mengulurkan tanganku.
Dia langsung berdiri lalu meletakkan bukunya di atas kursi dan memberi tahu namanya.
" Namaku Mova " katanya dengan senyum.
" Kamu tinggal dimana? " kataku.
" Aku tinggal di sebelah kiri toko buku dekat gerbang kompleks. Aku baru pindah kemarin. "
" Ooo…. Kamu anak baru ya? "
" Memang kenapa? "
" Tidak kenapa-napa kok. "
" Kamu mau gak temani aku jalan-jalan di taman ini. Lagi pula gak enak juga kalau suasananya begini-begini saja " pintaku.
" Tapi kamu gak macem-macem kan? " tanyanya dengan wajah was-was.
" Ya ampun masa tampang aku yang lugu ini punya niat jahat. Lagi pula apa yang pengen aku rampas dari kamu? " kataku dengan nada menyakinkan.
" Oke... Baiklah " katanya dengan lembut.
Langkah demi langkah mengawali perkenalanku dengan si Dia. Kami berjalan mengeliling taman, dari pada hanya terdiam lebih baik aku memulai pembicaran. Aku menanyakan banyak hal kepadanya.
Dan kami selalu menyelingi pembicaraan kami dengan candaan yang cukup untuk mengisi suasana.
Sekarang sang mentari akan kembali ke peraduannya. Kami berjalan pulang bersama, karena arah rumah kami searah. Mova berada di depan kompleks, sedangkan rumahku ada di lorong kedua sebeleh kanan di kompleks tempat tinggalku. Sesampai di depan rumah Mova kami berhenti dan menyempatkan diri untuk bercanda sebentar.
Suara teriakan Ibunya yang memanggil membuat kami berdua kaget.
" Mova… Mova… ayo cepat masuk, udah hampir malam nih! " teriak ibunya.
" Ya Bu, tunggu! Aditya aku duluan ya? " katanya dengan senyum.
" Iya... " kataku sembari membalas senyumannya.
" Kamu juga cepetan pulang, nanti di cariin sama Ibu kamu "
" Oke… Aku pulang ya. Dadah...! " sambil berjalan dan melambaikan tangan.
Di perjalanan, aku hanya bisa berguman "Baru kali ini aku bisa cepat berkenalan dengan seorang gadis, apalagi gadis seperti Mova".
Kini aku berjalan di antara jalan yang sepi dengan sedikit penerangan dari lampu jalan yang mulai redup dan di kerumuni serangga.
Sesampai di rumah aku di marahi oleh Ibuku.
" Kamu ke mana aja? " bentak Ibu.
" Maaf bu, aku tadi dari keliling taman " kataku sambil menunduk.
" Lain kali jangan pulang telat lagi ya? "
" Iya Ibu " sembari meninggalkan ibu di teras rumah.
Keesokan paginya aku bergegas untuk berangkat sekolah. Sambil mengendarai sepeda aku bertemu dengan Mova.
" Selamat pagi nona Mova " sapaku.
" Eh kamu, Dit. " sapanya dengan senyuman.
" Kamu sekolah dimana? Kemarin aku lupa nanya ke kamu. "
" Aku sekolah di SMA Tunas 48 kok dekat kompleks sini. Emang kamu sekolah dimana dit? "
" Aku juga sama sekolah di situ. Ya udah bareng aku aja naek sepeda ini " kataku sambil menawarkan.
" Bener nih kamu gak keberatan boncengan sama aku. Badan aku berat loh. "
" Tenang aja kok. Baru badan kamu yg berat. Cinta kamu yg berat aku sanggup kok. " kataku cengar-cengir.
" Akh pagi-pagi sudah sarapan gombal aja. " katanya sambil duduk di belakang sepedaku dengan posisi miring.
Aku tak tahu ternyata aku satu sekolah dengan dia, kemarin aku lupa nanya sih. Aku langsung mengayuh pedal sepedaku.
Sesampai di sekolah aku langsung ke kelas dan aku kaget ternyata Mova juga sekelas dengan aku. Malahan Dia duduk di sampingku, karena Gunanto teman aku baru pindah sekolah dua hari yang lalu. " Wah tambah dekat aja gw dengan Mova " gerutuku dalam hati. Mova maju ke depan kelas dan memperkenalkan dirinya ke teman-teman kelasku.
" Hai perkenalkan namaku Alissa Galliamova, panggil aja aku Mova. Aku baru pindah dari Bandung kemarin, semoga kita semua bisa menjadi teman yang akrab. Oh iya aku juga pecinta merah dan teddy bear loh. " sapanya sambil menundukkan badan.
" Oke…. " teriak semua temanku.
Kini kami semakin dekat. Kami selalu bersama, kami sembari bercerita tentang tugas sekolah.
" Kamu suka pelajaran apa? " tanyanya.
" Aku paling suka pelajaran matematika "
" Kenapa kamu suka pelajaran itu? Padahal pelajaran itu agak rumit dan memusingkan. "
" Karena aku suka aja dengan hal yang rumit sehingga kalau sudah terpecahkan jawabannya akan menjadi sebuah kebanggaan bagi diri sendiri, kalau kamu sukanya pelajaran apa? " tanyaku sebaliknya.
" Aku paling suka dengan pelajaran bahasa Indonesia, khususnya seperti pelajaran sastra "
" Kenapa kamu suka pelajaran itu? " tanyaku.
" Karena aku suka membaca dan menulis seperti karya sastra. Bahkan aku sudah membuat beberapa cerpen, mau baca? " katanya sambil menyodorkan beberapa cerpen karyanya.
" Loh ini bukannya buku yg kemaren kamu baca? Ini buatan kamu?, aku gak percaya " tanyaku kaget
" Iyalah, ini buatan aku. Kamu baca ya dan berikan saran, oke? "
" Oke… " kataku sambil tersenyum.
* Krrrrriiiiiiiiiinnnggg…. * Bunyi bel menandakan kami akan melanjutkan ke pelajaran berikutnya. Tapi, guru yang mengajar tidak datang. Jadi aku dan Mova bersama teman-teman yang lain hanya bercerita tentang hal-hal yang dapat membuat suasana kelas menjadi ramai.
Tak lama kemudian bel pulang sekolah berbunyi, kami pun pulang. Aku bersama Mova berjalan menuju pintu gerbang, menertawai hal-hal yang lucu tadi. Di perjalanan pulang Mova berteriak.
" Auuuuhh sakit, Aditya bantu aku berdiri! " pintanya sambil memegang kakinya yg sakit. Ku liat kaki Mova tersandung batu dan kelihatannya kaki Mova terkilir.
" Sudah jangan nangis dong, pasti kamu akan sembuh kok " kataku menyemangati.
" Iya Aditya, tapi kaki aku sakit banget. Bantu aku berdiri dong! " pintanya.
" Auuuuhh…. Sakit!! " katanya sambil merintih kesakitan.
" Sini biar aku gendong deh, gak apakan? "
" Lah terus gimana dengan sepeda kamu? "
" Selow aja nanti juga ada yang anterin ke rumahku kok. "
" Kamu nyuruh teman kamu gitu maksudnya? " tanyanya.
" Nah iya aku sudah minta tolong kok sama temanku buat anterin sepedaku ke rumah aku. " jawabku.
" Dasar! Betul mau gendong aku, aku berat loh! " katanya sambil tersenyum.
" Sakit-sakit gini sempat aja ngelawak, sini naik cepat " kataku.
" Hehehe…. Aku beratkan? " tanyanya sambil tertawa.
" Kan tadi aku bilang. Jangankan berat badan kamu, berat cinta kamu aku sanggup kok " kataku sambil tersenyum.
" Dasar kamu! " balasnya dengan senyuman.
Sesampai di depan rumah Mova, Ibunya yang sedang santai di teras kaget saat melihat kedatanganku yang menggendong Mova.
" Mova, kamu gak apa-apakan nak? "
" Gak apa-apa kok Bu " kata Mova.
" Kakinya terkilir tadi waktu jalan pulang di sekolah tante ", kataku.
" Terima kasih ya nak …. "
" Aditya, Tante! ", ucapku dengan maksud memperkenalkan diri alias SKSD(Sok Kenal Sok Deket).
" Iya terima kasih ya nak Aditya " katanya sambil tersenyum.
" Mova, tante, Aditya pulang dulu ya? ", kataku.
" Iya nak Aditya, kapan-kapan main aja ke rumah ya. ", kata ibu Mova.
" Baik tante " kataku sambil tersenyum.
Sehabis menggendong Mova punggungku rasanya ada yang beda. Seperti mengendong bidadari yang copot sayapnya minta di gendong.
" Aneh juga ya kalo di pikir ada bidadari yg minta di gendong karena sayapnya copot " gerutuku dalam hati.
Sesampai dirumah aku tak langsung melepas pakaian karena baru kali ini aku mengendong seorang bidadari. Aku malah tak mandi juga biar bayangan Mova selalu menempel di punggungku. Dan aku langsung makan siang. Sesudah itu aku langsung tidur karena aku senang banget udah gendong Mova. XD
Keesokan paginya aku menunggu Mova di depan rumahnya. Saat melihat dia keluar rumah, dia sudah bisa berjalan dengan baik. Aku kaget dan bengong melihatnya.
" Woii kamu kenapa bengong kayak gitu? " tanyanya sambil mencubit pipiku.
" Akh gak apa-apa kok! Eh kok cepat amat sembuhnya? "
" Iya nih, semalam aku dibawa ke tukang urut, rasanya sakit banget waktu di urut "
" Baguslah, daripada bengkak tidak di urut terus kamu mau berjalan dengan pincang? " kataku sambil tersenyum.
" Ya udah ayo kita berangkat, nanti telat lagi " katanya sambil mengambil posisi duduk miring di belakang sepedaku.
Sampai di sekolah teman-teman ku berkumpul membicarakan sesuatu, aku dan Mova bergegas ke sana dan mendengar apa yang di ceritakan teman-temanku itu.
" Teman-teman, bagaimana liburan panjang sekolah nanti kita jalan-jalan? " kata ketua kelasku.
" Kita mau ke mana ? " tanyaku memotong pembicaraan.
" Kita akan pergi liburan, baiknya kita ke mana ya? " kata Rizky temanku.
" Bagaimana kalau kita pergi ke tempat rekreasi terkenal di kota Bandung! " kata Mova.
" Kita kan gak tau tempat rekreasi di Bandung " sahut ketua kelasku.
" Tenang kok aku tahu tempat rekreasi di Bandung yang menyenangkan. Lagi pula ada om aku juga sebagai penyalur pariwisata di sana. " jawabku sekenanya.
" Mahal gak biaya buat ke sana? " tanya Rizky lagi.
" Gak mahal kok justru lagi promo buat pelajar kaya kita. Baiklah kita akan ke Kawah Putih gimana? " kataku.
" Setuju! " jawab Mova.
" Setuju! " jawab serempak.
* Krrrrriiiiiiiiiinnnggg..... * Bel masuk sekolah pun berbunyi. Murid-murid pun yang mengerubung tadi sudah kembali ke meja masing-masing. Dan aku pun kembali ke mejaku. Mova bangga denganku karena bisa memiliki ide secemerlang itu di tempat kelahirannya.
" Mangnya kamu punya sanak saudara di bandung dit? " tanyanya.
" Iya aku punya sanak saudara kok di sana. " jawabku sekenanya.
" Tinggal dimana saudara kamu? Terus berarti kamu sering main ke Bandung dong? " tanya Mova lagi.
" Di Jatinangor om ku tinggal. " jawabku sekenanya lagi(padahal sih ngeliat berita di tipi).
" Apa Jatinangor! Tante aku juga tinggal di situ. Wah kapan-kapan kalo kamu liburan mampir aja ke tempat tante aku. Aku tiap minggu main ke sana kok. " jawabnya.
" Aduh tambah kacau nie gara-gara aku ngarang cerita " gerutuku dalam hati.
Dan akhirnya kami tidak memerhatikan penjelasan guru, akibat cerita kami yang semakin mengasyikkan. Tak lama kemudian bel istirahat pun berbunyi. Rasanya aku tidak ingin berpisah dengan Mova walau sekejap saja. Tapi, apa mungkin itu cuman perasaanku saja. Kami berkeliling sekolah mencari hal-hal yang baru dan melupakan apa yang aku bayangkan tadi.
Tidak lama kemudian, bel kembali berbunyi kami berlari ke kelas. Kami berlari sambil tertawa dengan senangnya. Rasanya hal ini adalah hal yang terindah bagiku. Sesampai di kelas kami duduk dan menunggu guru. Tak lama kemudian, guru yang mengajar pun datang.
Aku merasa agak tidak enak badan. Mova iseng mencubit pipiku dan Mova kaget.
" Aditya kamu gak apa-apa, kan? " tanyanya dengan khawatir.
" Aku gak apa-apa kok. " kataku dengan nada yang pelan.
" Kamu sakit dan aku harus antar kamu pulang! " katanya sambil berjalan menuju meja guruku.
" Pak, Aditya sakit "
" Baiklah bawa dia pulang, kamu mau mengantarnya? " tanya pak guru.
" Iya pak aku bisa kok "
Berhubung sudah hampir pulang Mova memasukkan barang-barangku ke dalam tas
lalu dia juga membereskan barang-barangnya.
" Ayo aku antar kamu pulang " katanya.
Mova meminta ijin mengantar aku pulang. Sambil memegang jemari-jemariku dan sesekali memegang keningku. Mova selalu bertanya tentang keadaanku. Tapi, aku hanya bisa menjawabnya dengan kalimat, " Aku baik-baik saja kok, gak usah khawatir. "
Sesampai di rumah aku langsung di bawa Mova ke kamarku sembari ibu mengomel-ngomeliku.
" Ini sebabnya kalau makan gak teratur " kata Ibuku.
" Sudah tante, Aditya kan lagi sakit”, pinta Mova ke Ibuku.
" Biarlah nak, biar dia tahu rasa. " kata Ibuku.
" Kalau begitu aku pulang dulu tante. "
" Nak nama kamu siapa? "
" Nama aku Mova, tante "
" Terima kasih ya nak Mova, udah bawa pulang anak tante ini. "
" Iya, sama-sama tante " katanya.
Aku melihat senyuman indah dari Mova saat akan keluar dari kamarku.
Keesokan paginya, rasanya badanku udah sehat. Aku bergegas menyiapkan barang yang akan ku bawa. Aku mandi dan sesudah itu berpakaian rapi dan langsung menuju rumah Mova. Tapi, Mova sudah berangkat duluan. Aku langsung ke sekolah. Sampai di sekolah aku melihat Mova dan langsung menghampirinya.
" Aditya, kamu udah sembuh? " katanya.
" Iya aku udah sembuh kok. " kataku sambil meraih tangannya dan meletakkannya di keningku.
" Syukur deh kalo kamu sudah sembuh. Makanya lain kali yang teratur pola makannya. " katanya.
" Iya deh maaf-maaf kemarin aku sudah merepotkanmu. " kataku sambil mengelus rambut Mova.
" Kan aku juga kasihan, kamu kemarin lagi sakit malah di omelin sama Ibu kamu. "
" Ibu aku tuh emang begitu sifatnya. Jadi setiap aku melakukan kesalahan gara-gara keteledoran aku, Ibu aku tuh terus aja marah-marah mulu udah kaya kebakaran jenggot. "
" Haha... Emangnya Ibu kamu punya jenggot apa? " katanya sambil cekikikan mendengar ucapan anehku.
" Iya juga sih Ibu aku gak punya jenggot. Tapi itu kan cuman perumpamaan. " kataku sambil garuk-garuk kepala.
* Krrrrriiiiiiiiiinnnggg..... * Bel tanda masuk sekolah pun berbunyi. Ketua kelas pun mengambil suara bersikap kepada guru Matematika. Dan inilah pelajaran yang ku tunggu-tunggu. Beberapa murid seperti memasang muka bosan dengan pelajaran ini termasuk dengan Mova. Detik demi detik terus berjalan hingga bel istirahat pun berbunyi. Kali ini aku pergi ke perpustakaan untuk mencari informasi tentang pariwisata Kawah Putih.
" Mova kamu duluan aja ke kantin ya. Aku mau ke perpustakaan dulu ada perlu sebentar " kataku.
" Ih kamu tuh bandel ya. Baru aja kemarin kamu sakit gara-gara telat makan. Terus sekarang kamu mau sakit lagi? " kata Mova nada bentak.
" Iya-iya nanti aku gak lupa makan kok. Tenang aja aku masih kenyang belum lapar. " kataku.
" Ya sudah terserah kamu. Nanti kalau kamu kenapa-napa jangan salahin aku ya. " kata Mova dengan bibir manyun.
Akupun bergegas menuju ke ruangan perpustakaan. Ku pilih rak buku dengan kategori wisata. Ku pilih satu persatu buku yang ada di rak. Dan akhirnya ku dapatkan buku dengan ukuran yang cukup lebar dan bergambarkan pemandangan gunung. Ku buka halaman demi halaman hingga ku temui halaman 26 bertuliskan 'Panorama Kawah Putih'.Tidak lama, aku segera menghampiri Mova yang menungguku di kantin.
Lebih cepat hari di kalender. Dan liburan sekolah pun tiba. Aku sudah tidak sabar menunggu dimana akan menjadi moment istimewa bagiku. Ku persiapkan semua berbekalanku buat disana. Tidak lupa juga persiapan diri yang matang untuk mengungkapkan perasaanku ini. Akupun segera berangkat menuju sekolahku karena bus menunggu disana. Sesampai di sekolah ku tak melihat Mova. Mungkin Mova belum sampai. Dan ketika ku menengok ke sebuah gerbang sekolah terlihat wajah manis Mova. Akupun begong melihat paras wajahnya yg sungguh hari ini cantik sekali. Mova memakai baju berwarna merah dan memakai slayer meliliti lehernya. Ku hampiri dan sambil berkata, " Mova kau cantik hari ini " dan Mova hanya tersenyum kecil di hadapanku.
Tak berapa lama kemudian, bus yang akan mengantar kami ke Kawah Putih pun datang. Aku duduk di belakang bersama anak lelaki lainnya. Mova berada di depan bersama teman wanitanya.
Di perjalanan rasa gelisahku semakin tak menentu. " Inginku hembuskan gelisah di dada dengan nafasku." Gumanku mendengar sebuah lagu dari handphoneku.
Selang tak berapa lama suara keras terdengar dari luar bus kami. *Dooorrr!!* Kami pun semua terkejut mendengar suara itu. Dan tiba-tiba bus kami oleng menjadi tak seimbang. Aku memiliki pirasat buruk dan benar ban bus kami pecah. Naas tak berselang beberapa lama bus kami tumpangi menabrak pembatas jalan dan masuk ke jurang.
Aku merasa kepalaku sakit, saat ku pegang kepalaku mengeluarkan darah yang banyak. Tapi, yang ada di pikiranku sekarang adalah Mova. Aku langsung berteriak dengan nada yang lemah.
" Mova... Kamu gak apa-apa, kan? " Aku tak mendengar suaranya. Aku melihat teman-temanku terluka dan mengeluarkan banyak darah. Saat aku ke tempat duduk Mova, aku melihat kepala Mova juga mengeluarkan banyak darah. Segera aku mengendong Mova dan mengeluarkan dari bus itu.
" Mova bangun Mova! Bertahanlah Mova! Aku akan segera memanggil ambulans! Bertahanlah Mova! " teriakku panik.
" Bertahanlah Mova! ", Tiba-tiba kepalaku juga pusing karena mengeluarkan darah yang banyak. Dan aku pun pingsan.
" Aditya, Aditya, bangun nak, Ibu di sini " kata Ibuku sambil menangis.
Mendengar suara itu, aku terbangun. Aku sekarang berada di rumah sakit, aku kaget dan berteriak.
" Dimana Mova bu? Mova baik-baik sajakan bu? " kataku panik.
Ibu hanya terdiam sambil menatap ayah.
" Ibu apa yang terjadi? " Aku mulai meneteskan air mata.
" Maaf nak, kini Mova sudah berada di tempat lain " dengan nada yang pelan ibu memberitahuku.
" Jadi maksud ibu? " kataku dengan nada tinggi.
" Iya nak, Mova telah meninggal akibat kecelakaan itu ", kata ibu sembari memelukku.
Aku terduduk di ranjang dan dipeluk ibu sambil menangis dengan keras dan berkata, " Kenapa Mova terlalu cepat meninggalkan aku bu? "
" Aku belum sempat menyatakan perasaanku ini! Sungguh tragis sekali aku tak sempat menolong dia! Aku lelaki bodoh! " teriakku seisi ruangan.
Aku kembali terdiam dan mengingat kembali saat-saat aku bersama Mova. Mengulang kembali cerita pertama kali aku berkenalan dengan Mova. Sungguh tak ku sangka secepat ini berlalu mengenal Mova. Dan perasaanku ini terkubur sudah dengan jiwa Mova yang bahagia di sana. Aku tak pernah bisa melupakan di saat pertama aku melihat senyuman Dia paling indah. Di saat aku sakit, Dia memberiku senyuman yang ku anggap anugerah terindah dan menjadi senyuman terakhir darinya. :"))
Read more: h
Kalung Bertuliskan Stella
Kalung Bertuliskan Stella
Aku berjalan di lereng gunung yang suasananya sangat sejuk. Aku terus naik keatas dan kutemukan tempat untuk singgah sejenak. Tapi tak ku sangka disana ada seorang gadis yang manis parasnya, rambutnya terurai panjang, dan senyumnya sangat menawan. Kucoba tuk dekati gadis itu dan berkenalan dengannya.
“Hai! Siapa nama kamu? Apa aku boleh kenalan sama kamu?” tanyaku pada gadis tersebut.
“Iyaa, namaku Stella. Boleh kok kalau mau kenalan. Nama kamu siapa?” jawabnya dengan senyuman yang ramah.
“Ohh, Stella ya? Kenalin, aku..... Kamu ngapain duduk sendiri disini? Mana hampir senja lagi. Apa kamu nggak dicari orang tuamu?” tanyaku panjang lebar.
“Aku udah izin orang tuaku kok. Lagian aku disini juga buat lihat matahari terbenam. Indah banget kalau dilihat dari puncak seperti ini. Lagi pula aku nggak sendiri, di tempat yang sana juga banyak orang tuh.” Jawabnya sambil menunjuk ke tempat duduk yang lain.
“Hmmm, begitu rupanya. Yaa, yaa. Boleh aku temenin kamu disini? Boleh dong?” bujukku.
Agak lama Stella menjawab pertanyaanku, akhirnya dia mengizinkan aku. Lama aku dan dia ngobrol bersama. Kami membicarakan banyak hal, terutama soal music. Tidak aku sangka, dia sangat menyukai music dan juga suka bernyanyi.
Hari semakin larut. Aku dan Stella pulang kerumah kami masing-masing. Aku tak sabar ingin mendatangi tempat itu lagi dan bisa ngobrol panjang lebar dengannya. Aku harap hari esok segera datang..
“Kring… Kring…” suara alarm jam aku pun berbunyi menunjukkan bahwa sudah pukul sembilan pagi. Aku bangun dan segera mandi. Lalu aku bergegas makan pagi setelah itu. Aku sudah tidak sekolah karena aku sudah bosan. Aku berencana untuk langsung mengikuti UNAS saja, dan sekarang aku fokus ke musikku
terlebih dahulu. Aku menyalakan computer dan membenahi aransemen musikku yang kurasa masih kurang. Lama sekali aku melakukan itu. Hingga tak terasa jam sudah menunjukkan jam setengah lima sore. Aku mandi, makan dan menuju ketempat special bagiku. Kali ini aku membawa gitarku kesana. Tapi Stella
belum ada. Aku sedikit sedih. Maka aku pun menyanyikan lagu favorit aku, “You Are Not Alone” karangan The King Of Pop. Aku selalu menyanyikan lagu itu saat kesepian.
Tiba-tiba saja dari belakang ada yang menepuk pundakku sambil berkata, “Hayoo, lagi nungguin siapa?”. Tentu saja aku merasa kaget. Tapi aku mengenali suara itu dan aku yakin itu dia. Seraya aku menjawab,”Nungguin kamu”. Dia hanya tersenyum saja. Stella memulai pembicaraan.
“Tumben kok bawa gitar segala? Mau ngamen yaa? Hahaha.” Tanyanya sambil meledekku.
“Yeee, enggak tahu! Aku bawa gitar untuk nyanyi aja. Siapa tahu kamu mau nyanyi bareng aku.” Jawabku sambil berharap.
“Yaudah, iringin aku lagu Adele bisa nggak? Kalau nggak bisa ya aku nggak mau.” Pintanya.
“Yang judulnya apa? Lagunya Adele kan banyak.” Tanyaku.
“Yang judulnya “Someone Like You”. Jawabnya.
Aku hanya senyum dan mulai memainkan gitarku. Aku tak menyangka kalau dia juga menyukai lagu ini. Aku sangat bahagia saat itu.
Stella mulai bernyanyi kata demi kata, bait demi bait. Suaranya sangat bagus. Aku merasa sangat nyaman saat itu. Tapi aku tidak tahu apa dia juga merasakan hal yang sama. Kami baru dua hari bertemu, tapi aku merasa senang saat bersama dia. Cara bicaranya, tingkah lakunya, seperti sudah lama aku kenal.
Akhirnya lagu yang dinyanyikan pun selesai. Kami berdua tertawa menyudahi lagu itu.
“Gimana suaraku? Bagus enggak?” Tanya Stella.
“Bagus kok. Kenapa nggak jadi penyanyi aja sih?” tanyaku balik.
“Aku pengin jadi penyanyi, cuman aku belum menemukan jalannya. Sekarang aku juga udah punya
job sampingan kok, jadi model. Eh, tapi cuman model biasa sih, belum terkenal banget. Tapi aku percaya, suatu hari aku bisa jadi penyanyi. Apapun yang kita lakukan tidak akan sia-sia, entah hasilnya sekarang atau nanti.” Terangnya panjang lebar.
“Iyaa. Aku percaya kok kamu pasti bisa. Aku akan dukung kamu dari sekarang. Karena aku juga punya cita-cita yang sama ma kamu. Semoga semua itu juga bisa tercapai.”
Stella hanya tersenyum manis dan mengatakan terima kasih.
Hari sudah larut. Karena asik bernyanyi dan ngobrol, kami tidak melihat matahari terbenam saat itu. Kami berdua turun dan pulang kerumah.
Walaupun kami sudah dekat, kami tak pernah punya pikiran untuk berpacaran. Kami lebih suka bersahabat seperti ini karena kami bisa bebas dan tidak terikat aturan apapun.
(*)
Sudah lebih dari sebulan aku dan Stella menjalin persahabatan. Aku sempat menciptakan lagu untuk kami berdua dan berharap suatu hari aku bisa menyanyikan lagu itu bersamanya. Tapi hal yang menyedihkan justru terjadi setelah itu. Kami bertemu ditempat special kami untuk terkahir kalinya.
“Maafin aku yaa, mungkin ini terakhir kali bisa ketemu kamu disini.” Ucap Stella sedih.
“Apa? Memang kenapa? Kamu mau pindah rumah?” tanyaku kaget.
“Bukan, aku keterima audisi idol group sebagai penyanyi dan penari. Dan audisi finalnya sudah tidak lama lagi.” Jawabnya.
“Ohh, selamat ya. Akhirnya mimpi kamu bisa tercapai juga. Aku ikut senang.”
“Kamu enggak sedih kan? Enggak marah kan sama aku? Tanyanya.
“Enggak kok, aku malah bahagia. Kamu bisa meraih mimpimu. Dari awal aku kan udah bilang untuk
dukung kamu. So, whatever it takes, I will be. Walaupun mungkin kita berpisah, aku tetep inget kamu. Tak peduli walaupun musim berganti, dan waktu berlalu tanpa kamu, kamu selalu dihatiku. Kamu sahabat aku, dan aku selalu dukung kamu.” Terangku panjang lebar.
“Terima kasih yaa. Aku akan selalu inget kamu juga. Walaupun aku terkenal nanti, kamu masih sahabatku. Dan selalu seperti itu. Terima kasih.” Ucapnya sambil terharu.
Dihari perpisahan itu juga aku memberikan kalung bertuliskan “Stella” untuknya. Aku berharap dia mau menggunakan itu. Dimanapun, dan kapanpun.
“Aku punya kalung, tulisannya sesuai dengan nama kamu. Aku harap kamu mau pakai ini dimanapun dan kapanpun sebagai tanda kalau kamu masih inget sama aku. Kalau ada hari dimana kamu nggak pakai
kalung ini, saat itu juga kamu melupakan aku. Dan kalau kamu merindukan aku, pakai kalung ini dan semoga rasa rindumu berkurang. Pakai yaa..” pintaku pada Stella.
Dan dihari itu pula Stella mulai mengenakan kalung dariku. Aku bahagia, begitu juga dia.
Kami mengakhiri perpisahan itu dengan menyanyikan lagi lagu yang pertama kali kita nyanyikan,
“Someone Like You”. Selesai itu, kami pun pulang. Kami memulai kehidupan baru. Aku menjalani hariku tanpa Stella, dan Stella menjalani lembaran barunya sebagai seorang entertainer.
(*)
Setelah sebulan tak mendengar kabarnya, aku mendengar ada sebuah idol group yang sedang
naik daun di Indonesia. Aku sempat berpikir, apakah ini idol group yang dimaksud Stella? Apakah
diajuga menjadi salah satu anggota dari group tersebut? Aku masih belum tahu, dan aku mencari tahu. Aku mencari info ke google tentang idol group yang di panggil dengan sebutan JKT48 itu.
Dan ternyata benar. Stella Cornelia adalah salah satu anggota dari group tersebut. Aku langsung
merasa sangat bahagia. Aku mulai berpikiran bahwa dia mungkin sudah melupakan aku. Janjinya yang dulu dia katakan padaku mungkin sudah pudar. Sesaat pun aku kembali masuk dalam perasaan sedih.
Aku menyanyikan lagu yang sering aku nyanyikan stelah Stella pergi.
Dihatiku kau takkan berubah, selamanya takkan pernah terganti.
Semakin kurasa sepi, semakin kuingat kau.
Lagu ini selalu kuingat, tiap kunyanyikan terbayang dirimu.
Tak peduli waktu berlalu, kau selalu dihatiku..
Begitulah kiranya aku bernyanyi. Aku menyudahi itu. Aku kembali melihat foto-foto Stella bersama member yang lainnya. Ada satu foto dimana aku melihat dia menggunakan kalung yang
dulu aku berikan. Sontak aku kembali bahagia. Sangat bahagia. Aku mencari foto lain, dan ternyata
banyak sekali foto yang menunjukkan bahwa kalung pemberianku masih dia gunakan. Dia belum melupakan aku. Aku yakin.
Aku langsung mencari info lebih detail lagi tentang idol group yang satu ini. Setelah tahu
banyak tentang sister group AKB48 dari jepang ini, aku memutuskan untuk menjadikan Stella Cornelia sebagai oshimen aku. Aku akan terus mendukungnya seperti sebelumnya.
(*)
Sudah hampir setahun Stella dan JKT48 melalang buana di industry music Indonesia. Dia telah mencapai mimpinya bersama JKT48. Aku selalu ingat kata-katanya, “Apapun yang kita lakukan
tidak akan sia-sia, entah hasilnya sekarang atau nanti.” Stella menjadi inspirasiku. Kini saatnya aku
menunjukkan padanya bahwa aku juga bisa mencapai mimpiku. Dan saat mimpiku itu tercapai, aku akan bertemu lagi dengannya.
AKU,KAMU,DAN PERASAAN INI
Aku, Kamu, Dan Perasaan Ini
Aku berjalan-jalan di tepi pantai bersama seorang gadis pujaan hatiku. Ku tatap ia yang sedang sibuk menendang air laut yang menyentuh kakinya. Aku mulai merasa resah dengan perasaan yang ku miliki. Setiap waktu aku selalu memikirkannya. Perasaan ini sangat mengganggu ku. Tapi orang yang ku suka tidak pernah mengerti perasaanku. Perasaan cinta ini.
“Sampai kapan aku harus nunggu kamu jatuh cinta ? Berapa lama lagi aku harus menunggu kata cinta dari kamu ?” Tanya ku dalam hati.
“Beb pulang yuk, ntar kemalaman.” Ucapku pada pujaan hati ku ini. Eitss “Beb” makusdnya bukan “beb beb” orang pacaran tapi itu memang namanya “Beby Chaesara Anadila” dia sempat risih juga jika di panggil “Beb” apalagi aku adalah teman cowoknya. Terus mau di panggil apa lagi coba, masa harus manggil “Chaesara atau Anadila” Kan ga keren gitu kesannya.
“Iya, ayuk..” Beby pun menoleh ke arah ku sambil tersenyum. Kami pun berjalan bersama menuju parkiran mobil.
“Laper ga beb ?” Tanya ku kepada Beby setelah kami sampai di mobil. “Aku sih engga, kamu pasti laper kan ? Aku temenin kamu makan aja gimana ?” Ucap Beby yang nampaknya mengerti jika perut ku sudah demo minta makan.
“Hehe, iya sih.” Aku tertawa sambil mengaruk kepalaku yang tidak gatal. “Dasar perut karung padahal tadi udah makan juga.” Aku hanya manyun dan segera menstarter mobilku menuju café terdekat, karena ini darurat.
10 menit kemudian aku menemukan sebuah café yang menurutku romantic. “Disini ?” Tanya Beby. “Lah iya, terus dimana lagi ? Kuburan ? Ga munkin lah beb. Ayuk turun.” Aku dan Beby pun turun dari mobil dan masuk ke dalam café.
Ternyata di dalam banyak pasangan yang sedang dinner atau sekedar ngobrol. Suasana café pun bisa di bilang sangat romantic. Beby pun melirik ku sambil mengangkat sedikit alisnya.
“Udah ah, ayukk.” Aku menarik tangan Beby untuk pergi ke lantai atas. Kami mencari tempat kosong lalu memesan makanan. Beby tampak sedang sibuk memainkan Android miliknya, bisanya dia hanya bermain game.
“Suasananya enak ya beb.” Ucapku pada Beby, tapi Beby tidak mengacuhkan ku. “Oi beb ini yang ngomong orang loh.” Ucapku sambil melempar Beby dengan sebuah tisu. “Iya Boy, ada apa ? Kenapa ? Udah kenyang ?” “Ngobrol kek beb. Kenyang darimana, orang makan aja belum.” Ucapku jengkel kepada Beby yang mulai salah focus.
“Iya deh iya. Jangan ngambek gitu dong.” Beby memasukan Androidnya kedalam tas. “Beb, perasaan dari dulu sampai sekarang kenapa ya kalo jkita alan-jalan ke pantai mulu ?” “Ya mana aku tau, orang yang ngajakin kamu mulu.” Balas Beby dengan wajah tanpa dosa. “Iya deh iya.” “Emang kamu bosan ya ?” Tanya Beby kepadaku. “Engga lah, asalkan jalannya sama kamu pasti ga akan bosanlah.” Pesanan kami pun datang. “Iya ga bosen sih, tapi laper.” Ucap Beby sambil melempar ku dengan tisu tadi yang ku lempar padanya.
Tapi aku tak mengacuhkannya karena sudah sangat lapar. “Oi Boy ini yang ngomong orang loh.” Beby mengucapkan perkataan ku tadi sambil mencibiriku. “Laferr beb.” Aku segera memakan makanan ku. Beby hanya nyengir melihat ku makan. Setelah kenyang aku dan Beby pun pulang. Selama perjalanan aku dan Beby hanya diam seribu bahasa. Hanya audio mobil ku yang terdengar.
“Karena ku suka, suka dirimu, ku akan selalu berada disini, walau di dalam keramaian. Tak apa tak kau sadari.” Aku menyanyi di dalam hati untuk Beby yang sedang duduk manis di sebelahku. 10 menit kemudian aku sampai di rumah Beby, ia turun dan mengucapkan terimakasih padaku, lalu masuk kerumahnya. Aku segera pulang ke rumah untuk tidur, berharap di dalam mimpi aku bisa memiliki Beby.
*
Esok harinya setelah pulang sekolah aku kemabali jalan-jalan bersama Beby, ya seperti biasa kami makan siang lalu jalan-jalan ke pantai buat nunggu matahari terbenam. Sesampainya di pantai Beby malah lari duluan. Sepertinya dia sangat senang hari ini. Aku segera mengejar Beby.
“Oii beb tunggu bentar kenapa.” Teriak ku pada Beby. “Ayolah Boy, masa lesu gitu sih, kan tadi udah makan banyak. Dasar perut karung.” Ledek Beby. “Awas kamu, kalo kamu dapat kamu bakal ku buang ke laut.” Aku mengejar Beby yang berlari di depanku.
5 menit aku mengejar Beby tapi tidak dapat-dapat, aku pun memilih duduk di tepi pantai sambil bermain pasir.
“Ah Boy payah nih.” Beby berjalan mendekati ku. “Yes dapaat.” Aku menarik tangan Beby “Eh apa-apaan nih, curang ini namanya.” Beby ngomel-ngomel padaku. “Udah janagn lari-lari duduk disini aja, di samping aku.” Ucapku pada Beby. “Ngapain sih Boy main pasir gitu.” Tanya Beby. “Ga apa-apa sih, lagi pengen aja.” Ucapku sambil menuliskan kata-kata Boy Love Beby.
“Ehh apaan nih.” Beby mencoba mengahapus tulisan itu. “Kenapa di hapus coba ?” Aku bertanya pada Beby. “Ngapain coba nulis gituan.” Beby mencibiriku. “Kamu bisa menghapus itu di atas pasir, tapi kamu ga akan bisa menghapaus yang ada di dalam hatiku. Kamu ga akan bisa menghapus perasaan ku padamu.” Ucapku dalam hati sambil memandang wajah Beby. “Aku, Kamu, Dan Perasaan ini.” Aku tersenyum pada Beby.
Langganan:
Komentar (Atom)

