Sabtu, 10 Agustus 2013

Langit Malam


A5Ut9k7CYAAtNYW
Namaku Erhil. Sejak kepergianku dari Makassar, aku sudah bisa beradaptasi dan mulai senang bergaul dengan teman-temanku di Bandung ini. Sewaktu di Makassar, aku orangnya jarang bergaul atau bisa dibilang pendiam dan lebih suka sendiri. Disekolah, aku bisa dikatakan siswa yang pandai sampai-sampai Saya direkomendasikan ikut PERTUKARAN PELAJAR antar pulau. Aku ikut karena memang keinginanku ingin belajar dikota-kota besar, dan aku direkomendasikan ke salah satu sekolah negeri yang ada di kota Bandung.
“Rhil, Ke Bosscha yuk..” Panggil Handy yang langsung mengagetkanku
“Eh kemana? Bosscha? aku baru dengar nama itu” Jawabku sambil menenangkan jantungku yang dari tadi dibuat berdetak cepat oleh Handy.
“Heh kamu udah sebulan disini tapi blum tau Bosscha Observatory?” Tanya temanku yang satu lagi.
“Iya iya, emang mau kesana kapan?” tanyaku yang penasaran
“Sekarang. Bosscha itu tempat peneropongan bintang tertua di Indonesia” Kata Handy yang lagi-lagi mengagetkanku.
“Oh ya? Oke oke.. ayo pergi…”
—Di Bosscha—
“Wuih ndy… knapa nggak bilang dari dulu kalau ada tempat kayak begini? Kan kamu tau klo aku suka liat bintang” kataku dengan perasaan kagum akan tempat ini. Sungguh memang aku baru kali ini melihat tempat peneropongan bintang.
Saat kami sedang asik-asiknya melihat dan berkeliling ditempat itu, aku melihat seorang cewe yang sebaya denganku, penampilannya memang agak tomboy dari cewek yang biasanya. Dengan muka jutek, dia berkeliling bersama temannya.
“Jarang-jarang ada cewek yang datang ketempat seperti ini” Kataku dalam hati.
Tapi aku menghiraukannya dan tetap santai bersama teman-teman yang lain.
“Ndy, temani aku jalan-jalan cari teleskop besok yah” panggilku ke Handy dengan muka jutek entah karena liat cewek tadi itu, moodku langsung berubah. Ya, ini gara-gara segerombolan perempuan yg lewat disampingku sambil berbicara serampangan dan menabrakku entah dengan sengaja atau tidak
“Wuidihh yang suka liat bintang. Wkwkwk okedeh besok saya temani.” jawab Handy dengan sok
—Keesokan harinya—
Aku yang udah berkeliling-keliling mencari teleskop yang cocok untukku akhirnya ketemu.
“Erhil… coba liat tuh cewek… itu cewek yang kemarin ya kayaknya, yang judes itu” Panggil handy dari arah belakang sambil membisiki telingaku
“Oh iya, itu cewek kemarin yang aku lihat, rupanya Handy juga melihat dia kemarin” Kataku dalam hati.
“Iya bener ndy, aku juga kurang suka dengan cewek itu”
Entah kenapa aku kurang suka dengan cewek itu dan tidak tau juga apakah dia juga kurang suka denganku. Aku melanjutkan mencari teleskop dan akhirnya dapat. Rencananya, malam ini aku dan teman-teman mau ke bukit untuk menikmati keindahan langit malam diatas kota bandung ini.
———-Malam harinya——–
“Cakep ndy… langit malam di kota bandung emang mantep…” Kataku sambil melihat langit…
“Pasti donk Rhil.. Ini spot yang sangat cocok untuk melihat bintang…” kata Handy
Di spot ini, memang hanya kelompok kami yang datang, tapi tidak berselang waktu lama, kemudian cewek yang aku jumpai di Bosscha itu datang lagi secara tidak sengaja bersama teman-temannya dengan bekal untuk melihat bintang-bintang juga
Aku mulai risih dengan kedatangan mereka-mereka ditempat ini. Kembali lagi moodku jadi berkurang karena cewek itu. Kemudian dengan bermodalkan wajah marah aku datangi cewek itu dan teman-temannya yang sedang asik melihat bintang-bintang juga.
“Kamu kenapa sih selalu datang dimana saya berada?” Gertakku dengan wajah marah agar mereka ketakutan. Hasilnya teman-teman dari cewek itu kemudian takut tapi berbeda dengan cewek itu, dia malah menantangku
“Aku selalu mengikuti kamu dimana kamu berada? Buktinya aku tidak ada kalau kamu dirumahmu. Trus apa urusannya kalau aku datang kesini, ketempat pembelian teleskop dan ke Bosscha? Memangnya ada larangan? Kamu nggak usah marah donk.” Jawab Dia dengan muka marah juga
Aku kehabisan kata-kata dan berjalan memutar arah ke teman-temanku yang dari tadi melihat percakapanku dengan cewek itu. Aku melanjutkan penelusuran langitku bersama teman-temanku. Aku Hiraukan cewek itu bersama dengan kelompoknya. Nampaknya mereka hanya bermain seperti anak-anak dan melempar-lempar batu ke bawah.
Tanpa sengaja, batu yang cewek lempar itu tepat mengenai Teleskop yang baru aku beli siang ini dan membuatnya agak lecet sedikit. Spontan saja aku sangat marah dengan mereka dan kembali berdebat dengan cewek itu. Cewek itu kemudian meminta maaf kepadaku tetapi aku tidak mendengarkannya dan kembali memarahi mereka yang bergaya terlalu kekakanak-kanakan.
“Sudah Rhil… Tenangkan dirimu.. Kamu kesini kan ingin Menikmati langit malam. Lagian, teleskopmu cuman lecet sedikit kok. Ayahmu pasti tidak mengetahuinya” Kata Handy yang berusaha menenangkanku.
“Oke. Kalian berdua baikan aja yah… kita nikmati langit malam bersama-sama. Gimana?” Kata handy lagi yang mengeraskan suaranya agak teman-teman yang lain mendengarnya.
“SETUJU… Sudah Baikan aja Rhil… Nggak ada untungnya juga kamu marahin dia… Iya Baikan” Sorak semua Teman-temanku yang berusaha menenangkanku.
Dengan keadaan terpaksa. Kemudian aku menjulurkan tanganku seperti orang yang ingin berbaikan kembali. Kemudian cewek itu menjabat tanganku sebagai tanda kita berbaikan…
Setelah itu aku tidak tau apa rencana dari Handy, kemudian kita disuruh untuk duduk berjajar dengan posisi aku dan cewek itu berdekatan.
“Maaf kalau selama ini kamu tidak suka dengan aku. Aku juga sebenarnya kurang suka dengan kamu, karena melihat dari penampilanmu, kamu itu sok jagoan. Oh iya kenalkan, aku Beby. Aku suka melihat bintang-bintang bersama teman-temanku disini” Kata cewek itu yang rupanya bernama Beby.
Kemudian ia curhat kenapa dia bisa suka dengan teleskop, kenapa dia suka dengan bintang dan lain lain itu karena orang tuanya hobi meneliti angkasa luar dan orang tuanya telah meninggalkan dia sendiri bersama dengan neneknya. Spontan saja dia mengeluarkan air mata sambil tertunduk agar kami semua tidak melihat muka sedihnya.
“Saya juga minta maaf yah Beb kalau selama ini aku sinis terhadapmu.. aku turut bersedih mendengar ceritamu” Jawab aku sambil mengusap air mata yang jatuh dipipinya.
“Heh tau nggak, kalau kamu sedih begini kamu jelek loh… Aku lebih suka lihat kamu tersenyum.. sudah jangan menangis lagi yah… nanti orang tuamu marah loh kalau lihat anaknya sedih begini saat melihat langit malam” Kataku yang berusaha menenangkannya…
“Trima kasih sudah mengerti perasaanku” Kata Beby kembali yang kemudian memelukku dan menangis sedih…
Akhirnya kami semua menikmati langit malam di kota bandung ini kembali.
~ END ~
Author : @chaerilriri

Ingin fanfict kalian dipost disini?
Kirim email ke : cerpen@jkt48fans.com
Subject : #JKT48Fanfict

Rabu, 07 Agustus 2013

A Smiling Sun, A Smiling Eyes, An Undying Faith (to Riskha Fairunissa)




“apa yang kulakukan disini brah?” aku bertanya pada diriku sendiri. Aku bertanya mengapa hanya aku yang salah gaul berada disini. Apa yang kulakukan? “ya kau berjanji untuk menjadi orang lain hari ini dan punya hobi, punya sesuatu yang kau senangi, punya sesuatu yang…” dan kata-kataku tidak berjalan mulus… dan kembali aku menapaki trotoar. Ketika jam menunjukkan pukul 12.00 malam dan tak ada yang bisa kulakukan sembari memandangi pintu mall yang menutup dan kerumunan yang menipis.

Tetapi apa yang bisa kau harapkan? Aku tidak punya hobi, aku tidak punya sesuatu yang aku senangi. Aku hanyalah cangkang kosong. Aku hanyalah sesuatu yang dipakai dan dibuang ketika rusak, luka dan diganti ketika nafasku berhenti. Sebuah sekrup kecil disebuah mesin berwarna hijau dibalik topi baja.

Merapatkan tubuhku dibalik mantel hujan menahan angin dingin, mengelus tengkukku dengan telapak tangan yang kasar. Satu dua lima luka terasa. Setiap luka dihargai dengan sepotong logam dan sedikit uang. Sendirian, terkadang teman yang kumiliki hanya kesepian itu sendiri, dan tak terhitung teman yang aku kuburkan, dilepas dalam salvo atau terkubur entah dimana tanpa bisa diambil kembali. Aku sendirian.

Kali ini aku tegak sendirian, bermandikan hujan, lebih baik pulang. Aku tidak punya apapun, buat apa aku disini? Seketika aku merasa bulu tenkuk berdiri dan aku melirik ke sebelah kiri. Seorang gadis, mungkin menunggu taksi, sama denganku. Selama ia tidak menghunus pisau atau melempar granat, dia bukan urusanku.

“nothing gonna lasts forever even cold november rain….” Senandungnya disebelahku.

“the rain may not lasts forever, but the heinous cold shall stay.” Kataku…
Dan dua mata itu memandangku, belo, besar dengan pandangan penuh ingin tahu.

“hah? Maaf kak?”

“tidak ada, aku tahu lagu itu used to heard that when I was at your age.” Aku memandangnya, dibalik kacamata. “oh maaf, lancang sekali, tetapi aku heran masih ada yang mendengarkan lagu itu.”

“ooh, saya mah denger lagu apa aja. Ga peduli kayak apa, kalau bagus ya didenger.”

“termasuk lagu yang didengarkan oleh orangtuaku juga?” jawabku
Dia tersenyum dan matanya hilang! Seketika.. aku tidak tahu yang pasti, “waah kalau itu ga masalah kak, yang penting lagunya bagus kita dengar, ya kak ya?” jawabnya dengan nada polos… yang sangat lucu, and… damai.

“terserahmu, nyanyikan aku satu lagu lagi.”

“bayar kak!” jawabnya lincah.

Tanpa berpikir aku mengeluarkan dompet, “berapa satu lagu?”

“limapuluh ribuuu!” teriaknya sementara rintik hujan semakin deras.

“murah amat. Kenapa Cuma limapuluh ribu? Ini seratus ribu mau?” jawabku sembari melambaikan duit merah.

“yah si kakak serius amat. Biasanya orang bayar limapuluh ribu dengar aku nyanyi gitu kak!” jawabnya dengan nada labil.

“anak sekecil kamu udah nampil, nyanyi lagi? Dan orang-orang Cuma bayar limapuluh ribu?” tanyaku dengan nada tak percaya.

“bukan uang kak, tetapi hal yang lebih dari itu. Terkadang ada yang lebih dari itu, seperti cinta yang mereka sempatkan buat kami, aku yang menghibur mereka…”

“kau percaya cinta dek?”

“tentu aja kak, siapa yang enggak kak..”

“aku sudah melupakan itu sejak lama…” Ia memandangku dengan penuh ingin tahu, seolah aku datang dari dimensi lain dan menunggu taksi ditempat yang sama dengan kami berdiri sekarang. “well, kita berasal dari dunia yang berbeda. Aku dan kamu itu seperti dua ekor burung, kamu merpati aku rajawali.”

“ah si kakak rempong, aku sukanya bukan burung, tapi kucing.” Dan lagi, seperti ada seseorang menuang es kedalam tubuhku ketika matanya menghilang. Sial,

“ahh bagaimana kalau begini, kamu kucing anggora.. aku macan, kita sama-sama kucing tapi kita tidak hidup ditempat yang sama. Begitulah diantara kita sekarang, kamu dirumah, aku dihutan. Tapi tetap saja aku lebih suka dengan merpati dan rajawali.”

“iya deh kak ya, terserah.” Jawabnya lucu. “kakak misterius banget, memangnya kakak kerja apaan? Penulis? Penyair?”

“pekerjaanku? Bisa dibilang, pekerjaanku adalah mastiin cewek-cewek lucu sepertimu tetap bisa menyanyi, tetap bisa tersenyum, tetap bisa menghibur orang lain.”
“mulia banget.” Jawabnya sembari tersenyum manis dan menggigil. Aku melepas surban yang melingkari leherku dan mengalungkannya disekeliling lehernya. “lho kak?”

“penyanyi ga boleh membiarkan lehernya kena angin dingin.. nanti suaramu jadi serak. Dan juga, sepertinya kita sudah terlalu lama disini. Dan sepertinya kamu sengaja membiarkan beberapa taksi lewat.”

“aku tidak tahu kak, sepertinya aku penasaran mendengar cerita kakak.” Ia memainkan air yang mengalir diantara hujan. Begitu damai dan begitu tenang.. suatu dunia yang aku tidak pernah bisa dapatkan.
Sembari meregang tubuh aku berujar, “ceritaku tidak selalu menyenangkan, adik kecil. Dan kadang aku ragu kita bisa ketemu lagi.”

“ah enggak mah kak, kita selalu bisa ketemu. Aku selalu nampil diatas mall itu, di teater. Aku gak kemana-mana kok kak.”

“kalau aku sesama merpati sepertimu mungkin aku bisa selalu bertemu denganmu. Bergabung dengan fansmu, ikut menikmati suaramu. Tetapi kita mungkin sesama burung, tetapi langit yang aku huni tidak sama dengan langit yang kamu lihat.”
Mukanya semakin bingung, “ah iya deh kak ya, aku gak mengerti sih, tapi iya aja deh.”

“siapa namamu?” tanyaku sembari melangkah ke depan.

“ika, riska Fairunisa.”

“namaku—“ aku tidak bisa mendengar suaraku sendiri akan tetapi ia tersenyum.

“nama kakak bagus,” aku melambai pada sebuah taksi dan taksi itu menepi. Pintu terbuka..

“apa ga barengan aja kak?” tanyanya.

“ga perlu.” Aku menjabat tangannya, “masih ada perlu yang lain. Makasih udah nemenin aku, kha”

“beneran, aku tunggu kakak di teater.. teater… datang ya liat aku nampil.”

“enggak janji.” Tetapi dalam hati berbisik… harus… harus datang melihatnya lagi, whatever it costs.

Pintu menutup dan senyumnya membayang diantara rintik hujan. Meninggalkanku sendiri. Dan.. sial.. surbanku dia bawa! Mana belum dicuci lagi. Sialan. Sementara aku merasa dua, empat, tujuh bayangan bertubuh besar berdiri dibelakangku. Mereka mengangguk. Sudah waktunya. Dan aku berlari mendekat..

Disuatu tempat tak bernama…rimba papua..
Aku terduduk disebuah ceruk sementara lumpur terus naik setinggi dada, menenggelamkanku perlahan. Dan hujan tunduk, hujan bercampur butiran kabut yang menyapa malu-malu. Aku menghirup udara dalam-dalam namun mulai tercekik.

Terbatuk bersama butiran cairan berwarna merah muda. Paru-paru sebelah kiri hancur. Perut berlubang… dan terduduk sendirian bersama tubuh-tubuh lain yang tak bernyawa, sebagian terluka sementara tempik sorak bercampur letupan terdengar disekujur penjuru. Teriakan, sorakan, jeritan, suara daging dihempas peluru dan bau asap mesiu diantara hujan.

Wajah teman yang terluka, kosong. Wajah teman yang tewas, kosong. Dan akhirnya akupun tidak tahu untuk apa kesia-siaan ini terus berlanjut. Mengapa kami harus meregang dan bertaruh nyawa hanya demi sebuah bukit… dan satu suara berdegup, tepat diantara tubuh teman-temanku yang terluka, tepat didepanku… bulat mungil seperti manggis berwarna coklat.

Nyawa memang murah, nyawaku, tetapi aku tidak tahu mengapa dengan sisa tenagaku tubuhku melompat, menyelubungi manggis imut dengan tubuhku. Sementara satu dorongan terasa menarikku keatas.

Hujan rintik-rintik, malu-malu menyapa, sementara pandanganku meredup. Helmku terguling.. dan kulihat sesuatu disana, kulihat wajahnya, matanya sipit menghilang tersenyum padaku..dikotori satu dua titik coklat, darah? … dan aku tahu sekarang untuk apa aku hidup..
Memperpanjang senyumnya beberapa saat, jam, hari ataupun tahun.. aku tidak tahu.. aku tersenyum sementara semuanya menjadi gelap. Hal terakhir yang kusebut adalah… I adore you ikha.. riskha … eventough you never know it..

Disatu tempat seorang gadis memandangi matahari yang terbenam dari balik jendela teater.. ia tak tahu mengapa.. mengapa mendadak airmatanya jatuh.. ia tak tahu mengapa ketika mendadak ia menyentuh surban coklat itu airmatanya jatuh. Memeluk kain lusuh, dan memandang mentari terbenam diantara latar langit. Yang menimbulkan retakan… kemana pria itu? Kemana dia? Dan Ikha tahu ia bukan pengecut, namun apabila ia tidak bisa datang, maka jadilah.. tetapi mengapa harus menjatuhkan airmata demi itu? Mengapa ia begitu.. bukan kecewa, tetapi sedih… hingga ikha mengingat beberapa hal. Terutama :

“pekerjaanku? Bisa dibilang, pekerjaanku adalah mastiin cewek-cewek lucu sepertimu tetap bisa menyanyi, tetap bisa tersenyum, tetap bisa menghibur orang lain.”
Dan meskipun absurd ikha berbisik, “Mungkin aku bisa mengerti… Rajawali.” Dan encore bergemuruh memintanya dan rekannya untuk kembali memberi warna dan senyum bagi siapapun yang berbaik hati memujanya… with undying faith

Credit to author


Jadilah Blogger Yang Beretika, dengan mencantumkan Link Sumber yaa.. ^^ Sumber Artikel Dari: http://fansjkt48indonesia.blogspot.com/2013/05/a-smiling-sun-smiling-eyes-undying.html#ixzz2bLxoWNqb

Rabu, 31 Juli 2013

Apakah Kau Melihat Mentari Senja, Ve?


[PV] JKT48 - Yuuhi wo Miteiru ka.mp4_snapshot_04.57_[2013.07.31_03.44.44]
Sore itu saat aku dan teman-temanku sedang berkumpul di taman sebuah universitas yang cukup terkenal di kota ini,kami semua berbincang tentang topik yang sama,yaitu tes SBMPTN yang dilaksanakan pagi tadi dan esok pagi,yap kami semua sedang mengikuti tes yang akan menentukan diterima atau tidak di PTN yang kami inginkan,bukan cuma kami semua peserta mungkin menginginkannya,
“haaah,capek tadi!tesnya susah amat!kangen rumah juga…” keluh salah satu temanku
“iya,baru aja ninggalin rumah 2 hari,tapi udah kangen keluarga aja nih,ya gak den?”
“iya hahaha,jadi cepet pengen pulang nih” kataku sambil tertawa
Kami adalah perantau dari luar kota,yah,maklum lah demi masuk PTN yg didambakan harus ada perjuangan juga kan?salah satunya merantau ke luar kota untuk mengikuti tes ini,selama berada dikota ini aku dan teman-temanku ngekos,tapi sialnya aku dapet kos an yg cukup jauh dari lokasi tes,selain itu aku juga sendirian karena semua temanku udah dapet kos an masing-masing.
Sore telah berganti malam,dan saatnya untuk kembali ke gubuk sementara,seperti biasa aku masih setia dengan motor sportku yang sudah kuno ini,mengapa kuno?lah?ini motor sport keluaran jadul,mesin 2 tak,suara jantan banget,dan larinya yg ngebut!(tapi pada zaman kejayaan motor ini),tanpa basa-basi ku starter motorku ini,
“trengggggg!!!trengtrenggggg!!!!”
“wah ngeri coy,motor 75 mu masih galak juga yaaa,haha!” ejek temanku
“eee,ini nih sepuhnya motor ninja jangan diremehin bro” balasku
“haha,yaudah be careful coy,jangan ngebut ya?ntar mogok lagi?haha”
“sial lu,gimana mau ngebut?lari nya kaya kakek gue saat ikut lomba lari 17an,yg bener aja” kataku pasrah
Akhirnya kami semua berpisah menuju Kos an masing-masing,saat tengah asik menikmati jalan aku merasakan ada yg tidak beres dengan mesin motorku ini,rasanya seperti mau tepar nih motor, ”ceguk,ceguk,treeing,bbrrruttttuttuttu”
Haah,ternyata motorku mogok!sial banget duh!mau tidakmau aku harus menuntun motorku ini sembari mencari tempat yg tepat untuk memperbaikinya,dan akhirnya aku memutuskan berhenti didepan sebuah mini market yg cukup terkenal di Indonesia ini,setelah 2 jam berkutat dengan motor,motor pun bisa nyala lagi,wah betapa senangnya diriku ini,namun tubuh terasa lelah dan haus,kebetulan sekali aku berada tepat di depan mini market ini,bisa beli minuman deh,segera aku bergegas masuk.
“selamat malam,silahkan berbelanja dengan nyaman…..” ucap seorang gadis kasir mini market tsb
“ii…yyaaaa” jawabku grogi
“yaampun,mbakmbak kasirnya cantik banget!aduh!” batinku berbunga-bunga
Selama ada didalam mini market tersebut tak henti-hentinya aku memandangnya,sampai-sampai aku tak sadar apa yang ku ambil dan akan kubayarkan kepada gadis kasir yg cantik tersebut,kupandang wajahnya yg mulai tertawa kecil melihat barang apa yg akan aku beli,
“kak,gak salah mau beli ini?” Tanya gadis kasir itu sambil menahan tawanya
“beli apa?” jawabku setengah sadar sambil memperhatikan barang tersebut
“ini minuman datang bulan untuk wanita loh?kakak kan pria?hehe?” jelas gadis kasir itu
“eh!buset dah!apaan?nggak!yaampun salah ngambil nih saya!” jawabku spontan
“tobat dah!kenapa ngambil ini!” gumamku sambil membalikkan badan utk menukarkan minuman tersebut
“nah ini nih yg bener!fiyuhhh…” kataku sambil memberikannya kepada gadis kasir itu
“udah bener nih kak?ntar salah lagi,hehe,saya total yaaa”
“aduh udah cantik,baik,ramah,wwaaahh” batinku
“semuanya 10.500 kak”
“oh iyaiya,tunggu bentar ya”
Saat akan mengambil uang dari dalam tasku,aku menemukan satu plastik uang recehan,lah ternyata si Alvin temanku diam-diam menukar uangku dengan recehan ini,seketika aku tertegun,melihat sekitar,wah untung sepi nih…
“si Alvin nih!sial banget,semua duit dalem dompet ilang!pasti ngutang lagi tuh anak!mana cadangan uang ketinggal dikamar kos lagi,ampun…” batinku
“mbak bayar pake uang apapun boleh kan,yg penting halal,iya gak?” jelasku dengan PDnya
“iya kak,emang ada apa sih?” Tanya gadis itu penasaran
“kliiittttiikkkk,satu,kkkkllliitiik,dua,kkkllliitiik,tiga….” dan seterusnya sampai uang recehan tadi menjadi terkumpul sebanyak 10.500,gadis kasir itu bengong melihatku menghitung recehan sembari menahan tawanya itu,
“udah selesai ngitungnya?” Tanya gadis kasir itu
“aaaddduuhh,hehehe,emmmm,hehehe,mbak uangku kurang 500 nih?gimana ya?” jawabku polos
“yaaaahhh,ngitung lama,malah kurang,yaudah deh,nggakpapa,sekalian amal” balas gadis itu sambil tertawa
“makasihhh yaaa!“
“dasar,cowok lucu,hheehee” gumam gadis kasir tersebut
Setelah keluar dan berniat mencoba kembali motor,eeeee mogok lagi motornya,terpaksa harus jadi bengkel dadakan lagi,tak terasa sudah sangat larut,mini market sudah tutup namun aku tak menyadarinya,karena sibuk dengan motor,lalu…
“kak,lagi ngapain?kok masih disini?” Tanya gadis kasir tadi
“eh,mbak kasir iya nih motor mogok lagi” jawabku
“berarti dari tadi disini?gak capek kak?”
“capek sih,tapi capek ilang kalo liat mbak,hehe” batinku dalam hati
“kak?halo?jangan bengong!” kata gadis kasir tersebut
“eh iya,maaf mbak,nanya apa tadi?”
“haduh jangan panggil mbak dong,aku seumuranmu tau?panggil Ve aja ya?”
“oh,Ve yaaa,aku deny,salam kenal ya Ve!em,mau pulang emang?”
“iya nih” jawab Ve singkat
“aku anterin mau nggak?motor udah gak rewel nih,hehe” tawarku pada Ve
“nggak ah nanti ngrepotin kamu lagi?” tolak Ve
“nggak kok,lebih aman kan,ini udah malam lho,banyak bahaya.mau ya?”
“emmm,oke deh!”
Saat diperjalanan mengantar Ve pulang,kami bercerita banyak hal mulai dari dirinya,diriku,dan motorku (apaan sih?nih motor ngapain diceritain,butut juga!),yah,ternyata Ve juga ikut tes SBMPTN,aku tanya alasan kenapa ia sudah bekerja,ternyata karena faktor ekonomi,ia bilang ingin sedikit meringankan beban orang tuanya,ia hanya bekerja saat malam saja,setelah sampai dikediaman Ve aku merasa aneh,semua orang disekitar rumah Ve menatap dengan mata sinis,apa yg terjadi?sepertinya mereka benci melihat Ve,aku merasa sangat bingung,lalu aku ditawari Ve untuk mampir sebentar,namun aku menolaknya,karena sudah larut malam dan esok adalah hari penting jadi aku langsung pulang saja…
Pagi ini adalah tes SBMPTN hari kedua,sekaligus hari terakhir,semua antusias sekali tak terkecuali diriku yg sedang berbunga-bunga karena berkenalan dengan gadis kasir cantik bernama Ve,setelah tes selesai aku sengaja tidur di kursi panjang bawah pohon rambutan,sembari menunggu suasana parkir dan jalan agak sepi,namun disela-sela diri sedang bermimpi indah ada seseorang yg tak asing lagi…
“Den….den….halo?bangun!!!” terdengar suara perempuan
“waaaaaa!!!!!ggeeddeeebbbuukk!!!” karena kaget aku terjatuh dari kursi itu
“aduh,sakit coy…..haah?Ve!?” sapaku kaget kepada Ve sambil memegang kepalaku
“cie,mimpi apa tadi sih?sampe jatuh gitu?haha” ejek Ve
“hehe,aku mimpiin kaaamm..”
“bbiinnggg?” sambung Ve
“yaaa,kambing…,eeehh!!!enggak lah ngapain juga!”
“ihh,dasar cowok lucu!” ejek Ve lagi
“biarin!” kataku
“kamu tesnya disini juga Ve?wah sama dong,haha”
“iya,tapi kemarin belum liat kamu,kan belum kenal,haha” jawab Ve
“tapi sekarang kan udah kenal,jadi kita teman kan?walaupun baru kenal,aku merasa senang lho!”
“ii..yyy..aa,kita teman!aku juga sama….” jawab Ve tersenyum
Aku dan Ve ngobrol cukup lama di kursi bawah pohon rambutan tersebut,sesekali aku mengambil rambutan untuk kami berdua,tak habis-habisnya topik bicara antara aku dan Ve,aku dan Ve selalu melempar canda sehingga kita saling melempar senyum…
“buah rambutannya manis yaa,nyam!nyam!” kataku sambil memakan 3 buah rambutan sekaligus
“iihh,atuatu makannya den!keselek repot ntar!” tegur Ve
“udah kasep nih,hahahaah” balasku
“hehe..,emm,kamu balik hari ini den?” Tanya Ve
“iya,mungkin,kenapa?mau ikut?” ajakku pada Ve
Ve hanya diam,wajahnyanya berpaling dari diriku,seketika aku merasa selama ini dia kesepian,sepertinya jarang menghabiskan waktu dengan teman-temannya karena ia juga sibuk harus membagi waktunya untuk bekerja demi menopang ekonomi keluarganya…
“Ve?kamu nggak papa kan?” Tanyaku pada Ve
“aa…kkuu belum pernah merasa senyaman ini didekat teman-temanku,mungkin karena aku terlalu menutup diri dengan lingkungan?tapi buat apa jika mempunyai teman,tetapi tak pernah mendukung diriku saat terpuruk,mereka mengucilkanku,semua orang berpikir negative tentang diriku,aku hanya ingin membantu keluarga,untuk itu aku rela pulang larut malam,aku berbuat benar namun bagi mereka salah!mereka tak tau apa yg aku kerjakan!aku tak seburuk seperti yg mereka pikirkan!” jelas Ve dengan mata yg berkaca-kaca
“ohh,aku mengerti,tadi malam semua orang disekitar rumah Ve itu…..” batinku
“Vvvee…?” ucapku lirih
Suasana yg ceria seketika menjadi hening ketika Ve berkata seperti itu,aku merasa bingung,sedih,tak tau apa yg akan kukatakan kepada Ve untuk memecah keheningan ini,lalu aku menemukan suatu ide. Segera mungkin aku duduk didepan Ve sembari menyanyikan sebuah lagu untuknya…
“tepat di depan matamu,ada sungai mengalir luas sebuah sungai yg besar,walaupun gelap dan dalam walaupun arusnya deras…tidak perlu ketakutan walaupun kau terpisah dan tepian pasti ada lebih percayalah pada dirimu…..”
Seketika Ve terhenyak dan memandangku dengan sangat heran,kulihat pipinya telah terbasahi oleh air mata kesepian yg dipendam oleh diri seorang gadis kasir bernama Ve itu…
“seluruh manusia pasti mengalami rintangan Ve,manusia juga butuh proses untuk melewati rintangan itu,dan kamu,sudah dalam proses tersebut!memang tak mudah!tapi tetaplah berjuang!aku yakin kamu cewek yg kuat!lepaskan kebencianmu,believe yourself yaa…!” jelasku sambil mengusap air mata Ve
“iya…makasih den,walaupun baru kenal,tapi kamu adalah sahabat terbaikku!” ucap Ve sambil tersenyum
Siang pun sangat cepat berganti malam,Ve tetap bekerja seperti biasanya sebagai gadis kasir di sebuah mini market,sebelum mini market akan tutup,Ve menyempatkan diri untuk merapikan semua rak makanan,namun karena terlalu lelah,ia kehilangan fokus lalu dengan tak sengaja ia melakukan kesalahan hingga barang dagangan jatuh berserakan dilantai,Ve sangat kaget atas kesalahannya tadi dan segera merapikannya kembali,namun……
“aduh,kok bisa gini sih,aku udah lelah banget nih,berantakan semua!!!” keluh Ve sambil merapikan dagangannya
“mbak kasir?lagi ngapain?tuh kasirnya kok ditinggal?ntar saya rampok lho uangnya?” kataku
“deny?kok kamu disini?aku kira kamu udah pulang sore tadi?” Tanya Ve heran sambil menolehkan kepalanya kearahku
“hehe,batal deh,aku belum sempat jalan-jalan keliling kota ini,kira-kira ada yg mau nemenin gak ya?” tanyaku sambil membantu Ve merapikan dagangannya
“kamu mau nggak?” tanyaku lagi
“ehm,beneran nih???” balas Ve
“iya toh,masa benerin?aneh jadinya kan,”
“apaan sih,iya deh aku temenin,nyasar nanti kamu yg repot!” ejek Ve
Keesokan harinya,aku sudah bersiap untuk menghabiskan satu hari penuh dikota ini,tentu saja bersama Ve,aku berharap hari terakhirku dikota ini akan sangat menyenangkan,setelah selesai berpakaian,aku langsung saja menuju kerumah Ve,setelah menjemput Ve,kita berdua berkeliling kota dengan motor bututku ini,dari mulai tempat yg ramai sampai tempat juga yg sepinya kaya kuburan,wah betapa senangnya diriku ini.
Tak terasa hari sudah sore,Ve mengajakku ke tempat dimana ia menghabiskan waktunya jika ia sedang sedih atau ingin menenangkan diri,aku sangat penasaran juga tak sabar melihat tempat itu,ahhh,mulai ada perasaan gelisah dan takut menghantui diriku,bukan karena tempatnya sakral nan menakutkan,ternyata tempat yg kita berdua tuju adalah perbukitan,haduh tak bisa kubayangkan nih motor? apa kuat naik turun bukit.
Dan ternyata benar,beberapa kali tanjakan disitulah motorku mogok,tiap kali mogok Ve selalu marah dan memanyunkan bibirnya itu,tapi aku senang,karena Ve sangat terlihat berbeda hari ini,setelah beberapa kali berjuang melawan mogok,akhirnya sampai juga di taman diatas bukit ini,wah memang benar disini sangatlah nyaman,tak heran Ve sangat betah berada disini.
“yyaaa sampai deh!bagus kan tempatnya!!!” pamer Ve
“hah,ini,hah,haduh,diem dulu deh!” kataku ngos-ngosan
“ih,kamu kenapa sih?nyebelin tau ga?” balas Ve sambil memanyunkan bibirnya
“ampun Ve,aku lelah nih,dari tadi fix motor terus,kamu tinggal manyun aja,jelek tau?” balasku
“iya!emang aku jelek!kenapa!!!?” bentak Ve
“wih,ngambek?dasar hehe,nggak kok,kamu lucu kalo lagi manyun gitu?”
“halah kamu boohhhoo…”
“juga cantik…..” balasku sambil tersenyum
“a..aapa?” Tanya Ve heran
“cantik!eh yuk main layangan?ada abang yg jual layangan tuh?” ajakku sambil menarik tangan Ve
Setelah membeli sebuah layang-layang,kita berdua bermain bersama,mencoba menerbangkan layang-layang setinggi-tingginya,kami berdua sangat bersemangat,karena terlalu bersemangat layang-layangnya pun tersangkut di sebuah pohon,lelah berlarian, aku dan Ve duduk berdampingan di rerumputan yg terhampar luas disertai angin sepoi-sepoi sambil melihat pemandangan matahari senja yg sangat indah….
“haha!capek ya Ve?”
“nggak juga sih,aku seneng hari ini!” balas Ve dengan riang
“hehe,kapan-kapan kesini lagi yukk!aku pasti kangen tempat ini,hhaaaahhh” ajakku pada Ve
Tak ada respon dari mulut Ve,setelah aku menoleh kearahnya,ternyata ia hanya tersenyum saja,bagiku itu adalah jawaban yg cukup untuk pertanyaan yg telah kuberikan tadi….
“Apakah kau melihat mentari senja? Ve?”
“iya,seperti apa yg sedang kita berdua lihat saat ini?kenapa?” Tanya Ve
“dia…sangat indah,apa kau mau jadi seperti dia?”
“maksudmu?jadi seperti mentari senja?” Tanya Ve lagi
“iya,tetap sinari dengan indah jalan menuju cita-citamu ya,agar dapat terwujud!kelak jika sudah tercapai,sinarilah juga orang-orang yg kamu sayangi,juga orang-orang yg telah menginjakmu selama ini,sinarilah mereka semua dengan sepenuh hatimu!” jelasku
“ta..pi..mereka benci aku,aku seperti tak berarti jika ada didekat mereka aku….” kata Ve sedih
“mereka semua juga akan menjadi bagian dari jalan kesuksesan yg akan kamu raih!percayalah!” kataku
“kamu benar den,jika tak ada mereka semua,aku tak akan bisa melangkah sejauh ini,sekarang aku mengerti maksudmu…terima kasih yaa sahabat!” kata Ve sambil tersenyum
“aku janji kita akan bertemu lagi!ini bukan perpisahan!!!tos dulu!hehe” balasku tersenyum
“aku pegang janjimu den!ayuk toss!!!”
“pplllaaakkk” suara kedua telapak tangan aku dan Ve sebagai tanda berakhirnya hari ini dan janji yg telah kita berdua ucapkan
2 tahun kemudian………
Sudah lama rasanya aku kembali ke kota ini,kota tempat aku melaksanakan tes dulu,aku sengaja mampir ke kota ini setelah sekian lama tak melihatnya lagi,juga ingin menghidupkan kenangan yg dulu pernah ada di kota ini,saat kembali ke kota ini aku merasa ada yg kurang…..
Aku berdiri di depan sebuah mini market yg tak asing lagi untukku,tempat dimana aku bertemu sahabatku yg bekerja sebagi gadis kasir,ku lihat dari luar dia sedang melayani para pelanggan dengan senyuman yg antusias,aku masih merasa canggung bertemu dengannya sekian lama,ini waktu yg tidak tepat…
Hari berganti sore,kulihat dia telah keluar dari mini market tersebut,kupandang dirinya dari seberang jalan,dia sepertinya pulang lebih awal,ku ikuti gerak-gerik dirinya dari belakang sampai di jalan yg sepertinya aku kenal dan familiar dengan ingatanku,dan ternyata benar yg ia tuju adalah tempat favoritnya itu.
Setelah sampai kulihat ia duduk di tempat rerumputan luas sambil memandang mentari senja sore yg indah,aku berjalan perlahan kearahnya,ingin sekali diriku untuk menyapanya setelah 2 tahun tak bertemu…
“bagus banget ya tempat ini,banyak kenangannya pula?bukankah begitu Ve?” kataku memecah keheningan
“siapa?kamu mengikutiku ya?apa yg kamu inginkan?” balas Ve tak melirik sedikitpun
“kalau mau menggangu,lebih baik pergi saja…maaf…” tambah Ve
“…….” aku tertegun,terdiam sejenak,apa Ve udah lupa?apa hanya pura-pura?dia bahkan tak menolehkan kepalanya sedikitpun,aku mulai bingung…
“aku………” kataku terbata-bata
“kangen  sahabatmu?” kata Ve tiba-tiba memotong
“…………”
“aku….juga…” balasku
Aku hanya tersenyum,ternyata Ve masih ingat padaku,aku segera duduk disampingnya dan kita berdua melepas rindu sambil memandang mentari senja indah seperti 2 tahun yg lalu.
“Apakah kau melihat mentari senja?” tanyaku pada Ve
“kamu nggak berubah ya?iya,sekarang aku masih berusaha menjadi mentari senja yg indah itu…aku yakin bisa menggapai impianku!” balas Ve semangat
“sekarang kamu sudah lebih baik dari yg dulu…bagus Ve” kataku sambil tersenyum menatap Ve
Kami berdua pun tersenyum sambil memandang satu sama lain,ditemani oleh keindahan mentari senja yg menyinari persahabatan aku dan Ve.
-The End-

Sabtu, 06 Juli 2013

Hanya Teman Biasa




Siang itu cuaca sangatlah terik, di perempatan lampu merah itu aku menunggu angkutan umum,sembari menunggu angkutan umum yang tak kunjung datang sesekali aku melamun tentang nilai nilai yang ku dapat tadi disekolah, di tengah lamunan terlihat dari jauh sesosok perempuan yang sangat cantik yang sedang turun dari mobil mewahnya dan langsung memberikan sejumlah uang kepada bapak-bapak tua yang sedang terduduk lemah dengan tanpa kaki.
Perempuan itu memberikan sebagian rizki nya kepada bapak-bapak itu dengan senyuman yang sangat indah, aku yang berada disebrang dimana bapak-bapak itu duduk hanya bisa melihat senyuman yang sangat indah dari kejauhan."Malaikat apa yang baru saja aku lihat" ucapku dalam hati.
Dan tak lama angkutan umum pun datang dan aku pun segera naik, di sepanjang perjalanan yang tadinya aku melamun tentang nilai nilai mata pelajaran berubah menjadi perempuan yang barusan ku lihat, tidak hanya cantik parasnya tetapi hati perempuan itu tidak kalah cantik dari parasnya.
"Assalamualaikum."
Dan ibu ku yang sudah menantikan kepulangan ku membalas..
"Walaikumsalam, tadi dapet nilai berapa disekolah nak?"
"Nilai Malaikat cantik bu.." Jawabku yang sedang setengah melamun.
"Nilai Malaikat cantik???" Ibuku kaget.
"Bukan-bukan bu,maksudnya tadi aku dapet nilai matematikanya cantik.."
Aku pun langsung buru-buru melepas seragam dan sepatu sekolah dan pergi ke kamar. Di dalam kamar aku berusaha untuk tidak membayangkan lagi perempuan yang aku temui tadi di lampu merah itu, dan segera mengerjakan soal remedial matematika
Keesokan harinya disekolah setelah pembacaan tadarus Al-Qur'an disekolah ku selesai, wali kelas kami datang menghampiri kelas dan memberitahukan akan ada siswi baru yang akan menjadi teman baru kami.
"Assalamualaikum anak-anak, bapak kesini cuma pengen kasih tau ke kalian kalo hari ini kalian bakal ada teman baru,namanya Nabilah."
"Wooooooooooo.." yang lain bersorak tetapi aku tidak peduli dan tetap meneruskan pembacaan tadarus Al-Qur'an yang tadi belum sempat aku baca.
Nabilah pun masuk ke ruang kelas dan memperkenalkan dirinya di depan kelas,
"Halooooo teman teman namaku Nabilah Ratna Ayu Azalia panggil saja aku Nabilah , let's have fun together yaa.."
"Haii Nabilahh, haloo Nabilahh, Nabilahhh.." teman-teman bersorak, aku tetap tidak memperhatikan.
"Sodaqalllahhuladzim.." lalu ku cium Al-Qur'an yang telah kubaca. Setelah mengarahkan penglihatan dari Al-Qur'an ke arah depan kelas, "Subhanalllah" ucapku. Spontan "Itukan yang waktu itu di perempatan lampu merah.." dalam hati ku katakana.
Setelah memperkenalkan dirinya di depan kelas pak guru menunjuk kursi yang akan di duduki oleh Nabilah, dan ternyata Pak Guru menunjuk ke arah ku akupun langsung melihat sekitar dan ternyata kursi sebelah ku kosong.
Kaki ku pun bergetar ketika Nabilah berjalan ke arah kursi yang berada tepat disamping kursi ku. Ketika sudah duduk disamping aku pun hanya bisa mengangguk-angguk apa yang Nabilah katakan.
"Kamu kenapa kok kayaknya ketakutan kayak ngeliat zombie gitu?" tanya Nabilah.
"Engggg, engnggakk papa kok ini cuman nahan buang air kecil doang kok.." jawab ku.
"Yaudah sana ke toilet dulu sebentar.."
"Aaaa? Nggak jadi kok nggak jadi pengen buang air kecil hehehe, oh iya waktu kemarin siang kamu yang ngasih uang ke bapak-bapak pengemis yang ada di lampu merah itu ya?
"Ada ada aja kamu, ohh yang itu kamu ngeliat aku waktu itu? Engga itu cuman sebagian uang jajan ku doang kok.."
"Iya kemarin waktu aku nunggu angkutan umum aku ngeliat kamu hehehe.."
Bel istirahatpun berbunyi seperti biasa aku hanya memakan bekal yang ku bawa dari rumah pada waktu istirahat, sedangkan anak-anak yang lain semua pergi keluar kelas untuk pergi ke kantin dan lapangan, tetapi tidak dengan Nabilah dia tetap berada di samping ku sambil memakan bekal yang dia bawa juga dan memainkan game yang ada di gadget nya.
Dikelas hanya tinggal kami berdua, setelah aku dan dia selesai memakan bekal, aku lantas ditawari untuk memaikan game yang ada di gadgetnya, karena aku pun penasaran maka aku coba.
"Ini game apa kok seru ya? Hehehe.."
"Itu namanya Vector , masa belum pernah mainin sih?"
"Oooh, vector hehehe belum.." jawabku sambil menggaruk kepala.
Bel masuk pun kembali berbunyi dan anak-anak semua memasuki ruang kelas kembali. Pelajaran demi pelajaran pun berganti dan tak terasa Bel pulang sekolah berbunyi.
Seperti biasa aku menunggu angkutan umum yang biasa ku tumpangi, disaat aku menunggu berhenti sebuah mobil mewah yang rasanya pernah aku lihat.
"Inikan mobil yang Nabilah naiki kemarin siang.."
Dan ternyata benar dari dalam mobil seorang perempuan berteriak.
"Masuk ayo cepetan aku anterin pulangnya, cepetan masuk dibelakang macet nih.."
Tanpa banyak fikir pun aku langsung memasuki mobil itu.
"Kamu biasanya kalo pulang emang nungguin angkutan umum?"
Seperti suara Nabilah, setelah aku menutup kembali pintu mobil dan menengok ke arah datangnya suara itu dan ternyata benar itu Nabilah.
"Emm.. Emm.. Enggak biasanya naik sepeda, tapi sepedanya lagi nggak enak dipake aja hari ini.."
"Ohhh, gitu suka naik sepeda juga ya?"
"Ehehhe iya.."
"Rumah kamu kearah mana?"
"Emangnya kenapa? Nggak usah dianterin ke rumah aku, nggak enak aku, turun dirumah kamu aja gapapa, nanti aku pulang sendiri dari rumah kamu itu.."
"Hemm, bener nih? Yaudah deh.."
Dan ketika diperjalanan ada yang aneh, arah perjalanan ini persis sama seperti arah kerumah ku. Dan akhirnya tak lama sampai, dan ternyata benar tempat yang aku turun sekarang ini tidak berada jauh dari rumah ku, hanya berjarak sekitar 480 meter.
"Ehem, Nabilah makasih banyak ya tumpangannya, aku pamit pulang dulu.."
"Iya sama-sama, bener nih nggak mau aku anter ke rumah kamu?
"Iyaa gapapa rumah ku deket kok dari sini...Assalamualaikum.."
"Walaikumsalam.."
Akhirnya aku sampai dirumah ku, dan langsung menuju ke kamar untuk berisitirahat.
Keesokan harinya lagi aku berangkat kesekolah kali ini dengan menggunakan sepeda dengan wajah ceriah. Sesampai disekolah ternyata Nabilah datang yang paling pertama, padahal sebelumnya aku lah yang paling pertama datang ke sekolah.
"Kamu udah ngerjain pr matematika belum?"
"Pr yang mana Bil?" jawabku dengan muka gelisah.
"Yang disuruh kerjain soal Pitagoras.."
"Ohh yang itu, aku lupaaa, kamu emang udah?" tanyaku sambil menepuk jidat.
"Samaa aku juga lupa.." jawabnya sambil menepuk jidat juga.
"Kita kerjain bareng-bareng sekarang aja yuk.." ucapku sambil tersenyum licik kecil.
"Yaudahh yuk daripada enggak sama sekali.."
20 menit berlalu dan akhirnya PR ini sudah selesai, padahal sebelumnya jika aku mengerjakan PR sendiri bisa sampai 2 jam lebih.
"Alhamdulillah selesai.." ucap Nabilah.
"Huftt alhamdulillah ya, ini mah soalnya gampang.."
"Yeee iyalah kan kita kerjainnya berdua jadi gampang, kakek ku yang dirumah juga tahu.." jawab Nabilah spontan.
"Haha tuhh tahu.." sambung ku sambil tertawa dan senyum bahagia.
Mata Pelajaran demi mata pelajaran berganti dan jam dinding kelas telah menunjukkan pukul 02.00 siang, dan bel pulang pun berbunyi. Aku pun langsung berlari menuju tempat dimana sepeda ku parkir. Setelah mengambil sepeda itu aku melihat Nabilah yang sedang duduk sendiri dengan muka bingung.
"Nabilah kamu kenapa? Nggak pulang?" ku hampiri dia.
"Bukannya nggak pulang aku bingung pulang sama siapa, jemputanku enggak bisa jemput aku hari ini.."
"Tenang kan ada aku disini hehehe, tapi aku cuman bawa sepeda satu, gimana kalo kamu yang naik sepeda ini terus akunya jalan ngikutin kamu dari belakang?"
"Ahhh engga ah, kalo seperti itu namanya aku nggak tahu diri, aku naik dibelakang sepedamu aja, kan ada tempat duduknya.."
"Bener nih? Kalau naik sepeda aku jalannya nggak secepet naik mobil kamu, udaranya juga nggak sesejuk ac didalem mobil kamu, nanti kepanasan loh.."
"Lebay kamu! Udah ayo jalan.." teriaknya sambil mendorong sepeda dengan semangat.

Ku selalu tertawa dibagian belakang sepeda.
Yang kita naiki berdua, aku diam diam berbisik.

Sepanjang perjalanan sangatlah indah, dipenuhi dengan candaan-candaan kecil yang membuat satu sama lain tertawa bahagia dan memancarkan senyum yang sangat indah. Ketika aku menoleh ke arah belakang Nabilah melihatkan senyum indah nya ke arah ku yang sama persis kepada bapak-bapak yang ada di lampu merah waktu itu, aku hanya bisa tersenyum kecil melihat senyum nya.
Dan setelah melewati perjalanan yang cukup jauh aku sampai dirumah Nabilah.
"Makasihh ya udah nganterin aku pulang, makasih juga sepeda nya.. "
"Iya sama sama, ah cuman sepeda biasa kok, aku pamit dulu ya, Assalamualaikum.."
"Bukan masalah sepedanya tetapi perjalanannya , Walaikumsalam.."
Sekali lagi Nabilah melihatkan senyumannya itu ke arah ku, aku tidak bisa melihat lama-lama senyuman itu karena cuaca yang semakin mendung yang mengharuskan aku cepat cepat tiba dirumah.
Aku pun sampai dirumah dan seperti kebiasaan ku langsung pergi ke kamar untuk beristirahat, sambil berbaring ditempat tidur aku terus melamun tentang perjalanan sepeda yang aku naiki berdua dengan Nabilah tadi, aku pun tidak malu malu tersenyum sendiri di kamar.
Hari demi hari pun berlalu, kita semakin akrab dan saling terbuka satu sama lain, tak jarang kita pun bersepeda dengan sepeda yang biasa kita naiki berdua.
Suatu hari ketika pelajaran Matematika dikelas berlangsung, ada seseorang yang mengaku menjadi asisten dari Nabilah mengatakan kepada ibu guru untuk menjemput Nabilah.
"Ibu permisi, kita dari JKT48 Operation Team ingin menjemput Nabilah sekarang karena JKT48 akan membuat shooting iklan terbaru , mohon maaf ya bu ini dadakan.."
Nabilah pun langsung bergegas membereskan peralatan sekolahnya ke dalam kelas dan tidak berkata apa-apa kepadaku hanya tersenyum kecil.
Selama ini Nabilah tidak pernah cerita tentang JKT48, aku pun tidak tau kalau Nabilah merupakan member dari Idol Group JKT48 dia tidak pernah menceritakan ini sebelumnya, aku agak sedikit kecewa karena hanya hal ini Nabilah tidak terbuka.
Aku berfikir sesekali untuk mengutarakan perasaan ku kepada Nabilah semenjak pertama kali aku melihat senyumannya di perempatan lampu merah itu, namun aku merasa tidak bisa dan sangatlah malu untuk mengucapkannya, apalagi ketika dia tersenyum ,senyuman itu membuat fikiran ku menjadi buyar dan tidak fokus.

"Aku akan menyatakannya besok.." dalam hati mantap ku katakan.
Keesokan harinya, ini lah hari yang mendebarkan dan yang ditunggu tunggu bagiku, seperti biasa ketika aku datang ke sekolah sudah terlihat Nabilah duduk manis dikursi sebelahku, kami pun mengikuti pelajaran demi pelajaran jam demi jam dengan baik.
Dan akhirnya Bel pulang sekolah pun di bunyikan,seperti biasa kita pulang naik sepeda.
"Kamu tunggu sini aja ya,aku ambil sepedanya dulu" dan seperti biasa Nabilah hanya tersenyum.
"Ayuk naik, sepedanya baru aku cat loh kemarin, nihh bagus kan??" tanyaku untuk menceriakan suasana.
"Iya bagus kok.." jawabnya dengan muka anggak gelisah.
"Ehm, kamu kenapa kok mukanya begitu?” tanya ku penasaran.
"Mmmmm, maaf ya soal kemarin.."
"Soal yang mana?" makin penasaran.
"Yang waktu itu aku dijemput pulang buat latihan shooting iklan, yang tentang JKT48, maaf ya aku nggak pernah cerita sama kamu, jadi aku sekarang pengen ceritain semuanya tentang JKT48.." Nabilah menyesali.
Aku hanya mengangguk dengan muka penasaran.

"Jadi JKT48 itu Idol Group, aku merupakan salah satu member dari Idol Group itu , aku waktu itu iseng-iseng mencoba ikut audisinya dan tidak ku sangka aku berhasil, aku diterima, aku di JKT48 kurang lebih sudah 1 tahun.." jawabnya gelisah.
"Ehem, ehem, terus?" tanya ku semakin besar penasaran ku karena seperti nya ada hal yang tidak enak.
"Di JKT48 itu ada suatu golden rules yang melarangkan para member JKT48 untuk berpacaran termasuk juga aku, dengan alasan untuk memfokuskan para member di jalan idol yang mereka jalanin.." terangnya dengan muka gelisah dan gugup.
"Ohh, begitu ya udah nggak papa kan, kan kita temenan bukan pacaran.." jawabku dengan ekspresi senang yang dibuat-buat.
Rasanya seperti ada petir yang menyambar ke arah hati ini, suasana yang tadinya cerita seceria bunga sakura yang akan mekar berubah menjadi kelam gulita. Yang tadinya ingin ku keluarkan semua perasaan ini yang telah kusimpan telah lama dihati ini ternyata akan terus menerus membangkai dan membusuk di hati ini.

"Bener nggak papa? Kok aku kayaknya ngerasa yang nggak enak disini ya, aku tahu perasaan kamu gimana, tapi maaf ya mau gimana lagi, aku tau kamu suka sama aku, aku sangat berterima kasih sama perasaan kamu. Aku janji suatu saat nanti aku akan balik lagi ke kamu, tapi entah kapan tetapi yang pasti aku akan kembali.."
"Lebay kamu! Udah ayo jalan.." kataku mirip seperti apa yang pernah ia katakana kepadaku. Sambil mengayuh sepeda, dengan hati yang sangat hancur.

~ END ~

Author : @adityamz


Read more: http://www.jkt48fans.com/2013/07/hanya-teman-biasa.html#ixzz2YKMBbglp